Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Obat


__ADS_3

Bella tidak menyahut, ia masih menunduk melihat kedua kakinya dan Kaki Kenan yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.


Kenan membuka pintu lemari baju miliknya dan mengambil satu buah kemeja berwarna yang sama dengan kemeja miliknya.


Kenan menutup kembali lemari itu dan segera mengambil baju yang ada di tangan Bella. Membuat gadis ayu mendongak melihatnya.


Tinggi tubuh Kenan sekitar 175 sedangkan Bella hanya 156 setara tinggi dengan tubuh Bunda Zizi yang kecil dan mungil.


Hingga ketika ia melihat Kenan, ia terpaksa mendongak. Kenan tersenyun lembut padanya. Tangan Kenan terus bergerak membuka kaca mata kuda yang masih tersampir di tubuh Bella dengan mata keduanya masih terus bertatapan.


Tangan kekar itu segera memakaikan baju kemeja di kedua tangan Bella yang kini ia pegangi satu persatu.


Kedua orang di depan pintu itu masih mematung melihat tingkah pasangan pengantin baru itu.


Sangat romantis.


Kezia sampai tersipu malu melihat keduanya. Sedangkan Mama Rani tersenyum. Ia senang melihat kedua orang itu bisa seromantis itu.


Sementara Kenan masih saja memakaikan baju kemeja nya di tubuh halus Bella dengan mata saling menatap dalam.


Tiba tangan Kenan ingin mengancingkan baju Bella, tak sengaja tangan Kenan menyentuh sesuatu yang lembut dan kenyal milik Bella.


Bella melotot, Kenan terkekeh, "Maaf.. Abang nggak sengaja. Beneran! Ehm.." ucap Kenan sengaja untuk mengalihkan perhatian Bella yang terus menatapnya dengan dalam.

__ADS_1


Setelah selesai, Kenan menuntun Bella untuk duduk di ranjang mereka kembali. "Masuk ma. Kamu juga Dek!" katanya pada dua orang yang kini terkejut karena ucapan Kenan baru saja.


Keduanya terkekeh, mereka pun masuk.


Tiba di dalam terlihat Kenan sedang berusaha menyanggul rambut hitam panjang milik Bella dengan tangannya.


Hal yang jarang ia lakukan pada adik bungsunya kini Kenan lakukan kepada Bella. Kezia mencebik.


"Giliran Kakak ipar, Abang pegang rambutnya! Giliran adek kecil dulu, saat ingin di ikat rambutnya sama Abang, Abang malah nyuruh Bang Kenta!" Ketus Kezia membuat Bella merasa tidak enak.


Tetapi apa yang bisa ia perbuat jika kedua tangannya tidak bisa di gerakkan karena langsung terasa ke punggungnya.


"Maaf dek.. Kakak nggak bisa ikat rambut sendiri. Jangan kan Rambut, memakai baju saja Abang yang pakaikan. Maaf..." lirih Bella merasa bersalah karena melihat wajah Masam Kezia pada Kenan.


Kezia merengut, "Masih ingat nggak kamu, setiap bangun tidur rambut kamu itu sudah terbuka dari kepangannya?" lanjut Kenan lagi tanpa melihat Kezia


Saat ini ia sedang menyuapi Bella makan dengan cara duduk dihadapan istrinya itu. "Rambut kamu itu Abang yang buka! Dan Abang juga yang menyisir nya saat kamu tertidur! Dan juga kepangan rambut dua belas itu hanya Abang yang bisa! Bahkan Mama pun tidak!"


Deg!


Kezia terkejut. "Sudah, jangan bertengkar! Suapi aja dulu Bella. Setelah makan, minum obat. Dan juga oleskan ini di di tempat yang memar tadi. Ya?" kenan mengangguk patuh, Bella tersenyum saja. " Kami keluar dulu. Ayo dek, kita keluar! Jangan suka membuat masalah kamu dek!" tegur Mama Rani pada Kezia yang membuat gadis itu semakin merengut masam.


Setelah keduanya turun, kini tinggallah Kenan dan Bella saja. Kenan terus menyuapi Bella hingga tersisa separuhnya.

__ADS_1


Kemudian Kenan mengambil obat dan meletakkan obat itu di tangan Bella. " Minum, barus setelahnya Abang oleskan ini di punggung kamu." katanya pada Bella


Bella hanya mengangguk saja. Sambil menunggu Bella minum obatnya, Kenan melahap habis nasi yang ada di piring khusus untuk Bella.


Bella yang sedang minum pun tersedak dan terbatuk melihat kelakuan Kenan yang melahap habis nasi yang ia suapi tadi ke mulutnya.


"Uhukk.. Uhukk.." Bella terbatuk-batuk.


Dengan cepat Kenan meletakkan piring di meja nakas, dan Kenan pun menepuk lembut pundak Bella.


"Pelan-pelan." tegurmya pada Bella yang masih saja terbatuk-batuk karena ulahnya.


Kenan pun mengambil gelas minuman yang ada di tangan Bella dan menenggaknya hingga tandas. Membuat Bella melongo dibuatnya.


Sementara Kenan tidak peduli. Ia dengan cepat duduk di belakang Bella dan menyingkap kemeja itu hingga terlihat lah tubuh putih mulus yang membuatnya panas dingin untuk yang kesekian kalinya.


Bella memejamkan matanya saat merasakan tangan hangat itu menyentuh luka di punggungnya yang lumayan sakit itu.


"Kamu unik dan spesial Dek. Jika orang lain membutuhkan obat untuk penyembuhan lukanya, tetapi tubuhku malah memilih mu untuk menjadi obat penyembuh untukku." Batin Kenan merasa bahagia.


Inilah obat yang selama ini Kenan cari untuk menyembuhkan rahasianya itu.


Gimana? Masih mau lanjut?

__ADS_1


__ADS_2