
"Dek?" panggil Kenan lagi pada Bella
Tetapi Bella tetap tidak menjawabnya. Karena di dalam hatinya saat ini sedang merutuki wajahnya yang tidak tau tempat langsung saja memerah karena ucapan Kenan yang spontan saja membuat Bella menjadi malu.
"Bella.. Abang minta maaf. Tadi itu, gimana ya ngomongnya?" ucap Kenan kebingungan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Ada apa?" tanya Bella setelahnya.
Ia merasa lega jika saat ini hati dan pikirannya sudah sejalan. Tidak seperti tadi. Masih mengingat kejadian panas subuh tadi.
Kenan semakin merasa tidak enak sama Bella. "Gimana ya ngomongnya? Abang bingung. Takutnya dikira Abang bohong. Tetapi semua yang Abang alami itu seperti nyata Dek!" katanya pada Bella yang kini masih menatapnya.
"Memangnya, kejadian apa yang Abang alami? Wanita mana yang membuat Abang terkuras tenaga? Abang si Katro itu datang kerumah subuh ini? Tetapi darimana dia masuknya? Sedang rumah ini udah aku kunci tadi malam? Kayaknya nggak mungkin deh!" katanya sengaja memancing Kenan untuk jujur padanya.
Bella merutuki lidahnya yang bertanya demikian kepada Kenan. Keduanya begitu canggung saat ini.
Dasar mulit durjana! Haishh.. Mau lah malu lagi ini! Hiks.. Maaaaakkk...
__ADS_1
Batin Bella bergejolak.
Kenan jadi salah tingkah saat pertanyaan Bella itu membuatnya gelagapan. "Emm..i-itu Dek. Su-sudah dua kali ini Abang mimpi basah. Kamu tau kan ya mimpi basah bagi seorang lelaki?"
Bella mengangguk.
"Nah itu dia sayang. Di dalam mimpi itu, Abang merasakan jika kamulah yang sedang Abang cumbui. Emm.. Sampai kita i-itu.." ucapnya tergagap karena malu.
Bella pun jadi ikutan malu. "Sudah jangan dibahas lagi. Aku nggak pa pa kok. Ayo, kita sarapan! Nanti Abang telat lagi ke rumah sakitnya." Ucap Bella sengaja memotong ucapan Kenan tentang kejadian tadi malam yang masih hangat-hangatnya untuk mereka berdua ingat.
Sepanjang sarapan lagi itu, mereka berdua tidak bersuara. Hanya terdengar suara sendok dan garpu saja.
Hingga sarapan itu selesai, mereka berdua masih saling berdiaman.
Keduanya pun segera melaju kerumah sakit. Sampai disana pun, mereka berdua tetap sama. Bella yang malu sama Kenan dan Kenan pun demikian.
Sangat terlihat jelas di wajah keduanya. Dokter Katrina bisa melihatnya. Ia tau betul seperti apa orang yang sedang malu dan salah tingkah seperti kedua prang itu.
__ADS_1
Ia mengepalkan kedua tangannya, ''Ternyata kalian berdua sudah terlalu jauh, heh? Baik. Akan ku tunjukkan apa itu artinya kepemilikan yang sesungguhnya kepadamu, curut Bella! Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku! Jangan panggil aku Katrina jika aku tudak bisa menghancurjan kalian berdua!'' geramnya degan segera berlalu dan pergi meninggalkan sepasang suami istri yang kini masih saja malu akibat perbuatan tadi malam dan tadi pagi.
Malam harinya.
Bella sudah pulang terlebuh dahulu sebelum Kenan. Ia berharap, malam ini tifak akan melihat Kenan yang akan membuatnya merasa malu.
Sebagai seorang wanita, ia tidak mynafik menginginkan gal itu. Seperti pasangan lainnya. Tetapi untuk hubungan mereka saat ini, itu tidak mungkin untuk keduanya.
Jika Kenan sudah berjanji akan menyentuh Bella disaat ia sembuh, tetapi berbeda dengan Bella. Bella ingin di pergauli oleh Kenan dengan baik. Sama seperti istri lainnya.
Tetapi itu tidak mungkin.
Mengingat pernikahan itu hanya sandiwara bagi keduanya, membuat Bella sadar diri. Ia tidak mungkin meminta lebih pada Kenan.
Walaupun sebenarnya Kenan sudah mengatakan keinginannya. Tetap saja masih belum bisa Bella terima.
Ia ingin menunggu sampai Kenan sembuh dulu dan pemuda itu sendirilah yang memintanya.
__ADS_1
"Maafkan adek, Bang Kenan. Adek terpaksa melakukan semua ini demi kesembuhan dirimu. Adek sudah berkonsultasi dengan dokter khusus. Adek sudah mencari tau tentang penyakitmu. Maka dari itu Adek sengaja melakukan semua ini. Kenapa? Karena Aku mencintaimu, suamiku. Bukankah sudah Adek bilang dulu, jangan salahkan hati ini terpaut dan terpikat padamu. Bukan karena pesonamu. Tetapi memang sedari kecil dulu hati ini sudah menjadi milikmu. Andai kamu tau, Bang Kenan.." lirih Bella di dalam hatinya.