Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Kejutan yang membuat darah tinggi


__ADS_3

Brrraakk..


Pyarrr...


Deg!


Deg!


Katrina yang sedang memeluk Kenan itu pun tersentak saat mendengar suara pecahan kaca dari dalam rumahnya.


Kenan memejamkan kedua matanya untuk mengurangi rasa takut yang kini hinggap di hatinya.


"Honey-,"


"Pulang Katrina! Kita bicara kan besok saja. Dan setelah ini, aku harap kamu tidak datang kesini lagi. Pulanglah!" tegas nya pada Katrina yang kini sedang menatapanya dengan raut wajah bingung.


Ia mengangguk, "Baiklah. Aku pulang ya? Besok,. Di tempat biasa. Dah.. Honey!!!" serunya dengan segera keluar dari rumah Kenan.


Sementara Kenan saat ini masih terpaku di tempat melihat kepergian Katrina. Ia berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.


Tetapi disana sudah tidak terlihat Papa Reza melainkan hanya Bella yang sedang membersiihkan pecahan kaca akibat lemparan Papa Reza tadi.


Papa Reza sengaja pergi karena tidak ingin membunuh putra sialannya itu. Ia tidak ingin menantu nya akan takut melihat kelakuan kasar nya terhadap Kenan.

__ADS_1


Masih teringat olehnya, bagaimana Kenan hampir mati jika tidak Zidan yang menyelamatkan nya.


Bukan itu yang menjadi ke khawatiran Kenan saat ini. Tetapi sosok yang kini sedang membersihkan pecahan kaca dilantai rumahnya itu yang sedang ia khawatirkan.


Kenan mendekatinya dan ikut berjongkok bersama Bella. "Abang bantu, Dek." Katanya pada Bella


Tetapi Bella diam saja. Setelah semua pecahan kaca itu bersih, Bella pun berlalu meninggalkan Kenan yang terpaku menatap nya.


Karena tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman, Kenan mengejar Bella hingga menuju dapur miliknya.


Kenan tetap setia berdiri di belakang Bella. Sedang Bella tidak tau. Dan saat ia berbalik, tubuh itu menubruk tubuh Kenan yang tepat ada di depan nya.


Bruk.


"Astaghfirullah!" seru Bella karena terkejut.


Bella menatap Kenan masih dengan raut wajah datar. Wajah Khas Bella. Karena tidak mendengar tanggapan dari Bella, dengan segera Kenan menggendong Bella ala Bridal style untuk menuju ke belakang rumah mereka.


Dimana tadi ia berada sebelum kedatangan Katrina. Bella yang terkejut sontak saja memekik.


"Aakkhtt.. Turunin Bang!" serunya dengan meronta-ronta


Kenan tidak peduli. Ia terus membawa Bella ke taman belakang. Sementara kedua paruh baya itu saling pandang dan menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


Mereka pun berlalu dari sana setelah melihat keduanya kini sedang berpelukan.


Padahal tidak. Kenan lah yang saat ini sedang mendekap Bella begitu erat tak ingin Bella pergi dan mengacuhkannya.


Entah kenapa tatapan mata Bella itu begitu membuatnya takut, hingga tidak ingin untuk melepaskan pelukan itu walau sejenak saja.


"Lepaskan Abang! Sesak akunya! Abang ingin aku mati?!" ucap Bella begitu kesal dengan tingkah Kenan.


"Berjanji dulu, kalau kamu mau dengerin semua yang akan Abang katakan!" balas Kenan masih dengan memeluk erat tubuh Bella yang begitu nyaman hingga menelusup ke dalam hati.


Bella mendengus, ia pasrah. "Baiklah, tapi lepaskan dulu belitan tangan Abang yang sangat membuatku tidak nyaman." Keluh Bella pada Kenan


Membuat pemuda berstatuskan suaminya itu tersenyum lebar hingga menunjukkan giginya yang putih rapi tapi ada taring kecil di sebelah kanannya.


Yang membuat Kenan semakin tampan saat tersenyum seperti itu. Bella melengos. Tidak ingin menatap lama-lama wajah tampan yang akan selalu membuatnya lemah.


"Katakan! Apa yang ingin Abang katakan!" tegas Bella dengan wajah itu kini menghadap ke arah kolam ikan koi yang sedang berenang bebas di dalam kolan kecil berukuran dua kali satu meter itu.


Kenan menghela nafasnya. "Maafkan kelakuan Abang tadi yang membuat mu kesal. Abang sungguh tidak tau tetang kedatangan mu dan Katrina. Tadi subuh Mama dan Papa ingin pergi kerumah temannya untuk menghadiri jamuan sarapan pagi. Abang iya kan saja. Abang beneran nggak tau, Dek tentang kedatangan Katrina. Bahkan Abang sangat kaget saat melihat kedatangan nya dan juga kamu. Padahal kata Mama, kamu akan datang seminggu lagi. Jadi ya.. Maafkan Abang, Dek.." lirih Kenan seraya menatap dalam pada wajah Bella yang menurutnya begitu cantik saat ini.


Bella menghela nafas panjang. "Hem.. Mungkin ini kejutan yang Mama bilang tadi kali ya? Kejutan yang membuat kami sampai darah tinggi!" ketus Bella pada Kenan yang kini terkejut karena ucapannya.


"Kejutan? Kejutan apa yang Mama katakan?"

__ADS_1


Bella melirik sekilas dan mendengus, "Sudahlah Bang Kenan. Aku tau diri kok. Kita menikah hanya sandiwara bukan? Kapan pun kamu ingin berpisah denganku, kamu bisa melakukannya! Orang tua kita tidak ada yang tau akan hal ini. Kamu tenang saja, aku akan tetap memainkan SANDIWARA untuk menjadi istrimu dihadapan seluruh keluarga kita."


"Dan ya, kamu boleh kok bertemu dengan kekasihmu itu? Aku tidak masalah! Lagipun aku datang kesini untuk kuliah bukan untuk mengurusi hidup orang lain! Jadi.. Lakukan sesuka hatimu. Dan aku pun akan melakukan sesuka hatiku tetapi masih dalam batas wajar! Karena bagaimana pun di mata hukum dan agama aku ini tetaplah istri mu. Istri yang sah! Dan aku tau akan batasan ku yang bukan mahram ku!" tegas Bella dengan segera berlalu setelah sedikit menyentil hati Kenan.


__ADS_2