
Malam harinya Kenan pulang terlambat karena harus melewati drama dari Katrina yang begitu membuatnya kesal.
Bagaimana tidak, jika Katrina membuat ulah dengan cara Kenan tidak boleh pulang dan harus menemaninya sampai terlelap dirumahnya.
Kenan merasa keberatan karena mereka berdua bukan pasangan yang sah. Tetapi Gadis seusianya itu begitu ngotot.
Ia mengancam akan bunuh diri jika Kenan berani pulang. Dengan sangat terpaksa Kenan bertahan hingga ia harus pulang kerumahnya dengan tubuh yang begitu lelah dan juga merasa bersalah kepada Bella.
Karena ia pulang sudah larut malam.
Kenan masuk kerumah langsung menuju ke kamarnya. Disana ia masih melihat Bella terjaga tetapi dengan wajah dingin dan datarnya.
"Assalamu'alaukum sayang, bisa siapkan air mandi untuk Abang? Abang belum mandi sedari tadi sore dan juga belum makan sejak siang hanya roti saja sebagai pengganjal perut," lirihnya begitu lemas dan tidak bertenaga.
Bella melihatnya sekilas, kemudian menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Kenan mandi.
Setelah selesai di kamar mandi kini ia mengambilkan baju ganti untuk Kenan sementara Kenan duduk di sofa dengan mata terpejam.
Bella menghela nafasnya. Kenan tidaklah salah dalam hal ini. Tetapi tetap saja hati itu sakit saat melihat suaminya lebih memilih makan siang dengan orang lain dibanding ia istrinya.
Rasa kesal yang begitu bercokol dihati itu hilang entah kemana saat melihat wajah lelah dan pucat Kenan.
Sesak rasa dada itu. Ingin sekali Bella membalas perlakuan Kenan. Tetapi ia tidak bisa.
Rasa sayang dan cintanya lebih besar daripada rasa kesal dan bencinya terhadap sang suami.
Bella sadar jika Kenan sedang melakukan perannya. Mata itu terpejam dengan kepala mendongak keatas bersandarkan di sofa di kamar mereka berdua.
Bella mendekati Kenan yang belum sama sekali membuka bajunya dan kaos kakinya sejak dari bawah.
Tubuhnya begitu letih saat ini.
Bella tahu apa yang harus ia lakukan sebagai seorang istri. Karena ia sering melihat Bunda Zizi melakukan hal itu kepada Almarhum Ayah Emil dulunya.
Melihat Kenan sama seperti melihat Ayah Emil saat ia pulang bekerja dulunya.
Bella membuka kaos kaki Kenan, kemudian jas putihnya. Baru setelahnya Bella membopong Kenan ke kamar mandi.
Sedang Kenan tidak menolak. Karena ia tau, tubuhnya begitu lelah saat ini. Bukan hanya tubuhnya.
__ADS_1
Tetapi juga hatinya.
Bella memandikan Kenan dengan air hangat. Keduanya basah karena Kenan memeluk erat pinggang Bella.
Bella tidak marah. Ia tetap melakukan pekerjaannya. Setelah selesai, Bella membawa Kenan lagi ke sofa dan mengelap seluruh tubuhnya.
Mata itu tetap terpejam. "Berbaring. Biar Adek pijat badan Abang. Supaya besok nggak capek lagi. Jangan tidur. Abang belum makan!" ucapnya dan diangguki Kenan.
Ia tidak bisa bersuara tetapi hatinya mengucapkan syukur dan terimakasih berulang kali karena diberikan istri seperti Bella.
Bella memijat tubuh tegap itu hingga terasa lebih ringan. Cukup lima belas menit saja Bella memijatnya.
Kemudian ia turun ke bawah setelah memakaikan baju untuk Kenan dan mengambil makan malam yang ia sendiri pun belum makan karena menunggu Kenan pulang yang larut malam.
Dan Bella tahu apa penyebabnya.
Bella menyuapi Kenan dengan telaten. Mata tajam Kenan berkaca-kaca melihat Bella begitu perhatian padanya.
