Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Merasa bersalah


__ADS_3

Jawaban Kenan menyulut emosi di diri Papa Reza, dengan cepat ia bangkit dan berdiri dengan menarik kerah baju Kenan yang kebetulan saat itu sedang menggenakan kemeja biru muda sedangkan jas dokternya ia sampirkan di kursi tempat ia duduk.


"Brengsek!!! Anak siallaaannn!! Berani-berani nya kamu tetap menginginkan Bella tetapi juga butuh dengan wanita sarang neraka itu heh?!" umpat nya pada Kenan yang kini sedang memegang kedua tangan Papa nya.


"Ya, karena inilah keputusan ku. Aku tetap menginginkan Bella di sisiku tetapi juga membutuhkan Katrina di hidupku-,"


Bugh..


Bugh..


"Akhtt.." pekik Kenan kesakitan saat wajahnya di bogem oleh Papa Reza


"Brengsek! Anak sialan!! Kurang ajar!! Berani sekali kau pemuda sialaaannn!!!!"


Bughhh..


"Allahu akbar!!" seru Bella saat merasakan tubuh bagian belakangnya begitu sakit.


"Tidaaaaakkk!!!" Pekik Mama Rani sambil berlari mendekati Bella dan Kenan


"Bellaaa!!!!" pekik Kenan


Brruukkkk..

__ADS_1


Keduanya jatuh dengan Bella memeluk erat tubuh Kenan. Mata itu terpejam erat saat merasakan sakit di tulang belakang tubuhnya.


Kenan meringis kesakitan. Tetapi ia lebih pedulii dengan keadaan Bella saat ini.


Untuk sesaat Papa Reza terkejut dengan perbuatan nya yang spontan itu. Setelah sadar, ia meraup wajahnya dengan kasar karena salah buat.


"Ya Allah Nak! Apa yang kamu lakukan huhh?! Kenapa kamu menolong pemuda berandalan ini?!" pekik Papa Reza setelah sadar dari rasa terkejutnya yang sudah membuat sang menantu terluka karena ulahnya yang begitu emosi saat mendengar jawaban Kenan.


Wajah Kenan pucat pasi saat menyadari jika Bella terdiam. Ia mencoba melepaskan belitan tangan halus itu di tubuh tegapnya yang jatuh menimpa dirinya.


Saat ini Mereka berdua terjatuh ke lantai dengan Bella memeluk erat tubuhnya dari depan karena ingin menyelamatkan Kenan dari terjangan Papa Reza.


"Bella! Bangun! Jangan buat Abang takut Bella! Bangun sayang!"


Papa Reza terkejut mendengar ucapan Kenan yang sangat jelas terdengar di telinga nya.


"Sayang??" gumamnya masih dengan wajah terkejut


Kenan refleks saja menyebut kata keramat itu. Ia tidak sadar karena panik dengan keadaan Bella.


Mama Rani menangis. Ia jatuh terduduk di hadapan Bella yang kini tidak sadarkan diri setelah terkena terjangan dari Papa Reza baru saja.


"Bangun Bella! Bangun sayang! Kenapa kamu diam?! Bella?!" panggil Kenan tetap berusaha melepaskan belitan tangan Bella yang begitu erat.

__ADS_1


"Hiks.. Kenapa? Kenapa kalian sampai berkelahi? Hiks.. Huh?! Sekarang kalian lihat 'kan? Apa yang terjadi kepada menantu ku! Kalian berdua harus bertanggung jawab! Aku tidak mau tau!!" seru Mama Rani kepada kedua orang yang kini sangat merasa bersalah karena mereka lah Bella sampai seperti itu.


Saking paniknya Kenan, ia sampai mencium kening Bella berulang kali. Papa Reza terus memperhatikan putra sialan nya itu yang terlihat khawatir pada keadaan Bella.


"Jika memang Kenan menginginkan Bella, kenapa tadi juga ia bilang kalau membutuhkan wanita sarang neraka itu? Untuk apa? Oh tidak! Belum sempat Kenan melanjutkan ucapannya udah ku sepak saja anak sialan ini! Huh! Jangan salahkan aku yang berbuat kasar padanya! Sedari dulu, dia tidak pernah berubah. Tidak sekalipun! Bahkan sudah menikah pun, anak sialan ini tidak juga berubah! Mana berani bilang butuh keduanya lagi untuk hidupnya? Ucapan apaan itu?!" Ketus Papa Reza di dalam hati.


Ia begitu kesal kepada Kenan tetapi juga merasa bersalah karena perbuatan nya yang ingin menghajar putra nya malah Bella yang kena.


Melihat Bella yang tidak mau melepaskan belitan tangannya dari tubuh Kenan, Kenan berusaha bangkit dibantu oleh Mama Rani.


Kenan terpaksa menarik Bella agar mau terlepas. Tetap saja. Belitan tangan Bella semakin kuat. Kenan menangis.


"Jangan gini dek. Kamu sakit loh.. Kita berobat ya?" ucap Kenan begitu lembut tapi dengan wajah basah air mata.


Hingga Bella yang dibawah alam sadar pun mengangguk.


Kedua paruh baya itu tertegun melihat Kenan dan Bella. Sungguh, jika mereka itu pasangan yang memang benar adanya pastilah sangat terlihat romantis sekali.


Sampai-sampai kedua paruh baya itu tertegun sejenak melihat sikap keduanya yang saling khawatir dan saling melindungi.


Pada kenyataannya yang terlihat tidaklah seperti yang terjadi di belakang mereka berdua.


Kenan bernafas lega karena Bella sudah mengendurkan tangannya tapi tidak melepas nya begitu saja.

__ADS_1


Tangan itu masih saja memeluk erat tubuh tegap yang baru pertama kali ia peluk.


__ADS_2