Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Jawaban Kenan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Bella sedari jam tujuh pagi sudah pergi kerumah sakit Dimas. Calon adik ipar Kenan. Dengan ditemani Mama Rani, mereka berdua pergi bersama dengan menggunakan motor.


Bella hanya sebentar saja. Pukul sembilan sudah pulang. setela sesi pengenalan disana selesai. Belum lagi kedua mertuanya itu akan pulang jam sepuluh nanti.


Papa Reza dan Kenan saat ini sedang duduk di ruang tamu rumah Kenan. Suasana yang tepat untuk mereka berdua berbicara karena kedua wanita dirumah itu sedang tidak ada dirumah.


"Papa tidak akan mengulang pertanyaan untuk yang kedua kalinya. Papa menunggu jawaban mu Kenan!" tegas Papa Reza pada Kenan yang kini sedang menatap datar pada nya.


Sedari tadi malam, Kenan sudah memikirkan jawabannya apa. Sampa ia pun kurang tidur demi memberi jawaban yang tepat untuk sang Papa dengan keputusannya.


Keputusan yang terpaksa ia putuskan sementara dirinya sangat sulit untuk memilih.


"Jawab Kenan! Waktu terus berjalan, sebentar lagi mereka berdua akan pulang." Tegasnya lagi pada Kenan yang kini sedang menghirup nafas dalam-dalam.


Kenan sudah memikirkan ini. Apapun resikonya ia akan terima semuanya.


"Jika jawaban ini bisa memuaskan Papa maka akan ku jawab. Tetapi, Papa tidak berhak mengatur ataupun melarang apapun yang menjadi keputusan ku!" tegas kenan masih dengan wajah datar pada Papa Reza


Beliau berdecih. "Jawab saja dulu. Jawaban mu ini merupakan penentu hidupmu di dalam rumah tangga mu bersama Bella." Tegasnya lagi tetapi dengan nada mencibir Kenan.

__ADS_1


Kenan tidak peduli. Baginya, keputusannya sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat karena ia memiliki jawaban dari setiap keputusan yang di ambil nya itu.


"Aku akan tetap meneruskan rumah tangga ku bersama Bella. Dan untuk rumah ini, Papa tidak usah khawatir. Rumah ini sudah ku beli sejak dua tahun yang lalu!"


Deg!


Papa Reza terkejut. "Apa maksudmu? Jangan membodohi Papa Kenan!" serunya dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


Kenan tetap sama, menatap serius pada pria yang saat ini menatpanya dengan wajah terkejut.


"Maksudku sangat jelas Papa. Rumah ini sudah menjadi milikku sejak dua tahun yang lalu sebelum Tuan Daud pulang ke Medan untuk tetap mengurusi rumah sakitnya disana dan juga istri kedua nya yang saat ini sedang terlibat kasus pembunuhan." Jawab Kenan masih dengan tenang.


"Nggak! Papa nggak percaya! Bisa saja 'kan kamu membohongi Papa?"


"Buat apa aku berbohong? Tidak ada untungnya juga bagiku kalau berbohong jika rumah ini memanglah rumah ku!" tegas Kenan lagi yang semakin membuat pria paruh baya itu meradang.


"Kalau benar ini rumahmu, mana buktinya?" tantang Papa Reza pada Kenan.


Dengan segera kenan mengelurkan map berwarna coklat dan ia letakkan di atas meja di hadapan sang Papa yang membuat pria paruh baya itu tertegun dengan surat itu.


AKTA JUAL BELI TANAH DAN RUMAH

__ADS_1


Beliau tergugu. Tidak tau harus berkata apapun. Sementara Kenan menarik sedikit ujung bibirnya membentuk senyum tipis.


"Dan ya, untuk jawaban ku tadi belum sepenuhnya aku jawab. Aku memang tidak akan meceraikan Bella tetapi aku juga tidak bisa menjauhi Katrina! Karena aku membutuhkan keduanya!"


Deg!


Deg!


Belum selesai dengan rasa terkejutnya, Papa Reza sudah dibuat terkejut lagi oleh jawaban Kenan yang menyulut emosi di dalam diri tuanya.


"Apa maksudmu? Kau ingin bersama Bella tetapi juga wanita itu?! Huh?!"


"Ya, aku menginginkan keduanya! Aku menginginkan Bella sebagai istriku! Dan aku juga membutuhkan Ktrina untuk hidupku!"


Dddduuaaarrr....


Dua orang wanita diluar sana berdiri mematung mendenagr ucapan Kenan. Terutama Bella. Ia begitu terkejut mendengar semua ucapan Kenan.


Ya, Bella dan Mama Rani. Saat mereka tiba dirumah tadi sudah terdengar suara lengkingan Papa Reza yang begitu keras dari dalam rumah itu.


Secepat mungkin keduanya berjalan hingga menuju ke depan pintu dan mendengar semua ucapan Kenan tentang nya dan juga wanita yang bernama Katrina itu.

__ADS_1


__ADS_2