
Bella mengepalkan kedua tangannya. Ia berdiri dengan tegak dan menatap tajam dan menghunus ke jantung.
Tatapan mata itu kini tertuju pada dua orang yang kini masih di posisi yang sama.
Bella berdiri sambil melipat tangan di dada. Ia menatap sinis pada kedua orang itu.
"Ehem! Panas ya ruangan ini melihat sepasang kekasih sedang bercumbu dengan mesra nya??"
Deg!
Deg!
Sontak saja kedua orang itu segera melepaskan diri masing-masing. Bella menatap datar dan dingin pada Kenan.
Jantung Kenan seperti ingin melompat keluar saat melihat tatapan mata Bella yang begitu tajam dan menusuk ke jantungnya.
Katrina terkekeh kecil. "Maafkan kami dokter Bella! Kami baru saja bersatu lagi setelah sekian lama. Dan semua itu pun karena Kenan menikah terpaksa dengan mu bukan?" ucapnya begitu sinis pada Bella.
"Hem, iya sih. Tetapi saya sangat menyayangkan dengan sikap yang tidak sopan kalian ini. Kalian ingin bermesraan itu di hotel kek. Di kamar kek. Atau bahkan di kamar mandi juga boleh. Asal jangan diruang wakil direktur seperti ini? Apa yang akan dikatakan oleh semua orang tentang kalian berdua? Apakah anda ingin membuat citra rumah sakit ini buruk dokter Kenan? Jika itu Katrina tidak masalah. Karena sudah terbiasa melakukan hal yang lebih dari ini di tempat lain bahkan di dalam ruangan inap pasiennya sendiri!"
Deg!
__ADS_1
Katrina meradang. "Apa maksudmu dokter Bella?!"
"Anda tau apa maksud saya dokter Katrina! Apa perlu saya beberkan satu persatu?"
"Kurang ajar!" geramnya dengan segera ingin mendekati Bella dan menamparnya.
Plakk..
"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Katrina pada seseorang menamparnya dengan tiba-tiba.
Bella terkekeh masih dengan tangan terlipat di dada.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Enak mendapat makan siang dengan gamparan karena kelancangan kamu memeluk suami saya? Jangan salahkan saya dong jika adik ipar saya menampar kamu? Jangan lupa jika Kezia pemilik rumah sakit ini karena dia merupakan tunangan dari Dimas Anggara Barathayuda!"
Deg!
Ya, Kezia.
Kezia lah yang menampar Katrina karena dia sangat ingin membalas tentang teror yang ia berikan kepada Abang sulungnya di Medan sana hingga membuat pria dewasa itu semakin ingin mempercepat pernikahan nya dengan keponakan Bella.
Putri sulung Kak Ira.
__ADS_1
Kenan terdiam di sana. Tubuh itu tetap terpaku di tempat saat melihat sang adik datang dan pasti melihat kejadian tadi.
Ia ingin mengambil jalan tengah agar tidak menimbulkan keributan. Karena bisa gagal jika mereka bertiga bertengkar.
"Ayo Cat. Kita ke kantin saja! Biarkan mereka disini! Tidak perlu meladeni mereka. Toh, yang menjalani hubungan ini bukan mereka berdua. Tetapi kita! Ayo!" katanya pada Katrina dan dibalas senyum manis oleh gadis cantik itu.
Kenan segera keluar tanpa memperdulikan adik dan istrinya yang kini menatapnya dengan dingin.
Bella mengepalkan tangannya saat melihat Katrina yang dengan sengaja mengejeknya dengan menunjukkan jari tengahnya.
"Nggak! Aku belum kalah! Kamu salah Katrina! Kamu akan tau berhadapan dengan siapa. Jika Kenan lebih memilihmu, silahkan! Tetapi ingatlah ini. Suatu saat kamu pasti akan menangis meraung karena Kenan lebih memilihku. Istri sah nya. Kamu akan menangis Katrina! Lihat saja!" gumamnya dengan rahang mengetat dan juga mata menatap tajam pada Katrina dan Kenan yang kini sudah menuju ke kantin untuk makan siang.
Lagi, Bella diabaikan. Walaupun itu cuma sandiwara tetapi kenapa sangat sakit.
Bella menahan air matanya.
Kok sesakit ini ya?
Kezia menatap kakak iparnya itu dengan tatapan iba. "Ayo kak. Ini keputusan yang telah kalian sepakati. Ayo, kita makan bersama. Setelah ini, gantian kamu yang membuat Bang Kenan kepanasan! Ayo!" imbuhnya pada Bella yang kini masih menatap dingin dan sendu pada kedua orang itu.
Sementara di kantin sana, Kenan tidak berselera makan. Ia ingin masakan Bella.
__ADS_1
Tetapi karena saat ini ia sedang bersandiwara, Kenan hanya bisa menghela nafas panjang berulang kali. Untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya saat melihat tatapan Mata Bella yang begitu menusuk menghunus jantungnya.