Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Wanita tua menyebalkan!


__ADS_3

Setelah tadi bertemu dengan direktur rumah sakit di tempat ia bekerja, kini Bella sedang memeriksa anak-anak yang sat ini sedang dirawat disana karena demam.


Mereka bergurau bersama dengan anak-anak itu. Hingga waktu makan siang tiba. Bella sangat lelah.


Ia masuk keruangannya dimana seluruh temannya sedang bersiap ingin makan di kantin rumah sakit.


Tetapi tidak dengannya. Ia selalu membawa bekalnya sendiri dari rumah. "Yuk kita makan siang?" ajak Dina salah satu rekan kerja dan satu fakultas dengan nya.


Bella menggeleng, masih dengan wajah datarnya. "Kalian aja. Aku bawa bekal kok dari rumah. Aku makan diruangan ini saja. Pergilah. Setelah ini, kita harus berhadapan lagi dengan wanita tua menyebalkan itu!" ketus Bella sangat kesal mengingat tadi pagi ia berhadapan denagn wanita tua menyebalkan itu.


Dina dan temannya yang lain tertawa. "Yang kayak kamu nggak tau aja dengan sikapnya? Sudah banyak perawat dan dokter dirumah ini menolak mengurus wanita tua angkuh itu. Tetapi.. Aku heran deh sama direktur kita? Kok bisa kamu ya yang di tunjuk untuk mengurus istrinya itu?" tanya dena pada Bella yang kini sedang menyenderkan tubuh belakang nya yang terasa sangat pegal.


Bella menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau. "Nggak tau. Tadi pagi setelah kita apel 'kan aku dipanggil? Dan ya. Langsung saja aku disuruh untuk menangani wanita tua itu." Ucap Bella yang memang benar adanya.


Ia sendiri pun tidak tau kenapa pihak rumah sakit malah menugaskannya untuk merawat istri dari direktur rumah sakitnya koas itu.

__ADS_1


Bella hanya mengingat tadi, sebelum ia masuk keruangan itu. Ada secarik kertas yang ia temukan di bawah nampan obat dan di kertas itu bertuliskan kalimat yang tadi Bella katakan pada wanita tua itu tentang Direktur Daud dan juga kasusnya.


Selebihnya Bella mengarang kalimat itu sendiri. Hanya kata-kata itu yang terlintas di pikirannya.


Beruntungnya Bella, direktur Daud tidak marah padanya. Malahan beliau kagum degan sifat dingin dan tegas Bella kepada istri kedua nya itu.


Sedangkan Kenan di Jakarta sana, saat ini ia sedang beristihat. Istirahat sejenak sebelum memulai pekerjaannya yang tersisa dua jam lagi sebelum kuliahnya di mulai.


Namun, baru saja mata itu terpejam sesaat. Kenan sudah tersentak saat merasakan sesuatu yang hangat menjalar di tubuhnya dan juga pusat tubuhnya.


Klep, klep.


Mata itu terbuka.


Deg!

__ADS_1


Kenan terlonjak kaget hingga ia bangun dengan segera saat menyadari ada seseorang di dalam ruangannya dengan wajah yang sembab dan juga sebuah teko air orang itu siramkan ke tubuhnya hingga seluruh tubuhnya basah.


Mulut Kenan kelu walau hanya untuk mencegah wanita itu yang terus menyiran tubuhnya dengan air hangat yang gadis itu bawa dari rumahnya.


"Kenapa? Terkejut melihatku? Atau kamu takut melihatku?" tanya nya pada Kenan yang sedang menatapnya dengan datar.


Seseorang yang berparas cantik itu tertawa menyeringai. "Haahaahaha... Kenapa? Kenapa kamu tinggalkan aku?! Kenapa kamu lebih kabur daripada bertemu dengan keluargaku?!" tanya nya dengan suara melengking tinggi.


Kenan masih terdiam, "Tahu nggak kamu?! Gara-gara kamu menolak menikahiku, kedua orang tuaku terpaksa menikahkan ku dengan pemuda yang tidak aku kenal dan sangat kejam! Aku benci dirinya! Aku muak melihatnya?! Kenapa kamu menolakku Kenan?!" sentak gadis itu lagi pada Kenan.


Tetapi Kenan tetap diam. Ia jengah menghadapi gadis belia tetapi kelakuan nya sudah seperti jalaang di luar sana.


Ah bukan. Ia memanglah jalaang. Kalau tidak, mana mungkin bisa hamil tanpa tau siapa ayah dari janin itu hingga Kenan lah yang menjadi tersangka nya.


Gadis itu masih terisak disana, Kenan lebih memilih diam. Tidak ingin menyahuti Gadis yang sudah membuat citra nya buruk dihadapn Papa Reza. Dan dengan tidak tau malu sengaja gadis itu menuduh Kenan yang telah menodainya.

__ADS_1


Padahal tidak. Gadis itu memanglah sangat tidak tau malu. Bergonta ganti pasangan dan tidur bersama pasangannya itu, setelahnya putus cari lagi mangsa yang baru.


__ADS_2