Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Permintaan Dimas


__ADS_3

Kenan keluar dari ruangan direktur itu dengan wajah yang kesal dan bersungut-sungut. "Yang benar saja aku di jadikan wakil direktur?? Memang nya aku ini siapa nya Dimas? Abang bukan! Adik bukan! Saudar apa lagi??eh, Abang dan adik sama saja kan ya? Ish.. Kenapa pula aku jadi sensian begini? Ck." decak Kenan dengan segera berlalu menuju ke musholla di dalam rumah sakit itu untuk melaksanakan Sholat dhuhur.


Hal yang tidak Kenan duga ialah Dimas dan Papa Rian pun sedang menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat dhuhur juga.


Ke tiga nya terkejut saat mereka berpapasan di pintu ruang wudhu pria. "Aku perlu bicara sama Abang sebentar. Jangan pergi dulu. Tunggu kami!" kata Dimas yang hanya diangguki saja oleh Kenan.


Kenan pun berlalu dan mulai melaksanakan sholat dhuhur. Tak lama setelahnya, Dimas dan Papa Rian pun menyusul.


Seperti kata Dimas tadi, Kenan yang sudah selesai pun kini sedang menunggunya dan bertafakkur sejenak sebelum memulai tugasnya kembali.

__ADS_1


Dimas yang sudah selesai bersama Papa Rian pun kini mendekati Kenan yang sibuk berzikir di dalam hati dengan mata terpejam.


Sampai-sampai ia tidak sadar jika sudah ada Dimas di depan nya. Dimas tersenyum, ia menyentuh lengan Kenan membuat suami Bella itu terkejut dan membuka kedua matanya.


"Maaf aku menyita waktu Abang sebentar. Ada yang ingin aku katakan sama Abang. Mengenai ucapanku tadi itu memang benar adanya. Aku menginginkan Abang yang menjadi wakilku di tiga rumah sakitku yang lainnya. Aku tidak main-main dengan ucapan ku Bang Kenan! Semua ini sudah ku pertimbangkan. Abang hanya perlu menyanggupi nya saja. Kita akan bekerja sama dalam meningkatkan rumah sakit ini dan tiga lainnnya. Bagaimana? Apa Abang bersedia menjadi wakilku?" tanya Dimas yang kini sedang menatap serius pada Kenan.


Kenan pun demikian. Ia melirik Papa Rian yang kini juga sedang menatapnya menunggu jawaban dari Kenan mengenai permintaan Dimas baru saja.


"Aku tidak akan salah pilih Bang Kenan. Walau umur kamu masih dibawah ku. Tetapi aku yakin, kamu pasti bisa. Sama seperti Kezia yang kini juga sedang memimpin rumah sakit ku di Bandung."

__ADS_1


Kenan terkejut, "Apa maksudmu? Rumah sakit mana yang kamu berikan pada Kezia?"


Dimas tersenyum lagi. "Rumah sakit Jaya Medika. Rumah sakit itu punya Papa Rian yang diturunkan kepada ku untuk ku pimpin. Untuk sementara ini Kezia lah yang memimpin rumah sakit itu sampai aku kembali dan akan menikahinya satu tahun lagi. Bagaimana? Abang mau kan jadi wakil ku? Aku percaya kamu bisa Bang Kenan. Darah pemimpin Papa Reza turun padamu. Aku bisa melihatnya Bang Kenan. Jika Kezia bisa. Pastilah kamu pun bisa."


Kenan menatap dalam pada mata mata hitam yang kini sedang mentapnya juga. Dimas mengangguk.


Dan Kenan pun akhirnya mengangguk juga. "Alahamdulillah kalau begitu. Bersiaplah. Besok pagi kita akan mulai mengumumkan siapa kamu dan sebagai apa di empat rumah sakit kita. Untuk sementara, Abang harus risign dari rumah sakit yang sekarang Abang bekerja. Bisa?"


Kenan tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Tanggung jawab menjaga empat rumah sakit ini lebih berat di bandingkan dengan satu rumah sakit saja. Ayo, saat ini Abang harus mengikuti pelajaran. Tinggal sedikit lagi agar bisa mendapat gelar Spesialis Obigyn."

__ADS_1


"Tentu, ayo!"


Setelahnya mereka bertiga pun pergi meninggalkan mushola dan menuju ke tempat masing-masing untuk melanjutkan tugas mereka.


__ADS_2