Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Ketahuan


__ADS_3

''Tentu, silahkan. Sebentar saya ambilkan makanan lagi untuk kamu!'' katanya dengan segera berlalu.


Kenan terus menatap Bella yang masuk ke dalam kos nya. seutas senyum manis terbit di bibir pria tampan bergelar playboy itu. Ia sangat senang saat bersama Bella. Ada rasa yang entah seperti apa.


Selama ini banyak gadis yang ia temui tetapi hanya Bella yang bisa membuat nya tersenyum hingga menggeleng kan kepala nya.


Bella datang dengan membawa lagi makanan dengan puring yang baru. Kenan tersenyum lagi. Tetapi Bella biasa saja.


''Menarik! Jika gadis lain sudah klepek-klepek dengan senyuman ku. Lah ini? Datar euuyy. Kayak triplek! Tetapi ketika Bella senyum, cantik sekali. Mirip dengan Kak Annisa. Eh?'' batin Kenan dengan terus menatap Bella.


Bella yang ditatap seperti itu memutar bola mata malas. ''Makan dulu woy! Emang kenyang apa dengan lihat aku terus?? Ck. Perut kamu yang lapar! Bukan mata kamu!'' ketusnya, membuat Kenan terkejut.


Kenan tersenyum malu. Ia kembali makan dengan lahap. Bella terus saja menatapnya sambil melipat tangan di dada dan menyender di depan pintu kosan nya.


Setelah selesai, Kenan memberikan piring itu kembali dan Bella kembali memberikan segelas air putih hangat padanya. Sama seperti tadi. Lagi, hati Kenan tersentuh.


Kenan melihat Bella yang ingin masuk pun berbicara lagi. ''Abang boleh pinjam kamar mandi kamu sebentar nggak? Kebelet. Sekalian Abang mau sholat isya dulu,'' katanya sambil menatap Bella yang kini juga berbalik melihatnya.


''Ya, tapi setelah ini kamu tidur diluar seperti yang saya katakan tadi!''


Kenan tersenyum senang. ''Terimakasih Dek!''


Dengan segera Bella dan Kenan masuk kedapur didalam kosan Bella. Satu kata yang bisa Kenan ucapkan untuk kosan Bella. Sangat nyaman.


Kenan tersenyum melihat dapur Bella yang bersih. Begitupun setiap sudut itu tersusun rapi lemari baju dan juga rak buku yang lumayan tebal.


Kenan mengayunkan tungkainya untuk masuk ke kamar mandi Bella. Sepuluh menit kemudian, Kenan keluar dari kamar mandi itu dan tertegun melihat sajadah sudah terbentang di lantai yang sudah di bentangkan Ambal beludru oleh Bella.


Lagi, hati itu tersentuh. Bibir itu tidak berhenti untuk tidak tersenyum, sementara Bella sendiri sudah duduk diluar dengan mata terpejam.


Sepuluh menit berlalu, Kenan sudah selesai. Ia keluar dari kamar Bella setelah melipat sajadah itu dan keluar menuju ranselnya.


Deg!


Kenan terpaku pada sosok Bella yang kini sedang memeluk ranselnya. Mata terpejam dengan kepala menyender di sandaran kursi panjang yang ada di depan kamar kos Bella.


''Ya Allah.. apa aku salah jika membawa Bella ke dalam masalah ku?? Tetapi aku tidak punya cara lain. Aku hanya punya cara itu saat ini kalau sampai aku ketahuan kesini. Maafkan Abang, Bella. Abang harus membawa mu dalam masalah ini.'' Batinnya dengan segera duduk di kursi panjang itu.

__ADS_1


Kenan duduk disamping Bella hanya berjarak tiga jengkal saja. Karena merasa sangat mengantuk, Kenan pun terlelap di kursi panjang itu.


Sedangkan di bandara sana, Zidan sedang memeriksa tekanan cctv di setiap sudut ruangan. Zidan meminta izin untuk melihatnya walau sebenarnya pihak bandara tidak mengizinkan nya.


Tetapi karena Zidan seorang yang di kenal oleh seseorang disana, maka ia di izinkan. Dan saat ini mereka sedang di ruang kontrol bandara Kuala namu.


Zidan menghela nafasnya saat menyadari jika Kenan menyamar menjadi seorang wanita berhijab. Beruntungnya Zidan, ia sangat kenal dengan adiknya itu.


