Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Aku mundur!


__ADS_3

Kenan jalan sambil melipir ke tepi dinding. Dirinya masih pusing dan begitu lemas saat ini. Diluar ruangan sudah menunggu seseorang.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka dan menunjukkan seorang perawat laki-laki sedang menunduk padanya.


"Maaf Dokter. Dokter Kezia meminta saya untuk membangunkan Anda tadi," katanya tidak enak pada Kenan yang kini berwajah datar padanya.


"Tak apa. Bantu saya keruangan mereka. Saya masih pusing. Belum kuat untuk jalan." Lirih Kenan masih dengan memegang pelipisnya karena kembali merasa pusing.


"Tentu dokter," sahut perawat lelaki itu.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang inap Bella. Tiba disana, perawat itu segera membuka pintu ruang inap Bella.


Dan terlihatlah disana ada Kezia dan Kenta. Kenan tersenyum dan langsung mendekati bangkar Bella.


Bella mentapnya dengan lembut, "Kenapa? Masih pusing mikirin kekasih kamu itu?" Tanya nya dengan terkekeh kecil.


Kenan pun terkekeh, "Kamu pikir enak apa, harus berdekatan dengan ular terus? Serasa tubuh ini mati dan kaku gegara di lilit olehnya!"

__ADS_1


Bella tertawa. "Tapi yang tadi itu beneran ya?" Tanya Bella lagi


Kenan menghela nafasnya. "Nggak tahu. Abang bingung. Masa' iya Abang harus nikah sih sama dia? Sedang Abang aja udah nikah sama kamu? Kita udahan aja ya? Nggak kuat pura-pura terus.." lirih Kenan sengaja berbaring di bangkar Bella.


Bella terdiam begitupun dengan Kezia dan Kenta. "Tetapi bagaimana dengan bukti itu Bang? Kalau Abang secepat ini menyerah. Berarti keluarga kita tetap tertuduh sebagai pelakunya." Ucap Kenta mengingatkan Kenan


Suami Bella itu memejamkan kedua matanya. Untuk saat ini ia tidak bisa berfikir tentang itu. Yang ia inginkan saat ini hanya pelukan Bella.


Bau harum tubuh Bella obat untuknya yang saat ini sedang dilanda stres berat karena persoalan yang rumit itu.


Bella tidak ingin berbicara. Karena ia sedang mencoba menata hatinya saat ini. "Jika Abang memang sangat ingin menikahinya, maka nikahilah. Aku mundur untuk menjadi istri Abang!"


Deg!


Deg!


"Kenapa? Kenapa kamu pasrah? Bukankah kita sudah berjanji untuk berjuang bersama walau apapun yang terjadi? Kenapa kamu berubah secepat ini?" tanya Kenan pada Bella yang kini menatap lurus ke depan.


"Aku hanya ingin meringankan beban mu. Bukankah kamu sangat tertekan karena tidak bisa berpisah dariku? Sementara kamu sangat butuh bukti dari Katrina itu?"

__ADS_1


Kenan menatap dalam pada manik mata hitam kini yang tersirat luka di dalamnya. "Maaf.." hanya itu yang bisa Kenan katakan saat ini.


Bella tidak menjawab, "Sudahlah Bang. Lepaskan salah satu jika kamu ingin bertahan. Pilih Katrina? Atau Kakak ipar? Semua keputusan ada di tanganmu. Toh, kalaupun kamu menikah dengan Katrina, pastilah Papa akan menghajarmu habis-habisan!" Ucap Kezia menakuti Kenan.


Kenana berdecak sebal. "Siapa juga yang mau pisah sama kakak ipar kamu? Bisa mati Abang jika itu sampai terjadi. Bella segalanya untukku. Tak mungkin ku lepas begitu aja. Bella hidupku." Balasnya pada Kezia yang kini sedang mencibirnya.


"Heleh. Kalau memang kakak ipar itu hidupmu, seharusnya Abang tahu dong kalau Kakak ipar itu kecelakaan tadi?" sindir Kezia dan membuat Kenan terkejut dan menatap dalam pada Bella.


"Beneran sayang? Kamu kecelakaan?" Bella mengangguk tetapi tetap berwajah datar.


Tidak ada lagi wajah ceria seperti saat ia masuk tadi. "Kenapa? Apakah ini gara-gara kamu tau jika Abang akan menikah lagi dengan nya??"


Bella diam. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang jawabannya begitu menyakitkan untuk Bella.


Mengetahuinya saja Bella sampai kecelakaan. Lantas, jawaban apa yang akan ia berikan kepada Kenan tentang rencana yang ia sendiri tidak tahu?


"Sayang..."


"Maaf bang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu yang jawaban nya pasti kamu sudah tahu tanpa kamu bertanya. Lanjutkan saja pernikahan mu dengan nya. Tetapi jangan bawa pulang gadis itu kerumahku! Karena aku tidak pernah sudi di madu dengan perempuan ular sepertinya! Sebaiknya kamu makan, bukankah sedari tadi pagi belum makan? Kezia, berikan Abang mu makan!" titahnya pada Kezia dan adik bungsu Kenan itu mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2