
"Saya titip motor gadis ini disini, pak. Saya dokter. Tenang saja. Saya akan membawanya kerumah sakit terdekat saat ini. Ini kartu nama saya. Tolong diperbaiki apa saja yang rusak. Jika tidak bisa lagi, katakan saja. Biar itu menjadi urusan saya!" katanya pada salah satu mekanik bengkel di seberang jalan pertigaan itu.
"Baik, Tuan. Saya bawa ya motor nya?"
"Silahkan!" sahutnya dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke mobil dimana ada dua orang yang saat ini harus ia tangani terlebih dahulu.
Orang itu menghela nafasnya.
Dengan segera ia melajukan mobil itu kerumah sakit terdekat untuk mengobati luka pada korban kecelakaan nya itu.
Cukup lima belas menit saja ia sudah tiba dirumah sakit yang di tuju. Yaitu rumah sakit dimana Bella menuntut ilmu dan juga Kenan yang menjadi sebagai wakilnya Dimas.
Orang itu segera berlari memanggil empat orang perawat untuk mengangkat Bella dan juga Mang Udin yang saat ini pingsan karena takut darah.
Bella langsung saja dilarikan ke IGD agar Bella bisa ditangani. Beliau yang merupakan seorang dokter pun ikut masuk.
Tetapi alangkah terkejutnya ia saat melihat gadis yang ia tabrak dan menabraknya itu adalah seseorang yang ia kenal.
"Bella? Ini beneran Bella? Mahasiswa berprestasi di Medan sana yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya di Jakarta?" gumamnya dalam hati
__ADS_1
Orang itu melihat perawat membersihkan lukanya yang lumayan lebar dan berada di pelipis kanannya.
Bella saat ini dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri. Begitu juga seseorang dibalik ruangan itu, ia pun sampai saat ini belum siuman juga.
Padahal dokter yang memeriksanya tadi mengatakan tidak ada apa-apa. Mungkin Kenan hanya sedang banyak masalah dan tertekan.
Mendengar penjelasan itu, Katrina jadi bingung. Masalah apa yang membuatnya tertekan hingga mengakibatkan dirinya terjatuh seperti itu.
Dengan cepat ia merogoh ponselnya dan mendial nama seseorang.
Sedangkan di dalam ruangan lain, orang itu terkejut saat menyadari jika ponselnya berdering.
"Iya, Nak. Papi sudah dirumah sakit di tempat kamu bekerja. Saat ini papi baru saja menabrak orang. Kamu kesini aja ya? Bawa serta calon suami kamu. Ya, IGD. Hem," jawabnya pada si pemanggil itu
Ia menghela nafasnya dengan berat. Belum lagi masalahnya dengan sang putri selesai, kini sudah menambah masalah baru lagi.
Ia hanya bisa berdoa. Semoga orang tua Bella tidak menuntutnya nanti karena tanpa sengaja telah menabrak putri mereka yang saat ini sedang dirawat dan di obati belum juga siuman.
Ia menjadi merasa bersalah. Kenapa tidak melarang Udin saat ia mengatakan jika ada sebuah motor yang melaju dengan kecepatan sedang tetapi berbelok kesana kesini. Seperti orang mabuk saja.
__ADS_1
Ia menunggu dengan sabar. Ingin menghubungi keluarga nya, tetapi tidak punya nomornya.
Orang itu menghela nafas panjang lagi. Ia duduk diruang tunggu dengan mata terpejam erat.
Sedangkan di ruangan sebelah Katrina segera keluar. Dan saat ia keluar sudah melihat sang papi yang sedang duduk didepan ruang IGD.
Ia mendekatinya. "Papi!" panggilnya
Membuat seseorang yang menolong Bella tadi membuka mata dan melihat pada orang yang memanggilnya.
Ia memaksakan senyum walau sangat berat. "Ya, sini. Korbannya belum sadarkan diri. Mana lagi Mang Udin ikut pingsan juga gegara takut sama darah. Hadeuuuhh.." keluh nya pada sang putri yang kini terkekeh mendengar ucapannya.
"Tenanglah pi. Mungkin sebentar lagi korban nya sadar kok. Oh ya pi. Calon suamiku belum bisa ketemu papi deh."
"Kenapa memangnya?" tanya nya dengan mata terpejam
"Tadi, ketika kami makan siang entah apa yang terjadi tiba-tiba saja ia seperti mendapat serangan jantung tiba-tiba dan pingsan. Dokter udah bilang tadi. Katanya tidak apa-apa. Ia hanya sedang kelelahan dan tertekan saja. Gitu katanya tadi. Makanya saat ini dia masih pingsan." Jelasnya pada sang papi yang kini menatapnya penuh selidik.
"Jangan bilang kalau kamu memaksanya hingga ia tertekan!"
__ADS_1
Deg!