
Kenan masih mematung di pelukan Bella. Ia sadar saat Bella mengecup kedua pipi, hidung, kening. Terakhir putik ranum yang sudah membuatnya candu itu.
Kenan pun memejamkan matanya saat merasakan hal yang sama seperti di dalam tidurnya kemarin malam.
Kenan membuka matanya saat merasakan Bella yang kini kembali mulai beraksi ingin memancing sesuatu di dalam tubuhnya.
Sebenarnya kemarin, Kenan sudah berkonsultasi dengan dokter spesiali urolologi. Ia mengatakan jika Kenan sudah sembuh tetapi belum sepenuhnya.
Selagi ia belum membuktikannya dengan cara menyentuh sang istri dan berapa lama ketahanan senjata tempur nya itu, Kenan belum bisa dinayatakan sembuh.
Ingin sekali Kenan menyentuh Bella saat ini. Tetapi Kenan belum bisa. Ada hal yang masih mengganjal dihati dan pikirannya.
Bukan tentang Bella. Tetapi tentang orang lain yang begitu meresahkannya selama ini. Bahkan saudaranya yang di Medan sana Pun sudah mendapat teror darinya.
( akan rilis di bulan maret ye? Ikatan Takdir. Ada Kenan juga di dalamnya )
Mengingat itu tiba-tiba saja Kenan tidak bereaksi sama sekali. Yang membuat Bella saat ini sedang menyentuh alat tempurnya kini menoleh padanya.
"Abang kenapa? Nggak suka ya?" tanya Bella pada Kenan yang saat ini sedang menatap nya dengan wajah datar.
Bella menghela nafasnya.
Ck. Mulai lagi dah! Hadeeuuuuhh..
__ADS_1
"Bang Ke!!"
Deg!
"Hah? Apa sayang? Kamu kenapa? Kamu butuh sesuatu? Loh? Kenapa ini senjata tempur di keluarin kayak begini? Ih, malu Abang! Nggak mengacung dia. Cuma terus sujud ke bumi yang kayak belalai gajah!" ucapnya pada Bella yang kini melongo memandangnya.
Setelah itu Bella tertawa. Kenan terkejut lagi. Saking terkejutnya dengan suara tertawa Bella, sampai-sampai senjata tempurnya itu kejepit resleting celana bahannya.
"Astaghfirullah! Aduh kejepit euuy! Aduhh.. Sakit sayang!" adunya pada Bella yang kini masih saja tertawa
Bella menyentuh kembali alat tempur itu dan memainkannya. Membuat Kenan memejamkan kedua matanya saat merasakan nik mat yang tiada tara dari sentuhan Bella itu.
Ugh..
Semakin lama semakin nik mat hingga rasanya kepalanya itu mau pecah. Bella tersenyum puas. Inilah yang dilakukannya saat Kenan tidur kemarin malam.
Ia melakukannya sesuka hati, hingga Kenan memuntahkan lahar panas miliknya dan membuat Bella tersenyum puas.
"Hah.. Hufutt,," Kenan menghela nafasnya
"Lumayan dari yang semalam!"
Kenan membuka matanya, "Maksudnya?"
__ADS_1
"Maksudnya, sudah sedikit lumayan lama dari yang semalam. Tidak lagi cepat durasinya gitu loh.. Selama ini Adek juga berkonsultasi dengan pakarnya. Abang jangan marah dulu. Adek komsultasi dengan dokter wanita yang suaminya merupakn dokter spesialis urologi. Beliau mengatakan hal ini kepada adek. Dan ya, selama dua minggu ini sudah ada perubahannya walau itu masih sedikit. Tapi nggak pa-pa. Usaha tidak akan menghinati hasil. Iya kan?" katanya pada Kenan yang kini tertegun karena ucapan Bella.
Sejauh itukah istrinya sudah bertindak? Ia menatap Bella yang kini masih memainkan miliknya dengan lembut.
"Kenapa kamu begitu mencintai Abang? Tidak takutkah kamu jika suatu saat Abang meninggalkan mu?"
Deg!
Berdenyut jantung Bella mendengarnya. Ia menoleh pada Kenan tetap dengan senyum manisnya.
"Itu tidak akan terjadi. Adek percaya kok sama Abang. Sekarang Adek tanya. Apakah Abang tidak merasakan sesuatu apapun padaku? Dari semenjak kita bertemu waktu kecil dulu hingga saat ini? Jujur Bang! Adek yakin dengan ucapan Abang ini!"
"Kenapa segitu yakinnya kalau Abang juga mencintai kamu? Sedang Abang belum mengatakannya kepadamu?"
Bella tersenyum lagi. "Abang udah pernah bilang kok sama Adek. Malam kemarin disaat adek membantu Abang lagi. Abang ada mengatakan hal ini. Masih ingat? Atau udah lupa?"
Kenan mengingatnya, ia pun tersenyum. "Tentu. Hanya saja itu Abang pikir cuma mimpi sayang."
"Nggak. Itu bukan mimpi, Itu memang kita berdua yang sedang ber cum bu. Sampai di mana saat Abang akan mencapai puncak, Abang mengakui perasaan Abang padaku. Aku juga mencintai Mirabella, istriku, cintaku, seluruh hidupku. Nafasku. Tanpa kamu tiada lah aku!" kelakar Bella di ujung kalimatnya.
Kenan tertawa. Ia tidak menyangka, jika ungkapan cinta yang ia kira di dalam mimpi itu ini bersambut dengan Bella menerimanya.
Ternyata gadis kecilnya ini juga sangat mencintai dirinya.
__ADS_1