
Bella tergugu.
Ia tidak tau harus berbicara apa. Bella belum melupakan hal itu. Hal yang paling mengejutkan dirinya saat ia berusia enam tahun yang lalu.
Bella semakin menangis.
Ayah Emil kembali memeluk erat tubuhnya. "Sudah.. Jangan menangis lagi. Katanah ingin bicara sama Ayah? Ayo, kamu ingin bicara apa?" tanya Ayah Emil pada Bella yang kini masih tersedu dan sesegukan.
"Kenapa Ayah secepat ini pergi? Adek masih ingin bersama Ayah.. Adek kangen Ayah.. Abang berbeda dengan Ayah.." lirihnya yang membuat Ayah Emil terkekeh.
"Tetapi kamu sudah punya Kenan di hidupmu. Kenan sama kan seperti Ayah?"
Lagi, Bella tersedu. Ia mengangguk. Kenan pun ikut tersedu. Ia tak menyangka jika bisa bertemu dengan Ayah mertuanya di alam lain.
"Dengarkan Ayah sayang. Ayah tidak bisa berlama-lama di sini. Tempat Ayah bukan disini. Untuk itu, Ayah harus segera kembali. Tapi..." Ayah Emil melirik Kenan yang kini sedang menatapnya dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Tapi apa Yah?" tanya Bella
"Ayah harus membawa Kenan bersama Ayah dan kamu harus kembali ke alam nyata dimana Mak dan juga semua saudaramu menunggumu."
Ddduuuuaaarrrrr...
Bella tersentak mendengarnya. Ia menatap nanar pada Ayah Emil yang kini menatapnya dengan tatapan yang begitu teduh.
Buliran bening itu terus mengucur deras di pipi mulusnya. Ayah Emil mengusapnya dengan lembut.
"Ayah tau. Kamu keberatan kan jika Kenan ikut bersama Ayah?"
Wajahnya begitu sembab saat ini. "Maksud Ayah apa? Kenapa harus Kenan yang ikut bersama Ayah??" tanya Kenan karena melihat Bella yang tidak menjawabnya.
Ayah Emil tersenyum. "Semua ini sesuai dengan permintaan Bella bukan?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
Ayah Emil tersenyum lembut menatap pada Kenan. "Kamu harus memilih satu diantara keduanya. Apakah kamu ingin mempertahankannya tetapi Kenan yang ikut bersama Ayah? Atau kamu melepaskannya tetapi Kenan tidak ikut bersama Ayah?" ucap Ayah Emil pada Bella yang kini semakin tersedu.
Sulit baginya untuk memilih salah satu. Jika tidak di pilih, maka salah satu dari mereka akan ikut bersama Ayah Emil dan tidak akan pernah kembali lagi.
Bella semakin tersedu. Ia duduk bersimpuh di hadapan Kenan. "Maafkan Adek, Bang. Adek lebih butuh Abang daripada anak kita. Anak bisa kita dapatkan lagi jika kita masih bersama. Tetapi jika Adek memilih Abang maka kira harus ikhlas. Adek siap Yah. Bawalah dirinya pergi. Adek ingin Bang Kenan tetap bersama Adek. Jika masih diberikan kesempatan, maka kami pasti bisa memilikinya lagi.." Bella tersedu sambil bersimpuh di kaki Kenan yang kini lemas bagai tak bertulang karena mendengar ucapan Bella.
Ayah Emil tersenyum pada mereka berdua. "Sesuai dengan permintaan mu putriku. Ayah akan membawanya karena memang inilah takdir mereka berdua,"
Bella mendongak, "Mereka? Hiks.."
"Ya, mereka! Kedua anak kalian akan menemani Ayah disana sampai kita berkumpul bersama nantinya. Pesan Ayah, jaga selalu kehormatan mu untuk suamimu. Patuhi semua ucapannya dan berbaktilah kepadanya karena dengan cara seperyi itu Ayah akan bahagia di alam sana. Dan untuk menantu Ayah, bimbing dan didik Bella menjadi istri shalihah. Kalau ada masalah jangan lari dan menyembunyikannya. Tetapi cobalah untuk jujur. Karena kejujuran kebih baik baik pahit daripada berbohong tetapi manis bersiifat sementara. Ingat Nak. Kita semua akan kembali ke tempat Nya. Mungkin kalian berdua belum lagi saatnya. Tetapi Ayah dan kedua anak kalian sudah."
"Kembalilah. Semua keluarga kita menunggu kalian disana. Dengar suara siapa disana?"
__ADS_1
"Kembalilah Nak.. Jangan tinggalkan Mak. Katanya kamu ingin memberikan kejuran untuk Mak? Bangun sayang.. Cukup Ayah saja yang ninggalin Mak tapi jangan kamu lagi.. Bangun sayang.."
Dengungan suara lirih itu menusuk jantung Bella. Ayah Emil tersenyum, "Kembalilah Nak. Tempat kalian berdua bukan disini. Ayah pun harys segera kembali. Ingat pesan Ayah tadi. Ayah pergi. Jaga diri kalian baik-baik.. Selamat tinggal sayang.. Putri Ayah.." ucap Ayah Emik dengan segera masuk ke cahaya putih bersuh dengan membawa sesuatu di tangannya.