Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Langkah seribu


__ADS_3

Bella pulang dengan keadaan kesal. "Kalau taunya aku dilupakan kayak gini. Lebih baik aku pergi sendiri tadi! Yang kayak aku nggak tau aja utuk jalan pulang!" ketus Bella sambil terus berjalan dengan cepat menuju kerumahnya yang lumayan jauh masuk kedalam.


Keringat terus bercucuran di tubuhnya. Bella tidak peduli. Ia sudah berjalan separuh jalan saat ini. Tak ada yang bisa ia minta tolong untuk membawanya pulang kerumah.


Tanpa menoleh ke belakang Bella terus berjalan semakin cepat saja. Suasana komplek yang lumayan sunyi itu membuat Bella semakin mencepatkan langkah kakinya dengan berlari karena mendengar suara deru mesin mobil yang hampir mendekatinya.


Bella mengangkat baju gamisnya hingga setinggi betis yang tertutup celana bermotifkan kucing itu dan segera mengambil langkah seribu.


Seseorang di dalam mobil itu melongo melihatnya berlari dengan baju ia angkat hingga setinggi betisnya yang tertutup celana panjang.


Bella sebenarnya tidak ingin berlari. Hanya saja ia merasa takut saja jika mobil di belakang nya itu adalah orang jahat.


Tanpa sadar pemikiran yang buruk dan di dukung dengan perut kosong, Bella semakin mengencangkan dirinya.


Mobil yang berjalan di belakangnya itu pun semakin menambah kecepatannya saat Bella yang berlari tunggang langgang.


Orang yang berada di dalam mobil itu terus tertawa saat melihat tingkah Bella yang ketakutan karena mobilnya.


Ia semakin tertawa saat melihat Bella yang tanpa sadar mengangkat gamis itu lebih tinggi dan melompati pintu pagar di depan rumahnya bak atlet silat saja.

__ADS_1


Yang membuat pemuda di dalam mobil itu melongo. Setelahnya ia tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Bella baru saja.


Sedangkan Bella dengan segera membuka kunci pintu rumah Kenan dan segera menutupnya dengan kencang.


Braakk..


"Astaghfirullah!" ucap pemuda yang ada di dalam mobil itu.


Sejenak ia termenung melihat rumah itu. "Siapa gadis itu? Ada hubungan apa dia dan dokter Kenan?" gumamnya dengan segera berlalu pergi dan meninggalkan rumah Kenan dengan penuh tanda tanya di benaknya.


Sedangkan Bella yang berada di sebalik pintu rumah itu, kini bisa bernafas lega.


Nafasnya memburu karena baru saja berlari begitu kencng hingga tanap sadar ai melompati pintu pagar Kenan yang setinggi sau meter saja.


Bella terkekeh sendiri saat mengingat kelakuannya tadi.


Sementara di warung nasi goreng pak Mamat, Kenan masih saja bercerita. Hingga cerita kedua orang itu berhenti saat Pak Mamat menegurnya.


"Nak Kenan? Ini nasi goreng nya mau makan disini atau di bungkus?" tanya nya pada Kenan

__ADS_1


"Makan disini saja, Mang!" sahutnya dan diangguki oleh Pak Mamat


Pak Mamat pun segera menghidangkan makanan itu dan di letakkan di meja Kenan. Mereka berdua pun langsung menyantap makanan itu dengan lahap.


Karena perut mereka yang memang sudah sangat lapar. Untuk sesaat Kenan mengerjab. Ia seperti melupakan sesuatu.


Lama ia berpikir hingga matanya melotot sempurna tatkala mengingat Bella yang seorang diri di luar warung sedang menunggu dirinya.


Kenan menghentikan segera makannya dan meminum air putih dengan terburu-buru hingga dirinya tersedak.


"Uhuhuukk.. Uhuukk.. Uhuukk.." Jesy terkejut.


Dengan segera ia mengusap punggung Kenan untuk meredakan batuk itu.


Kenan langsung saja menatap Pak Mamat yang kini sedang menatapnya dengan heran.


"Mamang lihat gadis berdiri diluar warung nggak? Ia memakai baju gamis berwarna krem dan hijab hitam?" tanya Kenan seraya bangkit dan merogoh dompetnya untuk membayar nasi goreng yang baru separuh ia makan.


''Ho.. Ada. Tadi gadis itu pun membeli nasi goreng juga. Sempat sih melirik kamu sebentar. Kemudian ia berlalu pergi setelah membayar nasi goreng mamang tadi," jelasnya membuat Kenan semakin geisah dan merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2