
Kenan larut dalam lamunan nya. Ia masih berpikir jawaban apa yang akan ia berikan kepada sang Papa.
"Aku harus jawab apa sama Papa?Jawaban apa yang akan aku berikan untuk Papa besok? Sementara diriku tidak bisa memutuskan mana yang aku pilih. Bella istri sah ku. Sampai kapan pun akan seperti itu. Tetapi Katrina? Seseorang yang aku butuhkan untuk diriku. Hanya dia yang bisa membantuku. Karena dia lah pakar dari hal itu. Itu yang Papa tidak tau tentang ku,"
"Papa tidak tau semua tentangku. Nyata nya tentang rahasia ku ini hanya Katrina yang tau. Itu pun saat aku terpaksa melakukan hal itu padanya. Tidak ada yang bisa membantu ku dalam hal ini."
"Aku memang berencana akan menyelesaikan hubungan ku dengan Katrina. Tetapi tidak sekarang. Lagi pun, aku itu tidak memiliki rasa apapun terhadapnya. Wanita itu begitu cepat menklaim diriku menjadi calon suaminya. Kapan-kapan aku mengatakan jika kita berhubungan. Hubungan ku dengan nya hanya sebatas rekan saja. Tidak lebih. Jika bukan karena rahasia ku, maka aku tidak akan mau dekat dengannya."
"Dan untuk pindah dari ruhmah ini. Itu tidak mungkin Papa. Rumah ini sudah menjadi milikku selama dua tahun terakhir ini. Hal yang sama sekali tidak Papa tau dan juga Katrina ketahui. Karena dengan membelinya, aku bisa bebas terhadap rumah ini. Mungkin inlah yang membuat Katrina begitu merasa jika dialah yang menjadi penolong ku disini."
"Nyatanya bukan dia. Ada orang lain yang sudah membantu ku selama ini. Kalian tidak tau apapun tentang ku. Banyak yang tidak kalian ketahui. Yang jelas, aku tidak akan memilih salah satu dari mereka. Karena keduanya aku butuhkan."
__ADS_1
"Untuk masalah cinta. Itu bukan hal yang sulit. Cinta itu akan datang jika sudah terbiasa. Tetapi yang menjadi pikiran ku sekarang ialah.. Apakah Bella menerima ku? Atau masih menganggapku bersandiwara? Entahlah. Aku tidak tau harus bicara apa saat ini."
"Jika bagi orang lain aku begitu egois karena tidak bisa melepas keduanya, itu tidak masalah bagiku. Toh, kehidupan ku bukan mereka yang menjalaninya. Tetapi aku sendiri. Aku butuh keduanya untuk hidupku. Jika Papa memang benar-benar tau semua nya tentangku, pastilah Papa juga akan tau 'kan dengan rahasia ku ini?"
"Hah. Inilah ujian idupku. Selalu saja begini. Sedari aku kecil hingga saat ini. Selalu rasa sakit dan pilihan yang mereka berikan pada ku tanpa bertanya apa yang menjadi alasan ku untuk memilih! Jika dibilang aku egois, maka kalian lah yang lebih egois! kamu juga Dek! Kamu egois karena sudah memberikan pilihan ini padaku! Padahal sudah kukatakan padamu, jika aku sudah meminta mu untuk tidak meninggalkan ku. Apakah sesulit itu untuk mu bisa menerima dan bersandiwara di hadapan keluarga kita?"
"Aku butuh kamu, dek! Hanya kamu yang bisa menolong ku! Bukan yang lain..." lirih Kenan dengan buliran bening yang kini sudah mengalir di sudut mata tampannya.
Niat hati ingin mengantarkan makan siang untuknya, malah ia mendengar keluh kesahnya. Ia jadi merasa bersalah.
Ia tidak jadi ke belakang. Nampan nasi berisi makan siang Kenan ia letakkan kembali di atas meja lagi. Ia pun kembali masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Kenan terus terisak meratapi hidupnya yang selalu di penuhi dengan pilihan-pilhan sulit untuk ia pilih.
Kenan tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Karena Kenan membutuhkan keduanya. Untuk apa? Hanya Kenan yang tau jawaban nya.
Puas dengan menangis, Kenan masuk ke dalam. Karena perutnya yang sudah keroncongan dan diminta untuk di isi.
Ia berjalan hingga menuju ke meja makan. Disana sudah terlihat makanan yang begitu menggugah selera.
Karena perut nya yang sudah lapar, dengan segera Kenan mencuci tangan dan melahap makanan itu hingga habis.
Kenan menitikkan air matanya saat tau rasa dari masakan yang terletak di atas meja itu. Ia makan sambil terisak.
__ADS_1
Seseorang dibalik dinding itu pun ikut terisak. Ia membungkam mulutnya agar Kenan tidak tau jika ia sedang menangis karena mencerna dari setiap ucapan Kenan tadi di taman belakang.