Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Nasihat Mak mertua


__ADS_3

Selesai dengan pemakaian mahar dari Kenan untuk Bella, kini keduanya sedang meminta restu kepada kedua orang tua mereka, Abang serta kakak mereka berdua,


Bunda Zizi memeluk erat tubuh putri bungsunya yang kini sudah menikah dengan pemuda yang selama ini ia sebut di dalam doanya.


"Mak.." lirih Bella sambil memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia dua puluh tahun yang lalu.


Bunda Zizi memeluk erat tubuh Bella denan terus tersedu, "Semoga kamu bahagia Nak.. Doa Mak sudah dikabulkan oleh Allah. Setiap malamnya Mak selalu berdoa dan meminta agar kamu mendapat kan sumi yang sama seperti Mak dulu. Yaitu Ayahmu." Bella mengurai pelukannya dan menatap dalam bola mata yang selalu menatapnya dengan lembut selama dua puluh tahun ini.


Bunda Zizi tersenyum, "Biarlah dia buruk sekarang, tetapi di masa depan dialah yang akan paling mencintaimu dan juga menyayngimu sepenuh hatinya. Setiap orang memiliki masa lalu, Nak. Termasuk suamimu." Bunda Zizi melirik Kenan yang kini terpaku karena ucapan Ibu mertuanya ini. Ibu Mertua Sandiwara bahkan pernikahan pun sandiwara menurutnya. Ck.


"Apa salahnya kalau dirinya buruk di masa lalu? Toh, pada kenyataan nya ketika hidup bersama kita dia berubah menjadi lebih baik?" lagi, pasangan pengantin baru yang sedang bersandiwara itu tertegun dengan ucapan yang merupakan nasihat dari Bunda Zizi untuk mereka.


"Untuk kamu Nak Kenan. Mak tidak akan meminta mu lebih selain kamu bisa melindungi, menyayangi dan mendididk Bella agar menjadi seorang istri yang shalihah. Jika kamu tidak bisa, maka kalian berdua harus bekerja sama untuk bisa mewujudkannya. Sama seperti Mak dan Ayah dulunya. Ayahmu pun sama seperti mu Kenan, tetapi setelah menikah dengan Mak, ia berubah menjadi sosok suami dan ayah yang lebih baik daripada sebelumnya. Untuk kamu Dek, selalu patuhi semua ucapan suami mu. Jangan membantah apapun yang ia katakan jika memang itu benar! Dan jika ucapannya itu salah maka kamu harus menegurnya dengan bahasa yang halus agar ia tidak tersinggung. Paham Mirabella Syahputra??"


Pasangan pengantin baru menatap Bunda Zizi dengan mata berkaca-kaca. Terbesit rasa bersalah karena telah mempermainkan ikatan suci menjadi sebuah sandiwara demi menutupi kesalahan nya. Dan ia pun melibatkan gadis lain yang baru ia kenal dan sekarang telah menjadi istrinya.


Keduanya menagis. Mereka memeluk erat Bunda Zizi dengan erat. "Sudah.. Jangan menangis. Minta restu kepada seluruh keluarga besar kita sebelum kalian memulai kehidupan baru yang di mulai dengan hari ini," ucapnya membuat pengantin bari itu mengangguk dan tersenyum.


Keduanya mengusap air mata itu perlahan dan mulai berkeliling untuk meminta restu kepada seluruh keluarga besar mereka berdua.

__ADS_1


Setelahnya mereka akan mengadakan sesi foto pernikahan mereka. Dimulai dari kedua orang tua, abang, adik, kakak sepupu dan juga saudara lainnya.


Terakhir barulah sesi foto untuk mereka berdua. Foto pertama mereka berdua yaitu dengan saling berhadapan satu sama lain dengan saling bertatapan.


Mereka berdua mengikuti arahan dari sang fotografer sewaan Lana itu. Tetapi Bella merasa sangat canggung kala berdekatan dengan Kenan. Kenan pun demikian.


Papi Gilang yang tau segera memberikan ruang untuk keduanya berbaur dengan saudara yang lain. Tetapi ia menyuruh sang foto grafer untuk membididk mereka saat ada pose yang romantis.


Ck. Dasar Papi Gilang. Ada saja ulahnya. Mulai dari pernikahannya dengan Mami Alisa hingga ke seluruh anak-anaknya ia lakukan hal yang sama.


