Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Kamu sakit?


__ADS_3

"Dek? Kamu belum jawab pertanyaan Abang loh. Kamu sakit? Hem? Wajahnya kok merah gini sih?" tanya Kenan lagi pada Bella yang kini tidak berani untuk menjawabnya.


Jangankan untuk menjawab pertanyaannya, menatap Kenan saja Bella tidak berani. Takut misi nya itu ketahuan.


Karena yang Bella tahu, senjata tempur milik Kenan akan sembuh jika sudah beraksi di palung surga miliknya.


Dokter sudah menyarankan itu padanya. Seketika ingatan itu melintas, lagi dan lagi Bella semakin panas saja.


Ia sudah tidak tahan lagi. Dengan cepat mendorong kursi hingga kursi itu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara gaduh di meja makan.


Kenan terkejut. Tetapi tidak dengan Kezia dan Kenta. Kedua orang itu menahan tawanya yang hampir menyembur keluar.


Kenan yang melihat Bella berlari menuju kamar atas dengan segera pun menyusulnya. Ia berlari mengejar Bella yang kini semakin cepat berlari.


Kezia dan Kenta saling pandang. Setelahnya mereka berdua tertawa bersama.


Buhahahahaha...


Keduanya tertawa terbahak saat melihat kakak ipar mereka lari terbirit-birit karena malu jika jawababnya itu memang benar adanya.

__ADS_1


Dulu, saat Kenan masih remaja. Remaja tanggung berumur dua belas tahun dan baru pertama kali mengalami mimpi basah, remaja itu pernah ke tendang burungnya itu oleh Kezia.


Dughh..


"Aaarrrkkk.. Kezia!!!!! Sakiiitttt.. Mamaaaaaa!!!" pekiknya begitu kuat.


Mereka saat itu sedang mengajari Kezia ilmu bela diri. Namun, siapa yang sangka jika tendangan pertama Kezia itu tepat mengenai burung Kenan.


Hingga pemuda itu meringkuk di rumput dengan tubuh bergetar menahan sakit.


"Ma-maaf abang! Adek nggak sengaja! Maaf.." lirihnya merasa bersalah


Kenta yang pada saat itu ada disana pun tertawa melihat Abangnya itu kesakitan akibat tendangan maut ala Kezia.


Masih teringat olehnya jika Kenan sampai sakit selama satu minggu karena tendangan itu. Sebenarnya bukan sakit apa. Sakit pikiran tepatnya.


Bocah remaja tanggung itu memikirkan nasib masa depannya saat ia mengingat pesan dari guru nya tentang alat produksi seorang pemuda itu harus di jaga baik-baik.


Jika sampai itu terjadi, maka tak ada satu pun wanita yang ingin mendekatinya lantaran senjata tempurnya itu sujud terus ke bumi.

__ADS_1


Dan kebetulan sekali, setelah tendangan dari Kezia itu, senjata tempur Kenan sempat tidak mengacung walau sudah dipancing dengan berbagai macam cara.


Jangan tanyakan caranya seperti apa. Yang jelas othor pun tak tau. 🤣 Yang tau itu hanya Kenan.


Kembali pada Kezia dan Kenta.


Keduanya masih tertawa terbahak hingga perutnya sakit.


Sedangkan Kenan saat ini sedang berusaha mengetuk pintu kamar mandi. Karena disanalah Bella saat ini berada.


Dor, dor, dor.


"Sayang! Bella! Buka pintunya! Kamu tidak apa-apa kan Dek? Buka pintunya sayang! Kamu ada apa? Kok lari gitu sih? Beneran kamu alergi? Kalau iya, keluar dulu biar Abang periksa. Sayang! Buka pintunya!" serunya lagi semakin gusar saja karena Bella tidak menyahuti ucapannya.


Sementara Bella di dalam sana sedang mencoba menghilangkan si piktor dari otak pintarnya.


"Ck. Haishhh.. Kenapa masih harus teringat sih dengan kejadian tadi malam? Apa sebaiknya aku jujur saja? Tapi... Ah. Nggak usahlah. Biarlah sebentar lagi. Saat ini pun ada Kezia dan Kenta 'kan dirumah ini? Otomatis mereka akan tau jika nantinya kami selama ini bersandiwara. Nggak etis dong, baru saja berbaikan tetapi udah basah aja ini rambut? Dan juga kami sangat-sangat romantis?? Ck. Tetapi kenapa sih punya bang Kenan besar kayak gitu ya? Muat nggak masuk ke punya ku? Hiii.. Huaaaa.. Maaakkk.. Adek takut sama senjata tempur Bang Kenan! Rudal Amerika! Huaaa.. Aaaaaaa..." pekiknya sambil mengacak-ngacak rambutnya yang memang sudah basah akibat cipratan air di dalam bath up itu.


Karena Bella sengaja memukul-mukulnya karena merasa gemas sendiri.

__ADS_1


__ADS_2