
Kenan menggenggam tangan Bella, "Maafkan Abang yang terpaksa membuat mu ada di posisi saat ini. Posisi yang salah dan sangat terpaksa kita lakukan. Abang akan berusaha menjaga jarak dengan Katrina, tetapi kamu tahu sendiri seperti apa Katrina?"
"Aku tahu Bang Kenan. Tetapi aku sudah pernah kecolongan sekali dengan kamu membawanya masuk kerumah ini dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamar kamu yang kini sudah menjadi kamar kita! Ingat Bang Kenan! Kamu yang lebih dulu memulainya? Kenapa tidak saat itu kamu membawa nya ke taman belakang? Tetapi tidak. Entah apa maksudmu aku pun tak tahu. Yang jelas. Dua kesalahan mu sudah terlihat jelas. Aku berbicara seperti ini sengaja untuk membentengi diriku agar tidak terluka dengan sandiwara Cinta yang kamu buat ini."
"Bukankah awal mula pernikahan ini sudah terbentuk dengan sandiwara? Dan sekarang kita berdua terpaksa melakukannya lagi karena keluarga mu yang harus kita selamatkan. Aku tahu posisi ini juga sulit untukmu, Bang Kenan. Tetapi aku hanya sedang mencoba mengingatkan mu. Karena aku tahu sifatmu. Walau kita baru saja menikah hampir enam bulan lamanya. Tetapi aku sudah bisa mengenal segala sifatmu."
"Aku akui kamu baik dan ramah terhadap semua orang. Tetapi yang kamu tidak tahu, bisa saja orang yang kamu tolong itu bisa saja menikam mu dari belakang Bang Kenan! Aku hanya mengingatkan. Ini pun sulit untukku. Tetapi tak apa. Akan ku jalani ini dengan ikhlas. Sebaiknya saat ini kita segera ke rumah sakit. Lihatlah ponsel mu sudah bergetar ribuan kali. Pertanda jika kekasih lama rasa baru mu itu sedang menghubungimu?" ucapnya dengan segera mengambil jas putihnya dan juga tas selempang nya.
Setelah itu ia pergi meninggalkan Kenan yang kini mematung karena serentetan ucapan Bella kepadanya yang membuatnya sangat tidak nyaman.
"Ternyata.. Kamu tidak bisa menerima sandiwara ini sayang. Maafkan Abang. Abang akan berusaha secepatnya untuk mendapatkan bukti itu. Maafkan Abang terpaksa harus membuatmu sesakit ini. Setelah ini selesai, kita berdua akan berkumpul lagi dan membangun rumah tangga kita seperti rumah tangga yang lainnya. Abang tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, Bella. Jika pun iya Abang lakukan, itu hanya sandiwara untuk mendapatkan bukti itu. Apapun akan Abang lakukan untuk bisa bersatu denganmu, Bella."
"Semuanya untuk Mirabella.. Untukmu. Bukan yang lain.." lirih Kenan dengan segera mengambil kunci motor dan jas putihnya.
Setelah itu, ia segera menyusul Bella yang kini sudah lebih dulu tiba di rumah sakit.
__ADS_1
Siang harinya dirumah sakit.
Kenan yang baru saja selesai dengan tugasnya memeriksa semua berkas dari empat rumah sakit milik Dimas, kini sedang merebahkan punggungnya di sandaran kursi saat ia merasakan ada seseorang yang memasuki ruangannya.
Kenan yang terlalu lelah pun tidak membuka matanya. Karena ia yakin yang datang itu adalah Bella. Istrinya.
Memikirkan Bella ia jadi terkekeh-kekeh karena melihat Bella yang begitu cemburu karena kembalinya hubungan itu dengan Katrina.
Seseorang yang baru saja masuk itupun kini tersenyum dan semakin mendekati Kenan. Tiba di depan Kenan ia berhenti dan langsung duduk di pangkuan Kenan.
Kenan mengerjab.
Deg!
Deg!
__ADS_1
Kenan terkejut. Sontak saja ia mendorong gadis itu hingga hampir terjatuh jika tidak bertahan di leher Kenan dengan cara merangkulnya.
Membuat Kenan melotot. Ia memegang kedua lengan Katrina bertepatan dengan pintu ruangan itu terbuka dari luar.
Deg!
Deg!
Deg!
Seseorang di depan pintu yang sedang memegang bekal makan siang mereka berdua mematung di tempat melihat posisi suaminya dan juga kekasih lama rasa baru tetapi sandiwara itu sedang berpelukan dan terlihat seperti sedang berciuman.
Ia mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata begitu tajam dan dingin melihat pasangan itu yang tidak mau melepaskan pagutannya itu walau sudah tau ada yang datang.
Ia tidak tahan melihat itu dan segera berdehem dengan menyilangkan tangan di dada.
__ADS_1