
Malam harinya.
"Hem... Kangen banget sama kamu, sayang.. Dirumah sakit harus kayak biasa.." lirih Kenan memejamkan kedua matanya saat meresapi rasa nyaman yang menelusup ke hatinya karena saat ini ia memeluk Bella dari belakang.
Bella tersenyum, ia memegang satu tangan Kenan dan satu lagi Bella memegang kepala Kenan dan mengelusnya.
"Adek pun gitu kok. Tapi ya.. Harus gimana coba? Bukankah ini ide kita berdua dan juga salah satu cara untuk memberantas kekejaman Katrina 'kan?" Kenan mengangguk
Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat Bella yang semakin erat ia peluk.
__ADS_1
"Jika bukan karena masalah ini, pastilah kita berdua telah bersatu saat ini. Karena kesalahan Abang hingga membuat Abang sulung kita menjadi sasarannya. Padahal tujuannya saat itu hanya ingin membantu tetapi malah ia yang di jebak oleh pembunuh itu."
"Tapi, kenapa mereka menuduh Abang. Sementara di kantor polisi kan Abang cuma sebagai saksi?"
"Saksi sementara setelah bukti rekaman cctv jika Abanglah pelakunya."
"Kok bisa?"
"Sabar Bang, kita cari bersama bukti itu. Dan jika sudah ketemu, segera hubungi Dokter Daud untuk hal ini. Beliau itu orang yang baik. Mungkin ia terpaksa berbuat demikian karena saat ini dirinya dan anaknya merasa terancam karena pembunuh itu. Hem.. Ini sih musuh dalam selimut namanya. Jika pelakunya keluarga terdekat Katrina, pastilah ia memiliki sesuatu atau apa hingga membunuh Mami Katrina. Karena beliaulah yang tahu tentang sesuatu itu. Ataupun bisa jadi, mereka memang sengaja membunuh Mami nya Katrina untuk mengambil seluruh harta nya 'kan? Secara kita tahu, kalau harta mereka itu tidak akan habis tujuh keturunan, Bang." Ujar Bella dan diangguki oleh Kenan.
__ADS_1
"Tidur yuk? Besok kan Abang ingin menyambut kembali si Katro itu menjadi kekasih baru Abang?" kata Bella terdengar sedikit ketus berbeda dari yang tadi begitu lembut
Kenan terkekeh, "Jangan marah. Semua ini demi hubungan kita ke depannya. Apa kamu pikir Abang juga betah terus menyembunyikan kamu seperti ini? Kamu harus Abang tutupi identitas mu dari semua orang. Tidak ingin kamu juga mendapatkan hal yang sama. Abang hanya mau kamu. Bukan yang lain. Apapun yang Abang lakukan, pasti akan Abang bicarakan dulu dengan mu. Tenanglah sayang. Abang hanya menginginkan mu Gataci gadis kecil ku! Cup." Kenan mengecup pipi serta dahi Bella cukup lama.
Membuat istrinya itu memejamkan kedua matanya saat merasakan kehangatan dan rasa nyaman yang Kenan salurkan kepada nya.
"Bersabarlah. Semua ini butuh waktu. Abang terpaksa kembali dengan nya karena memang ini harus Abang lakukan demi dirimu dan keluarga kita di Medan. Semua ini tergantung kepada kita berdua sayang.. Percayalah. Abang tidak akan berubah. Abang akan tetap menjadi suami kamu lahir dan batin. Mungkin untuk saat ini status kamu sengaja Abang sembunyikan demi kita bersama. Abang mohon, jangan pernah meninggalkan Abang dalam keadaan apapun Bella. Jika kamu menyerah, maka kita menyerah bersama. Abang pun sangat berat melakukan hal ini. Tetapi terpaksa kembali bersamanya demi sandiwara cinta kita tidak diketahui olehnya. Bukankah musuhnya musuh itu adalah teman? Inilah yang saat ini Abang lakukan sayang.." imbuh Kenan membuat Bella menghela narfasnya.
"Aku tau semua ini demi hubungan kita dan keluarga kita. Tetapi yang ku takutkan adalah kamu, Bang Kenan. Tidak menutup kemungkinan jika kamu suatu saat nanti pasti akan mengabaikan ku karena gadis itu. Karena aku sudah bisa melihat sifatmu seperti apa. Kamu orangnya tidak tegaan. Jangankan denganku, dengan orang lain pun kamu begitu. Semoga kamu tidak berubah Bang Kenan. Kamu tetap suamiku sampai kapan pun. Jika itu sampai terjadi, mungkin diri ini akan menjadi manusia yang seperti batu tetapi bernafas!
__ADS_1
Semoga saja tidak Bang Kenan.." gumam Bella dalam hati merasa gelisah dengan rencana mereka ini demi menyelamatkan semua orang.