Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Pilih salah satu


__ADS_3

Bella berlalu meninggalkan Mama Rani dengan sejuta pemikiran nya terhadap menantu baru nya itu.


Ia pun bergegas masuk ke kamar sang suami yang kini semakin uring uringan karena kepalanya dan tengkuknya begitu sakit.


Sementara Kenan masih tertegun dengan ucapan Bella baru saja. Ia sadar saat merasakan jika Bella sudah tidak ada lagi di sampingnya.


Ia pun bergegas masuk. Kenan ingin memastikan suatu hal pada Bella. Tetapi baru satu undakan tangga yang ia pijak, sudah berhenti karena mendengar suara tegas milik sang Papa.


"Berhenti Kenan! Papa ingin bicara sama kamu!" tegasnya dengan segera berlalu dan meunju taman belakang lagi tempat dimana dirinya dan Bella tadi berbicara.


Kenan menghela nafas panjang. Dengan berat, ia tetap mengikuti langkah paruh baya yang sama seperti dirinya itu.


Jika dilihat dengan seksama, Kenan memang lah sangat mirip dengan Papa Reza. Postur tubuh yang tinggi dan memiliki mata setajam elang dan juga kulitnya yang putih tak lupa hidung bangir nya yang begitu menurun dari Papa Reza.

__ADS_1


Sekilas begitu mirip dengan Papa Reza. Hanya dalam hal lain saja keurangan Kenan.


Mereka sudah tiba di taman belakang. Kenan sudah duduk di hadapan Papa Reza. "Ada apa Pa?" tanya Kenan pada Papa Reza yang kini terus terdiam tetapi tidak memandang kepadanya.


Beliau menghela nafas panjang sebelum membicarakan hal ini dengan putra ketiga nya ini. "Papa tidak akan meminta mu untuk menceraikan Bella, istrimu. Tetap dari yang Papa lihat tadi pagi sudah membuktikan jika kamu memanglah tidak berniat serius dengan Bella. Kamu sengaja membawa Bella ke dalam hidupmu, karena kamu tidak ingin dinikahkan dengan gadis itu bukan?" tuduh Papa Reza yang memang benar adanya.


Kenan menatap datar pada Papa Reza. "Jika kamu tidak berniat serius dengannya, maka lepaskan gadis yang tidak bersalah itu. Tetapi bukanberarti Papa mengijinkan dan juga merestui pernikahan kamu dengan wanita itu. Papa tidak akan pernah menerima calon kamu seperti wanita tadi. Jalan berlenggak lenggok hanya menggenakan rok diatas lutut. Ppa tidak suka itu Kenan. Mama dan adik kamu tidak seperti itu. Apalagi istri kamu. Bella gadis yang sangat menjaga auratnya. Kamu bisa membedakannya bukan?"


"Saran Papa. Jika kamu masih menginginkan Bella. Maka lepaskan wanita itu. Begitu pun sebaiknya. Kamu harus tegas dengan dirimu sendiri. Jangan mempermainkan wanita Kenan. Pilih salah satu. Jika kamu tidak bisa memilih salah satu dari mereka, maka lepas keduanya. Dengan begitu kamu bisa bebas. Papa tidak bisa kamu bodohi Kenan."


"Papa tau semua nya tentang mu. Tanpa perlu kamu berbicara. Tetapi Papa tidak akan membiarkan mu melukai gadis sebaik Bella. Ia sangat baik dan begitu tulus. Tidak kah kamu melihatnya kenan?" tanya Papa Reza padanya dengan penuh penekanan.


Kenan tetap terdiam. Tidak ingin sedikitpun untuk menyela.

__ADS_1


"Papa harap kamu bisa mengambil keputusan sebelum kami kembali esok hari. Penerbangan kami pukul sepuluh pagi. Jadi, sebelum itu. Papa sudah mendapatkan jawaban darimu. Tentukan pilihan mu mulai dari sekarang." Tegasnya dengan segera bangkit dari tempatnya duduk dan masuk ke dalam.


"Ah, ya. Satu lagi. Jika kamu ingin tetap bersama Bella. Maka keluar dari rumah ini. Rumah yang mengikatmu dengan gadis itu. Papa tau segala nya Kenan. Papa tau semaunya.." ucapnya lagi


Setelah nya beliau langsung masuk menuju ke kamarnya dimana Mama Rani sedang menunggun nya dengan harap-harap cemas.


Mama Rani khawatir jika Papa Reza akan memukul kembali putra nya itu. Tetapi tadi, Papa Reza berjanji padanya. Tidak akan terjadi apapun. Beliau hanya butuh berbicara berdua saja dengan Kenan.


Maka dari itu Mama Rani. Tetapi wanita paruh baya itu tetaplah khawatir dengan putra dan juga suaminya itu.


Sedangkan Kenan kembali termenung memikirkan perkataan sang Papa tadi yang menyuruhnya untuk memilih salah satu.


Hal yang tidak mungkin bisa Kenan lakukan. karena Bella dan Katrina dua sosok yang begitu ia butuhkan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2