
Selesai dengan pengumuman tentang dirinya, Dimas dan Papa Rian mengikuti Pak Hartono untuk keruangan Direktur yang sesungguhnya. Untuk menandatangani berkas kepemilikan rumah sakit sang ibu yang di wariskan kepada nya.
Kenan yang tadi terus melihat ke arah Dimas pun mengikutinya hingga ia pun ikut masuk ke dalam ruangan Direktur yang baru.
Pak Hartono terkejut melihat Kenan yang masuk tanpa permisi keruangan itu. ''Sedang apa Anda disini Dokter Kenan?" tegurnya pada Kenan yang sedari tadi menatap Dimas dengan terkejut hingga ia mengikuti kemana arah calon adik iparnya itu.
Tadi, setelah pertemuan nya dengan Fahri, sahabatnya. Kenan kembali masuk kerumah sakit dimana ia mengambil jurusan spesialisnya.
Sementara Dimas terkejut mendengar suara Pak Hartono memanggil nama Kenan. Ia yang baru saja membuka berkasnya untuk segera ia tanda tangani malah terkejut dengan teguran Pak Hartono untuk seseorang.
Begitu pun dengan Papa Rian. Mereka berdua terkejut saat melihat Kenan ada disana. "Bang Kenan? Kamu dirumah sakit ini juga?" tanya Dimas pada Kenan
Yang kini sedang mematung melihat Dimas dan Papa Rian. Pak Hartono menoleh pada Dimas.
"Kamu kenal dengan Dokter Kenan, Nak?" tanya Pak Hartono
__ADS_1
Dimas tersenyum dan mengangguk. "Duduk dulu Pak, Papa juga. Ayo Bang. Duduk sini." Katanya pada Kenan yang saat ini masih terkejut.
Dimas mendekati Kenan dan membawa nya duduk disampingnya. "Dokter Kenan ini Calon Abang ipar saya, Pak. Adik bungsu nya lah yang akan menikah dengan saya. Kami sudah di tunangkan sedari kami masih dalam kandungan dulunya." Jelas Dimas membuat Pak Hartono mengangguk.
Kini Dimas menoleh pada Kenan. "Abang ambil spesialisnya disini? Aku kira dirumah sakit lain!" seloroh Dimas dengan sedikit tertawa.
Kenan menghela nafasnya. "Benar. Dokter Kenan ini dokter terbaik di jajaran Dokter kandungan lainnya. Ia sangat mudah dan cepat memajami setiap materi yang di ajarkan kepadanya. Bukankah Anda saat ini sedang bekerja di sebuah rumah sakit, Dokter?" tanya Pak Hartono pada Kenan hingga membuat suami Bella itu mengangguk dan tersenyum kepada mereka semua.
Dimas sangat takjub. "Benarkah? Kalau begitu, aku akan memberikan salah satu rumah sakit ku untuk Abang pimpin! Aku pun akan sibuk setelah ini. Bagaimana?" tanya Dimas membuat Pak Hartono dan Papa Rian terkejut.
Dimas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedang Kenan hanya bisa terdiam dwngn mata terus menatap pada Dimas.
"Bagaimana Bang? Abang mau?" tanya Dimas lagi.
Kenan menggeleng. "Maaf Mas. Bukan Abang nggak mau. Tetapi Abang rasa.. Tampuk kepempinan itu memang harus kamu yang memegangnya. Abang bukan siapa-siapa di dalam keluarga kamu. Kita hanya terikat karena adik bungsu Abang akan menikah dengan mu. Jadi.. Maaf.. Abang tidak bisa. Abang hanya terkejut tadi saat mendengar dan melihat kamu diruang rapat. Karena setahu Abang. Pak Hartono lah pemimpin rumah sakit ini. Tetapi tak apa. Abang kaget aja tadi." Ucap Kenan membuat Dimas terdiam.
__ADS_1
Dianya yang tadi sangat bersemangat malah menjadi lesu seketika. Tawaran yang menggiurkan tetapi Kenan menolaknya secara terang-terangan.
Dimas mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. Senyuman bangga terhadap Abang ipar nya ini. Eh, calon Maksudnya.
Senyuman yang mengartikan jika ia tidak akan salah pilih orang kepercayaan setelah Kezia. Calon istrinya.
"Pak Hartono, Papa. Aku akan mengangkat Dokter Kenan menjadi wakilku di empat rumah sakit yang akan aku pimpin! Aku yakin dia bisa. Pak Hartono Dan Papa cukup memantau saja pekerjaan kami. Dan untuk Anda Dokter Kenan. Saya mengangkat Anda untuk menjadi wakil saya di empat rumah sakit yang akan saya pimpin setelah saya menanda tangani berkas ke kepemilikan rumah sakit ini. Tunggu sebentar!" ucapnya membuat Kenan sangat terkejut.
Wajah itu begitu shock dengan apa yang baru saja ia dengar dengan sangat jelas. Kenan mengikuti kemana langkah Dimas yang kini sedang mengambil empat berkas yang tertutup map kuning emas yang masih sangat cerah warnanya padahal sudah puluhan tahun tersimpan.
Dimas membawa berkas itu dan duduk disamping Kenan kembali. Dengan segera Dimas menandatangi berkas itu dengan pena berwarna emas juga.
Setelah selesai dengan namanya, kini Dimas sedang menulis nama Kenan sebagai wakilnya. Kenan semakin terkejut lagi. Ia menggeleng cepat.
"Maaf Mas. Abang menolak kepemimpinan ini. Abang tidak pantas untuk menjadi wakilmu. Bagaimana bisa kamu langsung saja memberikan kursi itu padaku sementara kamu belum begitu mengenalku! Apakah kamu tidak takut nantinya kalau rumah sakit mu ini akan aku jual? Atau akan bermasalah karena diriku? Maaf Mas. Abang nggak bisa terima! Saya permisi dan maaf mengganggu kalian bertiga!" tegasnya dengan segera berlalu meninggalkan Dimas yang kini semakin tersenyum lebar saat mendengar serentetan ucapan calon abang iparnya itu.
__ADS_1