Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Ana uhibbuka fillah..


__ADS_3

"Terus? Bagaimana dengan pemuda yang bernama Kenan itu? Kamu ketemu diaman dengan pemuda yang mirip jika sekilas dilihat itu?" tanya Bella masih merasa penasaran


Bella terkekeh, "Empat hari yang lalu, saat ada kunjunagn pasien, aku yang bertugas. Dan salah satu pasien yang mendapat kunjungan itu ya si Kenan bramanta ini. Sempat terkejut jika melihatnya begitu mirip sama Abang. Awalnya tidak yang dibahas, entah apa yang terjadi pada pemuda itu tiba-tiba saja ia memanggil nama Katrina di dalam tidurnya. Padahala saat itu ia sedang terlelap."


"Ada satu orang lelaki paruh baya yang menunggunya diosana dan beliaulah yang menceritakan semuanya padaku. Hingga saat dulu Katrina pernah mengalami kecelakaan sama seperti yang Dokter Daud katakan kemarin sore. Katrina melupakan sososk Kenan ini. Ia teringat dengan nama Kenan. Tetapi wajahnya yang sama sekali tidak Katrina ingat. Maka dari itu ia mengejar Abang. Karena di dalam pikrannya itu Abang lah calon suaminya dulu. Padahal bukan."


"Dokter Daud sengaja menikahkan mereka berdua agar ingatan Katrina itu kembali lagi. Saat itu pemuda yang bernama Kenan itu sedang mengalamai pasca pemulihan setelah operasi pengangkatan tumor yang bersarang di perutnya. Makanya kemarin saat ia menikah dengan Katrina pemuda itu pingsan. Bukan karena drma seperti yang Dokter Daud ceritakan." Jelas Bella membuat semua yang ada disana mengangguk setuju.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari Bella, kini semua yang ada disana bisa bernafas lega. Salah satunya Kenan.


Ialah yang paling senang saat ini. Saat ini tinggal mereka berdua saja di dalam ruangan itu. Sementara Mama Rani dan Papa Reza sudah pulang.


Kenan terus saja mendekap Bella. "Terimakasih karena sudah membuat Abang tetap bertahan disisimu. Sebenarnya Abang ini pemuda yang buruk sayang." Katanya pada bella yang kini mendongak melihatnya.


"Buruknya dimana? Kayaknya nggak deh?"

__ADS_1


Bella terkekeh, "Ya iyalah bangkit Bang Ke!" Kenan melotot, Bella tertawa. "Saat ini ia sedang bersama dengan sarangnya! Belum juga masuk tetapi ia bisa merasakan jika inilah rumahnya. Kamu memang tidak di sembuhkan karena akulah obatnya. Lihatlah sendiri betapa lincahnya Rudal Amerika mu itu?"


Kenan tertawa. "Kamu benar. Terimakasih sayang. Karena kamu masih mau menerima pemuda berandalan ini. Mari kita bersama menuju ke surga nya Allah. Bimbing Abang jika Abang tersesat. Tegur Abang jika melakukan kesalahan. Abang manusia biasa yang memiliki tempat salah dan khilaf.."


Bella tersenyum, "tentu. Begitupun denganku. Semoga kiat berdua bisa mengarungi bahtera rumah tangga ini sampai ke surga nya Allah. Salah dan benar tinggal kita aja menempatkan nya. Aku pun butuh seorang imam yang bisa menuntun ku ke arah yang lebih baik lagi. Dan itu ada bersama mu Bang Kenan."


"Terimaksih sayang.. Karena kamu mempercayai Abang yang menjadi nakhoda di dalam rumah tanggamu. Mirabella.. Ana uhibbuka fillah.. Cup." Kenan mengecup dahi Bella dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


Bella tersenyum. "Aku pun demikian. Semoga kita sanggup menghadapi segala rintangan yang akan datang setelah ini."


"Tentu saja. Kita sudah bersama sekarang. Tidak ada yang ditakutkan lagi." balas Kenan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh hangat Bella.


__ADS_2