Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Cocok!


__ADS_3

Kini kedua paruh baya itu sedang duduk berhadapan di hadapan ketiga anak lelakinya dan juga dua orang wanita yaitu Mama Rani dan Bella yang kini sedang menatap Papa Reza dengan wajah datarnya.


"Baiklah, walau sudah tengah malam. Tetap akan kita bahas. Kita mulai dari kamu dulu, Kenan! Dan juag kamu, siapa tadi?" tanya Papa Reza yang kini sedang menatapnya dengan wajah datar dan dinginnya.


"Bella. Mirabella Syahputra putri bungsu dari Ayah Emil suami Pertama Mak Alisa Febryanti yang kini sudah menjadi istri dari Papi Gilang Bhaskara. Yang rumahnya berada di sebelah rumah kalian!"


"Bella. Mirabella Syahputra putri bungsu dari Ayah Emil suami pertama Mak Alisa Febryanti yang kini sudah menjadi istri dari Papi Gilang Bhaskara. Yang rumahnya berada di sebelah rumah kita!" jawab Bella dan juga Kenan secara bersamaan.


Papa Reza dan Mama Rani terkejut. Begitu pun dengan kedua orang yang mengucapkan secara bersamaan itu. Mereka berdua saling pandang. Zidan terkekeh, ia menggelengkan kepalanya saat melihat kekompakan keduanya.


"Cocok!" celutuknya tanpa sadar.


Hingga membuat semua yang ada disana terkejut melihat jika si pria berwajah dingin kini tersenyum setelah kedatangan Bella kerumah itu. Kenan memicingkan matanya melihat tingkah Abang sulungnya itu.


Sadar, jika dirinya di tatap oleh semua orang. Zidan berdehem dan kembali menjadi dingin. Papa Reza terkekeh, ia tau kenapa sang putra sulungnya itu terkekeh dan bercelutuk seperti itu.


"Hem.. Baiklah. Kita mulai lagi. Ehem, sejak kapan kamu kenal dengan putra Papa?" tanya Papa Reza kepada Bella yang kini sedang mentapnya dengan raut wajah dinginnya.


"Aku harus jawab apa? Apakah aku harus bilang, kalau kenal Bang Kenan baru saja kemarin? Ah, jangan! Bisa runyam nanti masalahnya? Bukankah Bang Kenan udah ngomong kemarin saat di kos kalau kami sedang bersandiwara? Hish.. Namanya aj baru tau kemarin? Mau jawab apa coba?! ??Hah. Bismillah. Aku coba dulu deh. Mana tau mereka nggak akan curiga!" batin Bella terus menatap Papa Reza yang kini sedang menanti jawaban darinya.


Melihat Bella yang terdiam Papa Reza berdehem, "Ehhem, jawabalah Nak. Jawab yang menurutmu memang benar adanya!"


Deg!


Kenan menatap Bella dengan dalam sembari berfikir, "Kira-kira apa ya yang menjadi jawabn Bella? Apakah ia akan mengakui kejadian kemarin saat dibandara? Ah, itu tidak mungkin! Aku bisa melihat Bella sedang memikirkan hal lain. Tapi apa? Hish.. Andai aku tau apa isi hati dan pikiran nya 'kan lumayan? Bisa kompak nanti jawabnya? Eh, tadi itu kok bisa samaan ya?" gumam Kenan di dalam hati dengan mata terus menatap Bella tidak berkedip.

__ADS_1


Kini giliran Kenta yang terkekeh melihat tingkah Abang nya. Kenan terkejut kala Kenta menepuk sedikit paha Kenan agar tidak menatap Bella terus.


"Hehehe.. udah nggak sabar ya Bang?" bisik Kenta di telinga Kenan yang kini duduk di sebelahnya.


Sementara Zidan menoleh kearah lain. Ia ingin tertawa sebenarnya. Tetapi takut dilihat lagi seperti tadi. Ia membuang muka ke arah samping dengan bibir terus saja menyunggingkan senyum.


Kenan hanya bisa mendengus saja mendengar ucapan Kenta padanya. "Di jawab Nak Bella. Agar Papa tau sudah berapa lama kedekatan kalian ini hingga putra sialan Papa ini menyembunyikan mu dari kami semua sampai-sampai harus menikahkannya dengan gadis lain yang sudah ia nodai!"


Deg!


Kenan dan Zidan memejamkan kedua matanya. Bella pun melirik Kenan yang kini sedang memejamkan matanya. Hingga tanpa sadar dirinya dan Bella bercelutuk secara bersamaan.