Mereka terus melihat kemana arah motor itu, hingga Zidan teringat jika di daerah itu ada satu kosan putri.


Secepat kilat ia menuju kesana. Sebelum nya, ia mengucapkan terima kasih kepada pihak bandara yang telah mengizinkannya untuk melihat rekaman cctv yang seharusnya tidak di izinkan terkecuali pihak tertentu.


Cukup lima belas menit, Zidan dan para anggotanya sudah tiba di kosan putri itu. Zidan turun dan menemui satpam seorang diri.


Sedang Anggotanya menunggu diluar mobil. Tiba di pos satpam, Zidan melirik ke dalam kosan sana.


Deg!


Deg!


''Assalamu'alaikum Pak, maaf saya mengganggu. Boleh saya masuk ke sana? Saya ingin menjemput adik saya! Lelaki yang duduk di kursi itu!'' tunjuk Zidan pada Kenan yang kini sedang terlelap.


Pak satpam yang tadinya sedang serius melihat ponselnya itu pun terkejut. ''Eh, iya Pak! Mari, saya antar. Tetapi saya harap, Bapak yang tenang ya? Jangan mengganggu penghuni kos lainnya?''


''Tentu, saya hanya ingin menjemput adik saya yang sedang kabur dari rumah.''


''Hoo.. pemuda tampan ini toh, tetapi katanya tadi sana saya. Adik Anda itu calon suami salah satu penghuni kos disini! Dia pun sedang koas juga di daerah sini. Makanya ngekos disini agar tidak jauh berangkat dari rumahnya. Tetapi anaknya baik kok.'' Jelasnya membuat Zidan terkejut.


Tetapi ia tetap memilih diam. ''Sudah, disini saja Pak. Saya janji tidak akan membuat keributan!''


''Baik, saya kembali kesana Pak!'' Zidan mengangguk.


Zidan mendekati Kenan lagi yang saat ini sedang terlelap begitu nyaman. Hingga Zidan terpaku pada sosok gadis yang ada di sampingnya itu.


''Bella...'' lirihnya dengan sangat terkejut.


Ia melihat jika Bella tidur dengan nyaman di bahu Kenan. Sedang Kenan memeluk tubuh itu dari belakang.

__ADS_1


Zidan tidak bisa berbicara. Lidahnya Kelu. Bagaimana tidak. Bella merupakan adik dari calon mertuanya sendiri. Yaitu Ummi Ira Sarasvati. Ibu kandung dari calon istrinya. Ziara Puteri Hariawan.


Direktur rumah sakit Ira Sarasvati yang saat ini begitu terkenal karena dirinya sworang dokter kandungan sama seperti sang Abi. Zidan tidak bisa berbicara apapun saat ini.


Sungguh, takdir tiada yang tau. Pikirnya. Zidan sudah menekan. Pasti Kenan kabut karena ingin menikah dnehn Bella. Tetapi kenapa kena selama ini selalu diam dan tidak pernah sekalipun mengatakan tentang Bella padanya.


Zidan menghela nafasnya. ''Dek.. bangun! Sudah subuh. Abang udah dari tadi nyariin kamu! Bangun KENAN PUTRA AR REZA!!''


Deg!


Deg!


Kenan tersentak. Ia membuka matanya ketika mendengar suara seseorang yang begitu di kenalnya.


Mata itu memicing ketika melihat kehadiran seseorang yang membuatnya reflek berdiri dengan tiba-tiba hingga Bella yang sedang tidur di bahunya ikut jatuh ke lantai karena kelakuan nya itu.


''Abang!!!''


Brruukkk..


''Allahu Akbar!! Ishh.. kenapa di dorong sih? Bang Syakir! Sakit ih!''


Zidan yang melihat itu terkekeh kecil. Sedangkan Kenan terkejut bukan main. ''Eh, ya Allah! Maaf Dek! Abang nggak sengaja! Bangun dulu. Ini ada bang Zidan disini..''


Deg!


Deg!


''Bang Zidan?? Zidan yang man- oh.. astaghfirullah!! Calon suami keponakan ku! Ziara!!!'' pekik Bella begitu terkejut ketika melihat wajah tampan Zidan sedang berdiri menjulang di hadapan nya saat ini.


''Kenapa? Kalian terkejut melihat Abang disini?? Kalian sudah ketahuan sekarang!''


Deg!


Deg!


''Apa?! Ketahuan apa?!''

__ADS_1


__ADS_2