
Mereka berdua pun berpisah. Masing-masing memutuskan untuk mandi kamar lain. Setelah selesai baru keduanya sholat berjamaah bersama.
Selepas maghrib, Kenan berangkat kerumah sakit. Karena tadi siang ia menunda melakukan untuk operasi salah satu pasiennya.
Karena hal mendesak.
Ya, hal mendesak demi membuktikan perkataannya kepada sang istri.
"Abang pergi ya? Jaga diri. Kunci semua pintu. Nanti Abang masuk menggunakan kunci serap kita."
Bella tersenyum. "Tentu. Pergilah. Adek menunggu Abang dirumah. Semoga operasnya lancar ya?"
"Amiinn.. Walau bukan Abang sih yang melakukannya!" Kenan tergelak saat mengatakan hal itu.
Bella pun ikut tertawa. "Sama saja. Tanpa Abang disana, operasi itu tidak akan lengkap. Karena Abang yang lebih tau tentang kandungan wanita hamil itu,"
Kenan tersenyum, "Tentu. Assalamu'alaikum.. Cup." Kenan mengecup kening Bella sekilas
"Wa'alaikum salam.. Hati-hati!"
"Ya," sahut Kenan.
Ia pun segera melajukan motornya menuju kerumah sakit untuk melkaukn kegiatan operasi untuk seorang wanita yang akan melahirkan secara ceacar.
__ADS_1
*
*
*
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa hubungan suami istri itu sudah memasuki satu bulan semenjak kejadian dimana katrina menjebak Kenan hingga berujung mereka melakukan penyatuan untuk pertama kalinya, hari ini Katrina sedang menemui Kenan dengan wajah ceria dan begitu sumringah.
Ia berjalan dengan riang menuju keruangan Kenan. Saat ini merupakan waktu makan siang untuk mereka semua.
Dengan langkah riangnya ia memasuki ruangan Kenan.
Ceklek!
Deg!
Sesekali membuat Bella tertawa. Kenan mengecup pipi dan juga putik ranum milik sang istri dengan sangat lama.
Katrina mengepalkan kedua tangannya. Darahnya mendidih. Seolah kepalanya itu sudah mengeluarkan tanduk yang kini menyala dan ingin menubruk orang dengan tanduknya itu.
"Kenan!!!!"
Deg!
__ADS_1
Kedua orang yang sednag berpagut itu tersentak. Kenan melepaskan pagutannya dan melihat katrina dengan wajah malsnya.
"Ada apa?" tanya Kenan dengan dingin.
Katrina mendekatinya dan memukul meja kerja Kenan dengan kuat hingga menimbulkan suara gaduh diruangan itu.
Bella memejamkan kedua matanya. Kenan menggenggam tangan Bella dengan erat.
"Apa yang kamu lakukan huh?" sentaknya pada Kenan
"Ada apa maksudmu? Aneh kamu bertanya seperti itu! Ya wajarlah. Bella ini kan istriku?Lalu apa urusannya dengan mu?" balas Kenan
Katrina semakin meradang. "Kau...! Kau lupa huh tentang kejadian satu bulan yang lalu di rumahmu?!" pekiknya dengan suara melengking tinggi.
Kenan berdecak. "Aku tak pernah menyentuhmu! Itu semua suami kamu yang lakukan. Bukan aku!" balasnya
"Nggak! Aku nggak percaya! Saat itu kamu yang membawaku kerumahmu! Mana mungkin bisa Mas Bram!" katanya tak percaya.
"Kalau kau tidak percaya, panggil suami mu kemari. Biar suami kamu sendiri yang menjelaskannya kepadamu!" tegasnya sambil berlalu ke mejanya dan mengambil ponselnya.
"nggak! Aku nggak percaya! Itu kamu! Bukan Mas Bram! Kau harus tanggung jawab Kenan! Saat ini aku sedang hamil!" serunya semakin marah
Kenan terkekeh, "kamu ini aneh Katrina. Hamil malah minta tanggung jawab padaku. Minta tanggung jawab itu sama suami kamu! Kalu Bella yang hamil baru aku yang tanggung jawab karena ia istriku! Istri sah lahir dan batinku!" tekannya lagi pada katrina yang semakin menunjukkan kemarahannya pada Kenan.
__ADS_1