
Bella masih setia memeluk tubuh hangat Kenan. Rasanya nyaman.. Sekali. Bella tersenyum saat meraskan tanagn besar Kenan mengelus kepalanya dengan lembut.
Sementara Kenan semakin merasakan aneh pada dirinya. Tubuhnya semakin bereaksi saat wajah Bella mendusel dada kekarnya.
Kenan mendesis lirih yang hanya dirinya sendiri yang tau. Ia merasakan sesuatu yang sudah sekian lama tertidur itu berekasi sedikit.
Ia menggeliat kecil seperti cacing membuat tubuh Kenan semakin panas dingin. Tubuh Kenan bergetar.
Bella terkejut. Dengan spontan ia melepas tangan yang kini sedang memeluknya. Kenan terkejut.
Sontak saja ia membuka matanya dan melihat Bella yang kini sedang menggenakan hijab instannya yang hanya tertutup sebatas siku nya saja.
Sementara lengan mulusnya yang lain masih terlihat dengan jelas di mata Kenan. Jantung pemuda itu semakin tidak terkontrol.
Bella terkejut melihat reaksi Kenan seperti itu. Keringat dingin keluar dari dahinya.
Aneh, sangat aneh. Sekian lama ia berdekatan dengan wanita baru kali ini ia merasakan reaksi yang ganjil pada tubuh nya.
Berulang kali Kenan menghela nafasnya. Dirasa sudah tenang, Kenan kembali melihat Bella. "Maaf.. Abang nggak tau kenapa tubuh ini bergetar seperti itu. Reaksi yang tidak pernah Abang rasakan setelah berumur lima belas taun. Dulu, Abang pernah mengalami kecelakaan. Dan kecelakaan itu menyebabkan tubuh Abang mati rasa terhadap perempuan."
__ADS_1
"Banyak perempuan yang Abang dekati, tetapi hanya kamu yang bisa membangkitkan reaksi tubuh Abang seperti tadi. Maaf.. Jika membuatmu terkejut," lirih Kenan merasa bersalah pada Bella.
Bella mengernyitkan dahinya. Bukan dia tidak tau reaksi seperti apa yang Kenan rasakan tadi saat bersamanya.
Bella pun seorang dokter. Seorang dokter sebelum mengambil spesialis pastilah belajar segala hal tentang reaksi tubuh.
Salah satunya yang terjadi pada Kenan saat ini. Bella menerka-nerka ada apa dengan Kenan sebenarnya.
Ingin bertanya lebih lanjut, tetapi ia tidak punya keberanian untuk bertanya. Kenan bangkit langsung menuju ke kamar mandi.
Tiiba di dalam sana, ia termenung. Kenapa harus Bella? Selama ini banyak gadis yang ia temui tetapi tidak seperti Bella.
Reaksi tubuh nya sangat cepat terjadi ketika berdua dengan Bella saat posisi mereka berdua yang begitu dekat seperti tadi.
Kenan berulang kali menghela nafasnya. Rahasia yang selama ini ia simpan sendiri tidak di ketahui oleh Bella.
Tetapi tadi? Hampir saja ia membuka rahasia nya kepada Bella.
Sedangkan Bella kini sedang berusaha mengganti bajunya dengan daster rumahan saja. Selagi Kenan belum keluar dari kamar mandi, secepat mungkin Bella berusaha membuka bajunya.
__ADS_1
Tetapi tidak bisa. Gerakan tangan itu melambat karena merasakan punggungnya masih sakit walau sudah di beri obat oleh Kezia tadi.
Bella berusaha lagi, tetap saja gagal. Sementara Kenan yang baru saja selesai dari kamar mandi, tertegun lagi melihat tubuh putih mulus milik sang istri.
Tanpa sadar, tungkai kaki jenjang itu mendekati Bella yang kini sedang kepayahan menggenakan dasternya.
"Nggak usah pakai baju ini. Pakai baju kemeja saja. Kamu punya baju kemeja 'kan?"
Deg!
Bella terkejut. Ia berbalik dan melihat Kenan yang kini sedang berada di belakang tubuhnya yang hanya berjarak satu jengkal saja dari tubuhnya.
Bella gelagapan mencari hijab nya. Tetapi yang dicari hilang entah kemana. Kenan tersenyum melihat tingkah Bella yang merasa malu padanya.
Jika wanita lain pastilah sudah menggoda nya saat ini. Tetapi yang ada di hadapan nya saat ini adalah istri sah tetapi sandiwara.
Secara hukum mereka berdua sudah halal untuk saling menyentuh. Tetapi karena pernikahan itu hanya sandiwara bagi Kenan, Bella tau diri.
Ia beringsut mundur bertepatan dengan Kezia dan Mama Rani yang sedang membuka pintu. Mereka terkejut melihat Bella semakin beringsut ke pintu lemari sedang Kenan semakin mendekatinya.
__ADS_1
"Ada nggak baju kemeja nya? Kalau nggak ada, pakai punya Abang. Abang punya banyak kok." Katanya pada Bella yang kini sedang menunduk tidak ingin melihatnya karena malu.
Tubuh yang searusnya di tutupi malah terbuka di hadapan Kenan. Kedua orang di depan pintu mematung melihat tingkah keduanya.