Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Bertemu Ayah Emil


__ADS_3

Masih di Alam lain.


"Kenapa Abang bertanya seperti itu? Apakah berencana ingin meninggalkan ku segelah sadar nanti?" tanya Bella pada Kenan yang kini tersenyum melihatnya.


Wajah Bella mendafak jutek karena tingkah Kenan. "Kamu masih ingat tidak tentang janji kamu sama Abang?"


Bella tidak menjawab, ia malah melengis ke arah lain. Kenan terkekeh, "Sayang.."


"Nggak!" sahutnya galak


"Istriku.. Cintaku.. Sayangku..." godanya lagi


Bella semakin kesal saja. "Iya adek ingat! Puas!" ketusnya dengan segera berlalu namun kaki itu terpaku di tempat saat merasakan sakit di perutnya.


Bella memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa sakit yang saat ini ia rasa di perut bagian bawahnya.


Bella meraba perut datarnya. "Anakku.." lirihnya dengan mata terpejam


Kenan mendongak melihat padanya. Ia ingin bangkit tapi urung saat melihat seorang lelaki paruh baya yang tidak ia kenal menuju ke arahnya dengan senyum teduhnya.


Sedang Bella masih saja terpejam. Lelaki paruh baya itu tersenyum lembut pada Bella dan juga Kenan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Nak? Sayang ayah?"


Deg!


Deg!


Bella terkejut, sontak saja kedua mata itu terbuka dan..


"A-ayah!!" serunya tergagap.


Ayah Emil tersenyum lembut padanya. "Iya sayang. Ini Ayah. Apa kabar Nak?" tanya nya pada Bella yang kini menganga melihat sang Ayah yang sudah begitu lama pergi kini terlihat nyata di depan matanya.


Bella mengerjabkan matanya berulang kali berharap itu hanya mimpi. Kenan oun demikian. Ia pun terkejut melihat kehadiran Ayah mertuanya yang sudah lama tiada itu.


"Iya Nak. Ini Ayah. Ayah datang karena Bella sangat merindukan Ayah. Oleh karena nya Ayah menghampiri kalian berdua untuk menjenguk putri kecil Ayah nan cantik ini!" jawabnya sambil menoel hidung Bella.


Kebiasaan yang sering beliau lakukan saat Bella masih kecil dulu. Bella menatap Ayah Emil dengan dalam.


Mata itu berkaca-kaca.


"Sayang.. Putriku.. Buah hatiku.."

__ADS_1


Grep!


Bella menubruk Ayah Emil.


Di dunia nyata, Bella tersentak tubuhnya. Seorang suster yang melihat itu terkejut. Ia terus melihat keadaan Bella. Tetapi tidak terjadi lagi. Ia pun kembali melanjutkan tugasnya membersihkan tubuh Bella dengan washlap.


Kembali di alam lain.


Bella tersedu dipekukan Ayah Emil. Beliau memeluknya dengan erat. Kenan oun ikut menitikkan air matanya.


Ia pun ikut merasakan seperti apa yang Bella rasakan saat ini.


"Sudah.. Ssstt.. Jangan menangis ah. Ayah datang sesuai dengan keinginan mu. Ayah kembali sebentar saja. Waktu Ayah sangat terbatas sayang. Untuk itu, mati kita bicara." Katanya pada Bella yang kini tidak ingin sekalipun melepaskan pelukannya dari tubuh Sang Ayah.


"Hiks.. A-ayah.. Adek rindu Ayah.. Hiks.. Adek kangen Ayah.. Hiks.. Adek ingin Ayah bersama kita! Hiks.. Jangan pergi lagi.. Hiks.. Hiks.." Bella terisak dipelukan Ayah Emil yang kini tersenyum teduh padanya.


"Ayah tetap bersama mu Nak. Tetapi Ayah tidak bisa kembali bersama mu kedunia.."


Bella mengurai pelukannya, "Tapi kenapa? Hiks.. Kenapa nggak bisa?!" tanya masih dengan wajah basah air mata.


Ayah Emil mengusap buliran bening yang semakin deras mengalir di pipi tuan putrinya itu. "Karena alam kita sudah berbeda Nak. Kamu masih di dunia nyata. Seng Ayah sudah di alam lain.. Ayah sudah lama meninggalkan dunia saat Kakak kamu, Annisa menikah ulang untuk yang kedua kalinya dulu. Kamu masih ingatkan?? Ayah yakin kamu belum lupa sayang!"

__ADS_1


Bella tergugu.


__ADS_2