Di sela-sela makannya Kenan menangis. "Maaf.. Abang mengabaikan mu hari ini. Bukan hanya malam ini bahkan tadi siang pun seperti itu. Maafkan Abang sayang.. Maaf.. Kamu boleh kok marah sama Abang. Abang siap untuk menerima kemarahanmu. Marah lah sayang. Jangan hanya diam saja. Please.. Abang takut melihatmu seperti ini. Abang lebih suka melihatmu lebih ketus sama Abang daripada kamu diam seperti batu tetapi bernafas.."
Deg!
Deg!
"Lebih baik diam 'kan? Daripada ribut dan mengomel tak jelas yang hanya akan menambah pusing bagi yang mendengarnya? Jika di bilang kesal? Aku kesal sama Abang. Kecewa? Iya. Marah? Apalagi. Tetapi semua itu lenyap saat mengingat perjanjian kita berdua. Bahwa kita melakukan ini untuk hubungan kita berdua makanya aku memilih mengalah. Lagipun rasa kesal dan kecewa ku lebih kecil dari pada rasa cintaku padamu yang sudah ku pupuk hingga puluhan tahun!" ucap Bella yang membuat Kenan kini semakin mencintai istrinya itu.
"Terimakasih sayang, terimakasih. Abang akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan bukti itu. Untuk itu, kamu bersabarlah. Dan maafkan Abang yang akan sering melukai perasaan mu," imbuhnya pada Bella yang membuat adik Annisa itu tersenyum walau sangat terpaksa.
Kenan tau itu.
######
Konflik akan terus bermunculan ye? Siapkan hati dan jangan hujat othor kalau kalian nggak suka!
Maaf ye, bab ini ketinggalan kemarin. Lupa othor update. Othor sambung disini aja deh. Kalau dibuat bab baru bakalan bingung nantinya karena nggak nyambung.
~ Sangat beruntung Memiliki mu ~
Bella tersenyum saja saat Kenan mengatakan jika ia akan sering melukai Bella nantinya karena sikapnya itu.
__ADS_1
"Tak apa. Lebih baik aku merasakan sakit itu sekarang dibandingkan dengan nanti. Jika aku mengalami sakit sekarang, berarti Allah sedang mencoba, menguji ketahanan dan kesabaranku dalam menghadapi semua ini. Sengaja Allah memberikan rasa sakit itu sekarang. Untuk apa? Untuk kedepannya. Di depan sana sudah menunggu kebahagiaan untukku. Walau itu akan ku lalui dengan penuh perjuangan, tak apa. Aku ikhlas. Karena ujian itu tidak sembarang Allah berikan. Allah memberikan ujian tidak melebihi batas kemampuan kita,"
"Laayukallifullahu nafsan illa 'alal wus'ahaa. Allah tidak akan menguji hambanya diatas kemampuan nya. Sebelum aku mendapatkan ujian ini, aku sudah lebih dulu di tempah menjadi kuat saat usia ku masih tujuh tahun. Disaat ayah kami meninggal dunia. Itulah ujian terberat di dalam hidupku. Tetapi apakah kamu tahu Bang Kenan?"
"Apa?" tanya Kenan
"Kakak ku. Kak Annisa pernah mengajariku untuk lebih kuat, tegar dan mandiri. Ia mengajarkan ku agar bisa menjadi wanita yang tangguh. Sejak kecil aku sudah di didik olehnya untuk kuat dan mandiri. Dialah selama ini yang mengajari tentang hidup. Masih beruntung aku di tinggal Ayah saat umur tujuh tahun. Sedangkan Kak Annisa sudah tidak memiliki ayah sejak ia dilahirkan karena Mak Alisa bercerai dari Ayah kami. Almarhum Ayah Emil.." lirih Bella dengan leher tercekat
Kenan memegang kedua tangan Bella. "Jika bukan karena nya, mungkin saat ini aku tidak bisa bertemu dengan mu. Semua itu nasehat darinya. Jika bukan karena nya, pastilah saat pertama kali aku menemukanmu, aku sudah menghajarmu karena kamu tidak mengenaliku. Kak Annisa bilang, jika pemuda itu melakukan hal seperti itu, pertanda ia juga menyukaimu. Itu salah satu cara dirinya untuk bisa memikat hatimu. Ia menyukaimu. Tetapi memang begitulah sikapnya. Kalau suatu saat, kalian nanti di pertemukan. Lebih baik memaafkannya dan bersikap ketus saja. Agar ia sadar, jika wanita dari kecil akan berubah seiring waktu."