"Pertama kali Kami bertemu itu Di Bandara satu setengah tahun yang lalu. Saat itu, kami tidak sengaja bertemu di dalam toilet karena Bang Kenan/Bella salah kamar hingga kami saling ribut waktu itu. Lebih tepatnya saya/ Bella!" ucap keduanya bersamaan terdengar begitu kompak hingga keduanya terkejut bukan main.


Raut wajah keduanya begitu terkejut, hingga ke empat orang yang mendengarnya itu melongo seketika. Mereka saling pandang satu sama lain. Setelahnya mereka berempat tertawa.


Buahahaahahaaha...


Suara gelak tawa di rumah itu tepat pukul satu malam membuat tetangga terkejut mendengarnya. Apalagi penghuni sebelah mereka, rumah peninggalan Kedua orang tua papi Gilang yang di tunggui oleh satpam dan juga pengurus rumah itu.


Mereka bergidik ngeri kala masih mendengar suara tertawa yang lumayan ramai keluar dari rumah Papa Reza. Besannya Papi Gilang.


Sementara di dalam rumah itu masih saja terdengar suara gelak tawa membahana di dalam rumah keluarga Papa Reza dan Mama Rani.


Papa Reza tertawa hingga air matanya keluar ketika melihat kekompakan keduanya. Kenan yang kini sudah sadar dari rasa terkejutnya pun kembali duduk. Ia berdehem kala melihat seluruh keluarganya kini masih saja tertawa akibat kekompakannya dengan Bella.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah.. Haaha.. Kalian berdua itu memang Cocok! Kalian berdua begitu kompak dalam menyahuti ucapan Papa. Seperti sudah sehati saja ya? Hahaha.. Bagaimana denganmu sayang? Apakah tebakan ku ini benar? Jika keduanya ini memanglah sangat cocok?" tanya Papa Reza pada Mama Rani


"Hahaha... Abang benar! Kalian berdua itu memanglah sangat Cocok! Melebihi kami berdua dulunya! Hahaha.. Kami akan segera datang kerumah mu Nak! Mama setuju jika kamu yang menjadi menantu Mama. Diandingkan dengan gadis itu!" Ketus Mama Rani tiba-tiba membuat semuanya terdiam.


Kenan melihat Mama Rani dan Papa Reza. "Abang bersumpah atas nama Allah, kalau Abang tidak pernah menyentuhnya seperti yang gadis itu tuduhkan padaku. Apapun yang orang katakan itu tidak benar!"


"Abang tidak pernah menyentuhnya seperti gadis-gadis lainnya! Jangankan menyentuh, ketika kami kuliah saja Abang tidak pernah berbicara padanya. Gimana ceritanya Abang menyentuh gadis itu?!" Ketus Kenan pula kini membuka rahasia yang sebenarnya.


Mama Rani menatap dalam pada Bella. " Nak, apakah kamu yakin ingin menikah dengan putra berandalan Mama ini??" tanya Mama Rani pada Bella yang kini menatap Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ditanya seperti itu, membuat Bella tidak tau harus menjawab apa. Ia lebih memilih menunduk daripada menjawab pertanyaan yang ia sendiri pun tidak tau jawabannya seperti apa.


Mama Rani dan Papa Reza saling pandang dan tersenyum. Kedua nya pun mengangguk, "Baiklah. Sudah kami putuskan! Kalian berdua akan segera menikah. Dan besok pagi Papa akan menghubungi Mami Alisa untuk mengabarkan hal ini. Sudah, sebaiknya kalian semua istirahat. Kamu juga Nak. Sudah pukul dua lebih. Istirahatlah walau cuma satu jam saja. Nanti sebelum subuh, Kenan yang akan mengantarmu kembali." Ucap Papa Reza yang kini sudah bangkit di ikuti oleh Mama Rani di belakangnya.


"Lalu, bagaimana dengan gadis itu Pa? Apakah Papa masih berniat ingin menikahkan ku dengan nya sementara Papa sudah tau jika Abang sudah punya calon istri??"


Deg!


Deg!


Papa Reza berhenti melangkah. "Kamu cukup fokus pada Bella saja. Biarkan urusan gadis itu menjadi urusan Papa. Istirahatlah!" sahutnya dengan segera berlalu dan membuat Kenan semakin tertegun.


Zidan dan Kenta menepuk lembut bahunya, kemudian mereka pun masuk ke kamar masing-masing.


Kini tinggallah Kenan dan Bella yang saling berdiaman dengan pikiran melalang buana entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2