
Jika itu Fobia darah, ketinggian, kucing itu sudah biasa untuk kita dengar. Tetapi ini Fobia cicak? Ada kali ya? Ada dong.
Kenan dan Bella contohnya.
Mereka berdua sangat takut sama cicak. Seorang lulusan dokter tetapi takut cicak? Tapi inilah kenyatannya.
Ketakutan Fobia merupakan kondisi keterbatasan karena dorongan kecemasan dan ketakutan akan sesuatu. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat orang yang mengidapnya. Fobia dapat membatasi keberadaan ruang gerak seseorang melalui rasa cemas dan takut.
Menyebabkan
Fobia adalah perasaan takut berlebihan yang dirasakan seseorang terhadap situasi atau objek tertentu. Ketakutan berlebihan ini tidak jarang menyebabkan depresi, kecemasan, dan kepanikan yang parah.
Dampak
Dampak fobia dapat berkisar dari mengganggu hingga sangat melumpuhkan. Pengidapnya sering menyadari ketakutan mereka tidak rasional, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Hal ini tentu dapat mengganggu pekerjaan, sekolah, dan hubungan pribadi.
Sumber : Wikipedia, Google
Inilah yang saat ini kedua anak manusia itu alami. Keduanya saat ini saling berpelukan dengan tubuh bergetar hebat.
Tidak tau ingin mendeskripsikan ini seperti apa. Yang jelas ketakutan ini begitu luar biasa. Beruntungnya mereka berdua.
Entahlah jika sendiri.
Saat ini keduanya masih saling berpelukan. Tubuh keduanya bergetar hebat. Tidak ada yang bisa menolong mereka saat ini.
Sebenarnya fobia cicak ini sudah berangsur sembuh karena mereka sering menjalani terapi. Tetapi kambuh lagi saat melihat dan menyaksikannya sendiri.
Ada kenangan buruk bagi mereka berdua hingga keduanya begitu takut dengan cicak. Pernah keduanya mengalami kecelakaan tragis yang disebabkan oleh cicak ini sendiri.
Makanya mereka seperti trauma jika melihat cicak lagi. Jika dulu, Kenan sering berteriak histeris, kali ini tidak sama sekali.
Aroma dan sentuhan kulit halus Bella menjadi obat penenang untuknya. Begitu pun dengan Bella.
Bella seakan kembali ke masa dua belas tahun silam dimana dirinya yang terkejut dengan cicak hingga menyebabkan diri nya kecelakan dan di selamatkan oleh seorang pemuda.
Pemuda yang sama seperti dalam bayangannya. Pemuda tampan yang dulu pernah menyelamatkannya.
Tubuh dan harum yang sama. Bahakn detak jantung itu pun sama. Bella tertegun sejenak. Setelh ia sadar, Bella mengurai sedikit dekapan itu dan menatap kenan denagn dalam.
Wajah tampan yang dipenuhi dengan keringat dingin. Wajah yang sama saat dulu pernah menolongnya.
__ADS_1
Dekapan, hangat tubuhnya dan juga harum nafas yang sangat Bella sukai walau sebenarnya saat itu ia dibawah alam sadar.
Tetapi Bella masih mengingat semua itu.
Ya. Pemuda yang sama yang pernah menyelamatkannya.
Pemuda yang rela menaruhkan nyawanya hanya demi seorang Bella kecil yang saat itu hampir teggelam disungai di daerah tempat tinggalnya.
Bella tergugu.
Buliran bening itu mengalir di pipi halusnya. "Hiks.. Bang Ke..."
Deg!
Deg!
Klep, klep, klep.
Mata tajam nan tampan itu terbuka. Pertama kali yang Kenan lihat ialah wajah Bella yang basah air mata karena melihatnya.
"Hiks.. Bang Ke.."
Jantung Kenan berdegup tidak karuan saat Bella memanggilnya dengan nama itu. Nama yang mengingatkannya pada seorang gadis kecil yang pernah ia selamatkan saat akan tenggelam di sungai.
Deg!
Deg!
"Gataci?? Kamu Gataci??" tanya Kenan saat melihat Bella yang tersedu dipelukan nya dengan wajah basah air mata.
"Bang Ke!!"
"Gataci!"
"Bang Kai!!!"
"Ga ta ci!!"
"Ihhh.. Bantuin ihh! Susah ini bangunnya?! Mana rambut aku basah dan terbuka- Astghfirullah! HIjabku!!!" pekik Bella kecil mencari Hijab nya yang sudah hanyut entah kemana.
Sementara pemuda yang dipanggil bang Ke itu mendengus tak suka dengan gadis kecil di hadapannya saat ini karena ia sibuk sendiri mencari hijab nya yang hilang.
__ADS_1
Ia lantas pergi tetapi berhenti saat Bella kecil memanggil namanya dengan nama itu lagi.
"Bang Ke!!!! Bantuin ih!"
Ia mendengus kasar. "Nggak mau aku! Cari saja sendiri! Masih untung aku menyelamatkan kamu!" ketusnya dengan segera berlalu meninggalkan Bella kecil yang saat ini kepayahan mengejainya karena baju gamis miliknya berat karena basah.
"Bantuin Bang Kai!!"
"Tai!!!" ketusnya semakin membuat Bella kecil kesal bukan bukan main.
Kilasan bayangan itu terus menari di pelupuk kedua mata insan yang saat ini sedang saling tatap dengan wajah basah air mata.
"Bang Ke.."
"Tai.."
Bella mendelik. Ia memukul dada Kenan karena kesal. "ih, Kok tai sih?!"
Kenan tertawa. "Lahhh.. 'kan memang benar dulu Abang manggil kamu tai???"
Plak!
Buahahaha...
Kenan tertawa sarkas melihat wajah Bella merengut masam. Kenan memeluknya semakin erat.
Bahkan sangat erat. "Kita berjumpa lagi dek!" seloroh Kenan lagi.
"Udah ah! masa' iya sedari dulu hingga sekarang Abang nggak pernah berubah manggil aku tai? Memang aku kotoran apa?!" ketus Bella ingin beranjak pergi.
"Mau kemana?"
"Ck. Mau masak lah! Emang Abang pikir mau ngapain lagi?p!" ketus Bella lagi masih dalam pelukan hangat Kenan.
"Biarkan sepert ini sebentar saja, sayang.. Abang kangen saat kita bertengkar dulu. Waktu yang tidak bisa Abang lupakan hingga kecelakan waktu itu.."
Bella mendongak melihat Kenan. "Kecelakan?? Kecelakaan apa??"
"Kecelakaan yang menyebabkan Abang mati rasa hingga saat ini!"
Deg!
__ADS_1