
Keduanya menangis bersama. "Ya allah Bang.. Ternyata Allah masih memberikan amanah ini kepada kita. Allahumma sholli 'ala muhammad wa'ala ali muhammad.." Ucap Bella sambil memeluk Kenan dengan erat.
"Iya sayang. Allah masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa memiliki momongan. Karena Allah tau, jika kita sudah siap untuk menjadi orang tua. Terkadang orang selalu mengatakan jika Allah itu sengaja tidak memberikan amanah kepada kita karena tidak berhak. Bukan seperti itu. Allah tau dan sangat tau kepada siapa dan apa yang akan ia anugerahkan kepada ummatnya. Salah satunya kita. Allah tau inilah waktunya untuk kita. Kita sudah mampu dan sanggup untuk mendidik anak-anak kita kelak."
"Kadang kala banyak orang yang suka sekali menghujat karena tidak bisa memiliki momongan. Padahal mereka tidak tau saja jika kita sudah berusaha semampu kita untuk menghadirkannya kedunia ini."
Bella tersenyum walau air mata beruraian. "Biarkan saja orang bicara apa Bang. Mereka itu tidak tau saja jika Allah sudah menitipkan amanahnya kepada mereka, mereka pikir itu rejeki. Benar itu rejeki. Tetapi rejeki itu berupa amanah yang dititipkan kepada kita agar kita bisa mendididknya menjadi yang Allah perintahkan. Dan saat tibanya kelak, kita akan diambil kembali olehnya. Mereka pikir itu hal yang biasa. Padahal sebenarnya jika paham tentang makna amanah itu sendiri seperti apa, maka kita harus menanam kata sabar dan ikhals di dalam hati kita!" jelas Bella
Kenan mengangguk, "benar sayang. Dan Abang sebagai suami yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah mengucapkan terimakasih karena kamu sudah mau menerima diri ini yang serba kekurangan. Belum lagi masa lalu Abang yang begitu buruk. Hanya karena ingin menyembuhkan penyakit ini, Abang sampai rela berbuat hal tidak baik kepada mereka. Semoga kelak, anak kita tidak mewarisi jejak Abang yang kotor. Jika itu sampai terjadi, Abang telah gagal menjadi orang tua. Karena hal buruk yang pernah Abang lakukan dulu berimbas kepada anak-anak kita nantinya."
"Insyaallah tidak akan. Itu lah guna nya ilmu. Sejak dini kita harus menanamkan ilmu kebaikan kepada anak kita. Belum lagi pengalaman hidup kita ceritakan kepada anak kita. Agar kelak, semua itu menjadi pedoman untuk hidupnya di masa depan. Abang tidak usah takut tentang itu. Mari kita bersama mendididk anak-anak kita menjadi seperti yang Allah perintahkan tetapi bukan seperti yang kita inginkan." Ujar Bella membuat Kenan semakin erat memeluk tubuh Chubby Bella yang semakin berisi.
"Pantas saja Abang sampai heran dengan perubahan kamu. Makan banyak. Sukanya ngomel-ngomel sama Abang. Dan lagi.. Ini melon kan makin besar??" goda Kenan saat menyentuh pabrik susu sang anak nantinya.
Plak.
Kenan tergelak.
Ia sangat suak menggoda Bella seperti itu. "Sebaikanya kita bersiap. Kita harus segera ke tempat wisuda Kezia. Karena ia akan segera menikah setelah acara kelulusan ini selesai. Semoga Dimas tidak salah kaprah dalam melakukan prank ini. Jika sedikit saja salah, maka akan berakibat fatal pada pernikahannya kelak. Abang sangat tau seperti apa Kezia."
__ADS_1
Bella mengurai pelukannya. "Semoga saja tidak. Ayo, kita harus mengabarkan hal ini kepada keluarga besar kita."
Kenan tersenyum. Tetapi belum lagi Bella pergi, ia sudah menarik kembali tangan Bella dan kembali menubruk dadanya.
Cup.
Kenan mengecup Keningnya lumayan lama. Setelahnya, kedua mata, pipi, hidung dan terakhir putik ranum yang selalu menjadi candu untuknya.
Setelah selesai Kenan menyatukan dahinya dan Bella dengan nafas memburu, ia tersenyum melihat pujaan hatinya yang kini wajahnya merah merona karena kecupannya baru saja.
Inilah yang selalu terjadi padanya. Setiap kali Kenan mengecup putik ranum miliknya. "Terimakasih, karena kamu masih bersedia menjadi istri Abang walau kamu tau pernikahan ini dulunya hanya sebuah sandiwara agar Abang terbebas dari gadis yang dulu mencoba ingin menjebak Abang."
"Apa itu? Boleh Abang tau sayangku?"
Bella terkekeh, "Tentu suamiku. Tidak ada rahasia diantara kita berdua. Aku tak tau apa yang terjadi dengan diriku. Tetapi.. Satu hal yang aku tau, bahwa kehadiran mu selama beberapa hari ini sudah mengusik hatiku yang dulunya beku dan tidak peduli dengan makhluk berjenis kelamin lelaki. Kini aku menyadarinya. Maaf.. Saat kepergian mu pun aku memberikan wajah datar dan diam ku. Aku bingung. Tidak tau harus berbuat apa tentang ini. Sungguh, semua ini begitu mengejutkan ku.
Baru sekali bertemu sudah mengajakku untuk menikah. Pernikahan yang dilandaskan dengan sandiwara. Sandiwara Cinta yang sengaja kau buat untuk menutupi kesalahanmu. Tetapi diriku? Bagaimana jika suatu saat aku malah mencintaimu? Akankah pernikahan ini akan terus berjalan seperti pernikahan saudaraku yang lainnya?
Ataukah kita akan berpisah suatu saat nanti? Entahlah. Aku pun tak tau. Yang jelas untuk saat ini, aku akan mengikuti arus air. Kemana pun ia membawaku, maka aku akan mengikutinya. Aku akan berhenti dimana tempat terakhirku berlabuh nantinya.
__ADS_1
Apakah itu dengan mu ataupun bukan, aku pasrahkan semuanya pada takdir. Karena keputusan takdir tidak bisa di ganggu gugat lagi. Aku akan menunggu mu Bang Kenan...
Dan kamu merupakan tempat terakhir hati ini berlabuh suamiku. Terimakasih karena mau menerima gadis berwajah datar dan jutek ini saat pertama kali bertemu.
Pernikahan kita murni sejak kita menikah. Bukanlah sandiwara. Sandiwara yang terpaksa kita lakukan lantaran kamu meiliki rahasia yang kini sudah selesai.
Dan ya, sandiwara ini telah berubah menjadi cinta. Pernikahan kita bukanlah sandiwara melainkan cinta yang sudah lama kini kembali lagi.
Aku menerima kelebihan dan kekurangan yang ada padamu suamiku. Semoga kita bisa bersama mencapai surga Nya Allah SWT kelak."
"Amiiinn.. Sandiwara Cinta kita sudah berakhir dengan menyatunya kita dalam mahligai rumah tangga yang sebenarnya. Abang sangat mencintai mu Mirabella. Sangat mencintaimu."
"Begitu pun dengan ku Bang Kenan. Aku pun lebih dan lebih mencintaimu karena Allah lah yang mengirimkan mu untuk menjadi pembimbing ku menuju ke surga Nya Allah."
"Terimakasih sayang.."
"Sama-sama suamiku.."
TAMAT..
__ADS_1