Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Sadar


__ADS_3

"Jangan bilang kalau kamu memaksanya hingga ia tertekan Katrina!"


Deg!


Katrina terkejut, tetapi secepat kilat ia merubah raut wajah itu menjadi terkekeh kecil.


"Mana ada pi. Lah wong dianya sendiri kok yang mau? Kat nggak maksa loh ya!"


"Nggak! Papi nggak percaya. Papi sangat mengenal siapa kamu Katrina. Semua ini pasti akal akalan kamu, bukan? Kamu sengaja menekannya hingga ia bersedia menikah denganmu begitu?" tuduhnya pada Katrina.


Katrina tertawa, "mana ada yang kayak gitu pi. Dia serius loh.. Ingin menikah denganku, papi. Kalau nggak percaya, tanya aja nanti sama orangnya!" katanya dengan percaya diri.


Sang papi masih menatapnya penuh selidik. "Jika kamu berbohong, siap-siap menerima hukuman dari papi! Tak ada bantahan!" tegasnya pada Katrina yang ingin mangap dan protes dengan ucapannya.


Katrina merengut.


Mereka sama-sama terdiam. Sementara Kenan yang sudah sadar langsung saja menaggil nama Bella.


"Bella.. Bella.. Kamu dimana? Sssttt.. Saya dimana ini?" gumamnya sambil memegang pelipisnya yang berdenyut nyeri


Suster penjaga itu segera keluar dan memberitahu Katrina yang saat ini berada diluar ruangan itu.


"Permisi Dokter katrina. Dokter Kenan sudah sadar!"


Deg!


Papi Katrina menoleh pada perawat itu." Ayo, pi. Kita temui calon suamiku. Ayo!" ajaknya pada sang papi yang kini tertegun saat mendengar nama itu.


Nama yang begitu familiar.

__ADS_1


Kenan?


"Pi! Ayo!"


"Eh? Iya!" sahutnya dengan sedikit terkejut dan segera bangkit dan menuju ke ruangan Kenan berada.


Tiba disana, lagi dan lagi ia tertegun. Benar dugaannya.


Orang yang sama dan nama yang sama. Kenan belum menyadarinya karena matanya masih terpejam saat ini.


Katrina sangat khawatir melihat wajah pucat Kenan. "Kamu sudah sadar honey?" katanya pada Kenan yang kini masih dengan mata terpejam.


Mendengar suara Katrina, seseorang yang tidak ia harapkan Kenan tidak ingin membuka matanya. Yang ingin ia lihat sekarang ialah Bella.


"Apa yang terjadi dengan mu honey?" tanya nya lagi tetapi tetap tidak mendapat jawaban.


Papi Katrina menaikkan satu alisnya keatas pertanda sedang mencerna situasi di ruangan itu. Dimana Kenan begitu enggan membuka matanya karena mendengar suara Katrina, Putrinya.


"Kenan-,"


"Permisi dokter Daud, pasien yang Anda tabrak saat ini sudah sadar." seorang perawat menyela ucapan Katrina yang ingin meneriaki Kenan karena kesal.


"Baik, saya kesana sekarang. Papi tinggal dulu Kat,"


"Hem," sahutnya acuh


Matanya tetap fokus pada Kenan.


Mendengar suara yang begitu dikenalnya, Kenan membuka mata itu dan melihat pada orang yang saat ini sudah keluar dari ruangannya itu.

__ADS_1


"Dokter Daud? Jadi benar jika itu Dokter Daud? Alhamdulillah ya Allah, Engkau mendengar doaku. Bella! Kita selamat sayang! kita selamat!" serunya senang di dalam hati.


Tetapi wajah itu tetap datar dan dingin seperti biasanya saat bersama Katrina. Berbeda jika sedang bersama Bella.


Mengingat Bella, Kenan merasa sesak lagi. Dadanya tiba-tiba sakit lagi. Ia menghela nafasnya berulang kali dan itu tidak luput dari tatapan mata Katrina yang saat ini terus menatap nya dengan wajah dinginnya.


"Jawab Ken! Memangnya kamu kenapa sih? Kok bisa tiba-tiba aja kamu jatuh gitu? Jangan bilang kalau kamu sedang memikirkan istri sialanmu itu!" ketusnya tak suka pada sikap Kenan karena terus saja mengingat Bella istrinya.


Kenan menatap dingin padanya. "Kalau bukan karena bukti dirumah mu, tak sudi aku menjadi pacar walau hanya sandiwara sampai aku menyakiti istriku sendiri demi wanita ular sepertimu! Cih! Muak sekali aku melihatmu! Bella.. Kamu dimana sayang? Maafkan Abang, Dek. Semoga kamu bisa mengerti dengan isi surat itu.." lirihnya dalam hati.


Sementara di kamar sebelah, Bella menatap terkejut padanya.


"Apa kabar dokter Bella? Kita bertemu lagi bukan? Oh ya, saya belum kenal dengan suami kamu loh. Mana dia? Apakah bekerja dirumah sakit ini juga?" tanyanya pada Bella yang kini masih menatap nya dengan raut wajah terkejut.


"Dokter Daud? Kenapa anda di ruangan ini? Sedang apa anda disini? Apakah yang saya tabrak tadi mobil anda dokter?"


Tuan Daud tersenyum dan mengangguk. "Astaghfirullah, maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja. Tadi itu baju saya masuk ke roda. Saya yang sedang melamun tidak sadar. Maafkan saya tuan Daud.." lirih Bella merasa bersalah.


Sementara tuan Daud hanya terkekeh saja. "Panggilkan suami kamu kesini. Tadi saya melihatnya juga sedang tidak sehat? Bukankah dia juga bekerja disini sebagai dokter sekaligus wakil dirumah sakit ini??"


Deg!


Deg!


"Hah? Suami saya sakit?"


"Ya, suami kamu sakit. Dan saat ini ada diruangan sebelah! Cepat panggilkan! ada yang ingin saya tanyakan padanya!"


Bella terdiam, tidak tau harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2