
Kezia mengangguk-ngangguk setuju. "Hoo.. pisang boma toh.. Bilangin ih! Jangan berbelit-belit! Apa Bang Kenan sudah melakukannya? Apakah Kakak sudah isi? Atau? Bagaimana rasanya saat pertama kali? Sakitkah? Punya Bang Kenan besar nggak kakak ipar?" tanya Kezia pada Bella yang kini sibuk dengan makanannya.
Kenan pun demikian. Ia tetap tidak peduli dengan kedua orang itu. Ia sibuk melahpa makanan buatan Bella.
Sebenarnya keduanya saat ini sedang malu. Makanya sengaja dim-diam saja sedari kedua adik mereka itu datang dan menginap disana.
Papa Reza sudah menghubungi Kenan. Dan Kenan pun merestuinya. Walaupun dibalik menginap itu ada misi rahasianya.
Tetapi kedua orang itu tidaklah mengetahuinya.
Kenta dan Kezia saling pandang saat pertanyaan menjebakan dari Kezia yang sudah mereka rencanakan bersama masih belum terjawab dari mulut Bella.
Kenta melirik Kezia dan mengedipkan matanya lagi. Pertanda untuk melanjutkan pertanyaan yang bersifat jebakan untuk Bella dan Kenan itu.
Kezia terkikik geli. Kenta mengulum senyum.
"Kakak ipar! Kok Nggak dijawab sih? Adek nanya loh.." tegurnya pura-pura kesal.
Bella yang sedang sibuk mengunyah makanan itu pun melirik Kenan yang sedang minum, Kezia melihatnya sedang Kenta sibuk dengan makanannya.
__ADS_1
Bella menghela nafasnya, "memangnya kamu nanya apa sih, Dek? Kok yang kayak pingin tau banget reaksi Kakak kayak apa?" ucap Bella tanpa mengalihkan pandangannya pada makanan nya yang ada di piring.
Kezia menahan tawanya. "Ishh.. Adek kan pingin tau kakak! Gimana sih rasanya? Sakit nggak? Enak nggak? Kira-kira pisang boma Bang Kenan besar nggak sih? Kalau sewaktu kecil dulu, sih. Udah lumayan besar. Entahlah saat sudah dewasa. Adek nggak pernah tau. Kakak kan istrinya, pasti dong tahu? Besar apa Nggak kak?" tanya Kezia pura-pura dengan wajah polosnya.
Kenan yang baru saja menenggak minuman nya setengah menatap Kezia dengn tajam. Kenta menunduk dan menahan tawanya.
Mendengar pertanyaan Kezia seketika ingatan Bella tertuju pada saat tengah malam tadi. Mendadak saja wajah itu merona.
Ia malu sendiri ingin menyebutkan sebesar apa punya suaminya itu, ya kali ingin jujur. Bisa ketahuan dong sama Kenan?
Ihhhhss.. Dasar adik ipar nggak ada akhlak! Kok kasih pertanyaan yang kayak menjebak gini sih? Dijawab ketahuan. Nggak di jawab? Haduuhh... Piye iki?
"Besar! Bahkan sangat besar! Kayak rudal Amerika! Eh??"
Byuuurrrr!!
Celutuknya spontan dan membuat Kenan yang sedang minum lagi menyemburkan minum itu hingga menyirami wajah Kenta yang tepat berada di depannya.
"Uhukk.. Uhuuk.. Uhukk..." spontan saja Kenan terbatuk-batuk
__ADS_1
Bella yang tepat berada disampingnya segera menepuk lembut punggung tegap Kenan yang tadi malam ia peluk.
Blusshh..
Lagi dan lagi wajah putuh bersih Bella merona malu. Ia menunduk tidak ingin melihat Kezia yang kini mentapanya tak percaya.
Kezia melongo. Sedangkan Kenta kini sudah berwajah datar. Sedang Bella semakin merasa sangat malu karena sudah keceplosan.
Kenan yang sudah tidak terbatuk lagi pun kini menatap pada Bella. Ia tidak percaya jika Bella mengetahui senjata tempurnya yang memang sebesar rudal Amerika jika sedang mengacung.
Lagi, Bella menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya sudah semakin merah.
"Sayang? Kenapa wajah kamu merah kayak begitu? Kamu sakit? Kamu Alergi udang? Atau telur balado?" tanya Kenan pada Bella yang kini wajahnya rasanya terbakar habis hingga ke telinganya.
Bella tidak menjawab. Ia malah semakin menunduk tidak ingin melihat ketiga orang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang entah seperti apa.
Jika Kezia dan Kenta sudah tau tentang merahnya wajah Bella. Sedang Kenan saat ini berpikir.
Bagaimana Bella bisa tau jika senjata tempurku bernama rudal Amerika? Bukankah tadi malam itu hanya Bella yang di dalam mimpi saja yang aku beritahu? Lantas, darimana Bella di alam nyata bisa tau tentang nama senjata tempur yang baru saja sembuh tetapi belum sempurna jika tidak di praktekkan secara langsung?
__ADS_1
Batin Kenan terus menatap Bella. Sedang yang ditatap sudah ingin meledak saja saat ini.