
Ke esokan paginya.
Suara alunan merdu di seluruh penjuru sahut menyahut terdengar jika sudah memasuki waktu subuh.
Bella yang begitu nyaman dalam pelukan Kenan pun menggeliat kecil. Ia merasakan berat di tubuhnya.
"Apa sih ini? Duhh.. Kaki ku pegal banget ya? Ishh.. Ini gara-gara berlari tadi malam nih!" gerutunya pada kakinya yang kini begitu terasa sakit.
Walaupun sakit, Bella tetap memaksakan diri untuk bangun. Mata berbulu lentik itu mengerjab perlahan.
Pertama kali yang ia lihat adalah wajah yang membuatnya berlari tadi malam. Bella melepaskan perlahan belitan tangan Kenan dari tubuhnya.
Bella sadar diri. Ia hanya orang luar yang tiba-tiba masuk di dalam kehidupan Kenan saat ini.
Walau dulunya mereka berdua sudah bertemu dan juga saling mengenal dan mengingat akan masa lalu, tetapi itu semua tidak bisa membuktikan jika Bella adalah seseorang yang spesial untuk Kenan.
Buktinya? Tadi malam saja sampai melupakan Bella di luar dan Bella memilih pulang sendiri dengan jalan kaki.
Bella tidak ingin mengalami hal yang seperti tadi malam lagi. Ia pun bangkit dengan perlahan. Tetap saja pergerakan tubuhnya itu dapat dirasakan oleh Kenan.
Ia pun mengerjab, "Mau kemana? Masih malam sayang. Tidur lagi aja, ya?" katanya pada Bella dengan mata terpejam lagi
__ADS_1
Ia hanya melirik sekilas kepada Bella yang sudah terduduk dan dengan cepat Kenan menarik lagi tangannya hingga kini tubuh keduanya kembali saling memeluk.
Hanya untuk Kenan tetapi tidak untuk Bella. Ingin sekali Bella membalas pelukan itu. Tetapi teringat kejadian tadi malam, Bella mengurungkan niatnya.
"Bangun Bang Kenan. Sudah subuh!" ucap Bella denagn segera melepas paksa tanagn kenan yang membelit tubuhnya.
Kenan tersentak.
Ia yang baru saja ingin masuk ke alam mimpi lagi, kini tersentak saat tarikan Paksa dari tangan Bella membuatnya terkejut dan spontan saja terdududk.
Bella berlalu masuk ke kamar tamu. Tadi malam, Ia sudah membereskan semua baju miliknya yang berada di kamar Kenan. Tidak ingin di kamar seseorang yang memang bukan untuknya.
Sementara Kenan yang sudah sadar pun segera mengejar Bella ke atas yang dikira olehnya jika Bella masuk ke kamar mereka.
Kenan berlari-lari kecil untuk menemui Bella di undakan tangga. Tiba di kamar mereka berdua, Kenan segera membuka pintu itu.
Ceklek!
Kenan terpaku.
Seluruh ruangan itu gelap gulita. Kenan meraba saklar yang ada di dinding sebelah Kanan di tempat ia berdiri sekarang ini.
__ADS_1
Cetak!
Lagi, Kenan mematung melihat seluruh isi kamar yang tidak berubah sama sekali saat terakhir kali ia masuk ke kamarnya itu tadi malam.
Kenan menatap nanar pada lemari nya yang terbuka sedikit disana. Ia sudah bisa menebaknya.
"Segitu tidak inginkah kamu tidur di kamar ini Dek? Apakah kamu begitu marah hingga kamu memilih pindah kamar??" gumam Kenan begitu lirih dengan menahan sesak di dadanya.
Ia berpikir jika Bella bisa menerima alsannya yang tadi malam karena lupa. Tetapi tidak. Bahkan semua bajunya ia pindahkan ke kemar bawah.
Di kamar tamu.
Sedangkan Bella yang sudah selesai dengan ibadahnya, segera menuju dapur untuk memasak sarapan pagi mereka sebelum keduanya berangkat ke rumah sakit.
Ingin tidak melakukan. Tetapi tidak bisa. Karena dirinya merupakan seorang istri yang sah untuk Kenan.
Walau Kenan menganggapnya hanya sebuah sandiwara, tetapi bagi Bella. Pernikahan itu suci. Ia tetap akan berpegang teguh pada pendiriannya.
Biarlah ia mengikuti seperti apa arus takdir membawanya yang mengikut sertakan dirinya di dalam air itu bersama Kenan.
Ia hanya tidak ingin tidak tanggung jawabnya sebagai seorang istri terabaikan lantaran kelakuan Kenan tadi malam.
__ADS_1