Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Kamu kenapa?


__ADS_3

Kemarin ada ketinggalan satu bab di bab 86 Membalasnya. Baca aja lagi ye? Biar nyambung. Kemarin othor lupa update sih.


Happy reading..




"Panggilkan suami kamu kesini. Tadi saya melihatnya juga sedang tidak sehat? Bukankah dia juga bekerja disini sebagai dokter sekaligus wakil dirumah sakit ini??"



Deg!



Deg!



Bella terkejut. Ia menatap tidak percaya kepada direktur rumah sakit dimana ia koas dulu. Bella mengerjabkan matanya dengan mulut menganga.



"Hah? Suami saya sakit?" tanya nya pada dokter Daud



Beliau mengangguk, "Ya, suami kamu sakit. Dan saat ini ada diruangan sebelah! Cepat panggilkan! ada yang ingin saya tanyakan padanya!"



Bella terdiam, ia tidak tau harus berbicara apa pada direktur rumah sakit di tempat nya koas dulu.



Nggak mungkin kan jika ia bercerita tentang masalahnya dengan Kenan saat ini? Itu sama saja ia membuka aib nya sendiri.



Lagipun dokter Daud tau darimana jika Kenan suaminya? Dan tadi katanya sedang sakit? Sakit apa?

__ADS_1



Setahunya tadi pagi ia begitu sehat saat meninggalkan rumah begitu saja tanpa sepatah katapun padanya.



Rasa sesak yang tadinya sudah hilang, kini muncul lagi. Buliran bening itu mengalir di sudut matanya. Dokter Daud masih saja melihatnya.



Bella melihat dokter Daud dan berkata. "Bisa saya meminta tolong pada Anda dokter Daud? Ini sangat penting. Jika saya tidak bisa menyelesaikan ini segera, maka pernikahan saya yang akan menjadi taruhannya. Jika dokter ingin bertemu dengannya tidak usah. Saya tahu apa yang ia inginkan dari saya. Untuk itu, saya mohon kesediaan dokter untuk membantu saya. Saya tidak akan meminta bermacam-macam. Tetapi cukup satu macam saja!"



Dokter Daud menatap dalam pada manik mata yang terus mengeluarkan cairan bening itu. Beliaupun mengangguk.



Sementara di kamar sebelah, Kenan berusaha bangkit saat melihat Katrina sudah tidak ada lagi di ruangan itu.



Ia segera turun dan keluar dari ruangan itu dan menuju keruangannya. Tiba disana, Kenan langsung saja merebahkan tubuhnya di ranjang kecil khusus pasien itu.




"*Maafkan Abang sayang.. Semoga kamu mengerti dan paham. Bantu Abang, dek. Abang butuh bantuan mu. Hanya kamu yang bisa membantu Abang saat ini agar bisa terlepas dari ular betina yang begitu betah melilit orang dengan jeratannya. Jika bukan karena suatu hal dan sebab. Maka aku tidak ingin berurusan dengan wanita seperti nya lagi. Menyesal dulu aku bisa mengenalnya. Jika ku tau ini tujuannya, maka aku tidak akan sudi menceritakan masalahku padanya. Ya Allah.. Semoga penyakitku ini tidak menjadi bumerang bagi diriku karena rahasia ini sudah ku beritahu kepada nya. Semoga ia tidak mengambil kesempatan di dalam kesempatan nantinya*.." lirih Kenan dalam hati merasa menyesal telah mengatakan tentang rahasianya pada Katrina.



Kenan mencoba memejamkan matanya yang begitu berat. Mana lagi hatinya itu begitu sakit saat ini. Sesak yang tiada tara.



Gelisah, khawatir menjadi satu karena sedari pagi terus saja memikirkan Bella yang ia tinggalkan tanpa sepatah kata pun.



Entah berapa lama dirinya terlelap. Ia terbangun karena gedoran pintu diruangan nya yang begitu kuat.

__ADS_1



Kenan mengerjab. Tubuhnya masihlah lemah saat ini. Kenan melirik jam dan waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.



Kenan memijit pelipisnya yang masih terasa sakit. Ia mengambil ponsel yang terletak di meja dan membuka pesan berwarna hijau itu.



Ada lima puluh panggilan tak terjawab dari sang istri dan juga pesan beruntun saat ia membuka pesan itu.



Kenan terkekeh, tetapi kekehan itu terdiam saat melihat jika pelipis Bella di perban serta di tangan kanan nya terpasang jarum infus.



"I-ini ke-kenapa? Ka-kamu kenapa sayang? Ka-kamu dimana?" tanya Kenan pada sambungan video yang sudah terhubung.



Wajah Kenan pucat pasi. Sedang si objek yang ditatap saat ini sedang terkekeh.



"Ck. Abang cepetan kesini! Istri sendiri kecelakan saja kamu tidak tau. Gimana sih!" ketus Kezia begitu kesal pada Kenan.



Bella tertawa. Melihat Bella tertawa, mata Kenan berkaca-kaca. Membuat Kezia memutar bolamata malas.



"Kesini, atau adek bawa pulang kakak ipar ke Medan! Biar tau rasa Abang ditabok Bang Syakir dan Bang Arta!" Ketus Kezia lagi, Bella tertawa lagi.



Kenan tersenyum, "Baik, Abang kesana. Kalian di ruangan mana?"


__ADS_1


"Ada di sebelah ruangan tempat kamu istirahat suamiku.." jawab Bella dan diangguki oleh Kenan.


__ADS_2