"Jika dulunya ia sangat manis, seiring waktu semua itu berubah. Ia berubah untuk menjaga dirinya dan mempertahankan dirinya dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Kami wanita makhluk yang rapuh dan juga mudah baperan. Pantang sedikit saja dirayu kami sudah luluh. Apalagi itu orang yang kami cintai." Ujar Bella membuat Kenan tersenyum senang.
"Berarti pertemuan kedua kita berkesan dong buat kamu??" Bella mengangguk masih dengan menyuapi makanan kemulut Kenan. "Dan juga kamu pasti baper kan saat Abang berbicara lembut padamu??" godanya pada Bella yang kini terkekeh.
"Karena itu kamu Bang Kenan. Jika orang lain tidak akan semudah itu bagi seorang Mirabella takluk. Lihat saja kemarin. Abang sampai bingungkan gimana nyikapin sikap ketus aku?"
Kenan tertawa, "tetapi sikap ketus dan jutek mu itulah yang selalu Abang rindukan sayang. Abang melihatmu seperti melihat Gataci Abang dulu. Tidak terpikir oleh ku jika kamu itu memang Gataci. Gadis Kecil Tai cicak!"
Bella melototkan matanya.
Buhahahahaha...
Kenan tertawa melihat wajah Bella merengut masam padanya.
"Abang ih! Suka banget sih ngatain aku dengan gadis tai cicak? Apaan tuh?! Ih!" kesal Bella pada Kenan yang saat ini sudah selesai makan dan segera membawa Bella ke pelukan hangatnya.
Bella merengut masam.
Cup.
Kenan mengecup dahinya dengan lembut. "Dengarkan Abang sayang. Kamu itu sangat istimewa bagi Abang. Pertama kali saja kamu sudah berkesan untuk Abang. Kenangan dimana dulu kita berdua hanyut disungai masih terngiang di ingatan Abang. Kamu gadis kecil yang sudah berhasil meluluh lantakkan hati Abang sejak pertemuan pertama itu dan pertemuan kedua kita."
"Maafkan Abang yang membuat pernikahan ini menjadi sandiwara. Padahal bukan itu tujuan Abang yang sebenarnya. Abang memang ingin menikahimu setelah memastikan jika kamu seseorang yang selama ini Abang cari. Dan ya, kamulah orang nya Bella. Abang sangat beruntung bisa menikah dengan mu. Abang beruntung memiliki mu, sayang. Sangat beruntung."
"Dimana sebagian wanita lain ingin meninggalkan Abang karena penyakit ini, tetapi kamu tetap di sisi ku. Terimakasih sayang. Abang sangat mencintaimu. Mari kita menjalani rumah tangga ini semestinya. Kita akan seperti ini di dalam rumah kita, Apapun keputusan Abang nantinya akan Abang katakan padamu. Abang mohon. Jika terjadi sesuatu dengan Abang, jangan pernah menyerah sayang. Jika Abang menjauh dari secara mendadak darimu pertanda jika itu sinyal untukmu dalam menolong Abang. Abang mohon.. Jangan pergi walau apapun yang terjadi.." lirihnya semakin erat memeluk tubuh Bella yang juga membalasnya tak kalah erat.
Ya, mereka berdua masih harus berjuang saat ini. Tidak mudah bagi mereka untuk menghadapi semua ini.
Apalagi musuh itu kini masih berkeliaran diluar sana. Inilah yang menjadi ke khawatiran nya. Semoga saja Bella paham jika suatu saat terjadi perubahan pada dirinya.
__ADS_1
Semoga saja.