
Bella melajukan motornya dengan sedikit kencang. Ia tidak peduli dengan mobil dan motor lain yang meneriaki dirinya karena tidak hati-hati.
Yang ada di pikiran Bella saat ini hanya Kenan. Sang suami yang tega ingin menikah lagi dengan orang lain besok pagi tanpa mengatakan apapun padanya.
Ia melajukan motornya kesisi kanan dalam keadaan melamun. Ia tidak tau jika di depan sana dan sebuah sedan yang sedang berbelok ke arahnya.
Ia terus memacu motor itu tanpa melihat sekitar. Tanpa melihat sekeliling. Hati dan pikirannya kalut saat ini.
Air mata itu terus saja beruraian.
Dari kejauhan mobil itu ingin berbelok dan menuju ke arah Bella. Ia yang sedang melamun itu semakin menekan kuat pedal gasnya.
Ia tidak melihat apapun di jalan itu karena pandangan matanya mengabur akibat buliran bening yang sebentar lagi akan tumpah di pelupuk matanya.
Ia terus membawa motor itu tanpa sadar jika ada mobil yang sedang berbelok dari arah kanannya hingga...
Braaakkkk..
"Allahu Akbar! Bang Kenan!!!!!"
"Asaghfirullah! Kita nabrak orang pak!"
Deg!
Deg!
Pyaaarrrr....
__ADS_1
"Honey!!!" seru Katrina saat melihat Kenan memegang dadanya yang begitu sakit dengan tia-tiba hingga gelas yang berada di tangannya saat ini terlepas dan jatuh berhamburan di lantai kantin rumah sakit.
"Ya Allah.. Bella.. Istriku..." lirihnya dalam hati dengan kedua tangan memegang erat dadanya yang terasa sakit saat ini.
"Honey! Kamu kenapa?" serunya begitu panik.
Tetapi Kenan tidak menyahutinya. Ia masih merasakan sakit yang tiada tara. Saking sakitnya pandangan mata itu tiba-tiba saja mengabur seketika.
Bruuukk.
"Oh ya ampun! Kenaan!!" pekik Katrina karena melihat Kenan jatuh terkapar dilantai dengan wajah memucat.
"Yaampun! Kamu kenapa Ken?! Tolong! Bantu saya!!" pekiknya pada perawat dan dokter yang sedang makan siang di kantin rumah sakit itu.
Mereka semua berlarian untuk membantu Kenan. Wakil direktur dirumah sakit tempat Kenan bekerja yang merupakan milik Dimas.
Katrina panik bukan main. Padahal setelah makan siang ini, Katrina akan menemui papinya yang baru saja tiba dari Medan.
Tidak tau nya malah seperti ini. Ia jadi panik dan bingung sendiri menerka-nerka ada apa dengan Kenan dan sakit apa.
Ia berjalan mondar mandir tidak menentu di depan ruang inap itu.
Sementara di pertigaan jalan sana, orang yang telah menabrak Bella tanpa sengaja dengan kata lain Bella lah yang menabraknya, kini turun dengan tergesa.
Pertigaan jalan itu langsung saja macet saat itu juga karena ada kecelakan.
"Astaghfirullah ya Allah! Bantu saya Din!" teriaknya pada sang supir yang kini terkejut melihat Bella dengan pelipis berdarah.
__ADS_1
Beliau sangat panik melihat seorang gadis jatuh dengan motor menimpa tubuhnya. Baju gamisnya kuyak hingga ke pinggang.
Karena tersangkut di roda motornya. Mungkin itulah yang menyebabkan Bella kecelakaan.
Orang itu dengan sigap mengangkat motor Bella dibantu oleh para warga yang melihat kecelakan itu terjadi.
Melihat Udin sang supir yang terdiam terpaku di depan motor Bella, orang itu lagi menyentaknya.
"Astaghfirullah Udin... Bantu saya Marhiadin salam!!!!"
Deg!
Deg!
Udin sang supir terkejut. Ia menyahut, tetapi kaki itu gemetar dan tidak bisa ia gerakkan.
"I-i-iya tu-tuan!! Aa-apa yang ha-harus sa-saya la-lakukan?!" tanya nya dengan tergagap dan bibir bergetar.
Orang itu memijit pelipisnya karena ia lupa jika supirnya itu takut darah. Tubuh itu bergetar seketika.
Lagi, orang itu menghela nafas panjang sambil menggerutu. "Ck. Gimna sih si Maman? Ngasih supir kok yang takut darah begini? Bukannya menolong, malah dirinya yang ditolong!" gerutunya dengan segera membalikan tubuh Bella agar terlihat wajahnya karena saat ini ia jatuh dalam keadaan telungkup orang itu segera membalikkan tubuh Bella dan bertepatan dengan supirnya itu jatuh pingsan.
"Neng Bella! Den Kena-,"
Bruukkk..
"Ck. Kan baru aja dibilang? Siapa tadi yang si Udin panggil?" gumamnya dengan segera mengangkat tubuh Bella dan membawa nya ke dalam mobil.
__ADS_1
Begitu juga dengan supirnya yang bernama Udin itu. Ia pun dibantu oleh warga sekitar dan segera ia masukkan ke dalam mobil orang itu.