Sang fotografer terkekeh, kala mendapat usulan seperti itu. Terbukti jika jepretan foto untuk sepasang pengantin baru itu bisa ia abadikan.


Papi Gilang tertawa saat melihat begitu banyak foto romantis mereka berdua tanpa mereka sadari. "Lain kali jika ada yang canggung saat sesi foto, lakukan cara seperti ini. Pastilah berhasil! Kamu lihat sendiri 'kan? Bagaimana keduanya begitu mirip dan sangat dapat?"


"Hooh, Anda benar Tuan Gilang. Saya akan melakukan seperti saran Anda ini. Terimakasih Tuan Gilang!"


Papi Gilang tersenyum, "Sama-sama bang!" jawabnya dengan segera berbaur dengan seluruh keluarga besarnya.


Malam harinya.

__ADS_1


Malam ini Kenan dan Bella akan menginap di rumah Bunda Zizi satu malam saja. Besok, mereka harus kembali ke tempat kosan Bella karena besok Bella sudah harus masuk kembali ke rumah sakit.


Sebenarnya Bella tidak bisa libur, tetapi karena Syakir yang dan Lana yang langsung meminta izin jika Bella akan menikah, makanya pihak kampus dan rumah sakit pun memakluminya.


Tetapi dengan syarat, Bella harus kembali keesokan harinya juga. Mereka menyanggupi. Dan disinilah pasangan pengntin baru itu sedang berada. Di dalam kamar pengantin mereka berdua yaitu kamarnya Bella.


"Ehem, kita perlu bicara dek. Sebentar saja," ucap Kenan memecah keheningan malam di dalam kamar keduanya.


Bella yang sedang bersiap pun menoleh pada Kenan. "Katakan apa yang ingin Abang katakan!" sahutnya dengan wajah datar.


Kenan menghela nafasnya. Inilah yang terjadi jika keduanya saat berdua saja. Bella akan berubah menjadi dingin padanya. Bahkan senyum pun tidak ada.


Kenan menatap lekat pada manik hitam pekat milik Bella yang kini sedang menatapnya dengan dingin. "Terimakasih karena kamu telah bersedia mengikuti kemauan Abang untuk bersandiwara di hadapan kedua keluarga kita. Maaf.. Jika Abang harus melibatkan mu ke dalam masalah Abang. Kita memang menikah. Tetapi Abang tidak akan meminta hak dan juga kewajiban padamu sebagai seorang istri. Abang sadar, jika Abang salah karena telah mempermainkan pernikahan seperti ini. Tetapi Abang tidak punya pilihan lain saat itu." katanya sambil menatap lekat paras ayu Bella


"Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, begitu juga dengan Abang. Besok, Abang akan mengantarmu kembali ke kosan Mu. Dan sore harinya Abang harus kembali ke Jakarta. Tugas Abang belum selesai disana. Cuti Abang pun sudah selesai. Dan.. Untuk segala keperluan mu mulai malam ini, Abang yang akan menanggungnya."


"ini kartu ATM untuk kamu pegang. Setiap bulannya akan Abang transfer uang kesitu untuk keperluan mu selama kamu koas nanti tiga bulan lagi. Dan setelah kamu lulus, kamu akan Abang jemput untuk Abang bawa ke Jakarta. Kamu akan melanjutkan spesialismu nanti disana, untuk sekarang. Biarlah berjalan seperti ini. Untuk tiga bulan ke depan, sandiwara ini selesai. Tetapi ketika kamu nanti ke Jakarta, maka sandiwara ini akan berlanjut."


"Istirahatlah. Abang tidur di bawah saja. Jangan begadang, hem?" katanya pada Bella panjang lebar hingga membuat Bella termangu sejenak dengan memegang kartu tipis ppemberian Kenan di tangannya.

__ADS_1


"Kok sesak ya? Ada apa dengan ku? Kenapa aku merasa sedih saat Abang mengucapkan kata-kata itu? Kenapa aku merasa.. jika dirinya sekarang memberi jarak padaku? Tidak seperti dulunya yang selalu ngotot dan ingin terus di turuti? Hishh.. Kok nggak enak ya?" Batin Bella berkecamuk tidak menentu.


__ADS_2