
"Terkecuali kamu ingin meminta jauh dari Abang dan juga ingin pergi dari kehidupan Abang. Itu tidak akn pernah terjadi! Kamu ingin meminta yang lain silahkan! Abang tidak akan melarang mu. Tetapi jika kamu ingin pergi dari kehidupan Abang, jangan harap kamu bisa pergi! Sekali Abang memilih mu, maka akan selamanya seperti itu! Kamu ingat itu Dek! Abang tidak main-main dengan ucapan Abang, Bella!"
Deg!
Deg!
"Hah?" Bella melongo mendengar ucapan Kenan yang begitu tidak masuk akal menurutnya.
Kenan masih saja menatap Bella. "Bagaimana? Bisa kita pergi sekarang, dek?" tanya Kenan pada Bella yang saat ini masih menatapnya dengan tatapan yang entah seperti apa.
"Dek?" panggil Kenan lagi tetapi tidak ada sahutan dari Bella.
Kenan menaikkan alisnya melihat Bella, muncul ide nakal di otak kotornya itu. Kenan memajukan wajahnya mendekati wajah Bella yang kini sedang menatapnya tidak berkedip.
Kenan tersenyum tipis, ia semakin mendekat pada wajah Bella. Hingga hembusan nafas keduanya terasa di wajah masing-masing.
"Sayang??" bisik Kenan tepat di wajah Bella hingga Bella mencium bau mint dari setiap hembusan nafas Kenan.
Bella tersentak saat merasakan deru nafas itu semakin kencang menerpa wajahnya. Saking kagetnya Bella, ia sampai berdiri dengan spontan membuat kepalanya menyentuh dagu Kenan secara tiba-tiba.
Duugg..
"Astaghfirullah! Haisshh.. Sakit Dek! Duh.." lirih Kenan sambil mengusap dagunya yang begitu ngilu karena ulah Bella yang seperti sengaja menubruk dagu dengan kepala nya.
Padahal Bella tidak sengaja. Ia reflek saja melakukan hal itu, karena terkejut. Bella salah tingkah. Kenan masih saja mengusap dagunya dengan sesekali mengumpat kecil walau hanya dirinya yang tau apa yang ia umpati itu.
__ADS_1
Zidan yang berdiri tidak jauh dari mereka, ia terkekeh kecil saat melihat tingkah usil Kenan. "Kamu salah jika berhadapan dengannya dek. Bella sama seperti Ziara. Kalem dan lembut. Tetapi begitu ketus dan jutek saat bebicara. Tapi itulah yang Abang sukai darinya. Sungguh, penantianku selama ini, akhirnya berbuah manis. Aku mendapatkan kado istimewa dari Allah, disaat rasa sakit menghantam diriku. Semoga kamu bisa selamanya dan bahagia bersama Bella, Dek!" ucap Zidan pada diri sendiri dengan mata terus melihat pasangan itu.
Bella yang salah tingkah dan merasa bersalah karena telah menubruk dagu Kenan tanpa sengaja, bergegas masuk.
Ia mengambil tas, dan membawa baju ganti dua pasang lengkap dengan atribut dalamnya. Termasuk hijab dan kaos kakinya. Bella menghela nafasnya.
"Semoga keputusanku ini tidak salah ya Allah.. maaf Mak. Abang. Jika sampai kalian terlibat karena hal ini. Apakah aku salah karena telah menolongnya tadi? Ah sudahlah. Mungkin ini adalah jalan Allah untukku. Kita tidak pernah tau seperti apa jalan takldir hidup kita sendiri. Bismillah, semangat Bella!" gumamnya pada diri sendiri dan segera keluar dari kamar kos nya dan menemui Kenan yang kini sedang berdiri di depan pintu dengan membelakanginya.
Melihat Kenan, Bella menghela nafasnya. Ia mendekati Kenan dan mengunci kosnya. Kenan pun melihatnya tanap berbicara sepatah katapun. Bella berjaln terlebih dahulu ke pos satpam untuk berbicara padanya.
Bella ingin pamit pada Pak satpam dan menitipkan motornya di pos satpam saja. Ingin mengabri pemilik kosan tetapi masih sangat pagi. Masih pukul empat lebih tiga puluh, masih jauhh dari waktu subuh walau sebenarnya sebentar lagi.
Setelah selesai, mereka pun pamit pada Pak satpam saja dan segera mengikuti Zidan yang kini sudah masuk ke mobil lebih dulu.
Di ikuti Kenan dan Bella duduk di sampingnya di urutan kedua. Mereka pun melaju menuju ke rumah Kenan untuk membicarakan hal ini kepada kedua orang tua Kenan dan juga Bella.
Wajahnya terlihat tenang, tetapi Kenan tau dari gerakan tangan Bella yang terus saling bergenggaman satu sama lain.
Ingin sekali Kenan menyentuh tangan halus yang tadi ia sentuh dan sangat nyaman itu. Tetapi, ia tidak berani lantaran tadi Bella sudah menegaskan padanya, bahwa apapun yang mereka lakukan saat ini adalah dosa.
Bella tetap teguh pada pendiriannya. Butuh waktu dua jam lebih untuk tiba di rumah keluarga besar Alamsyah. Yaitu komplek perumahan Griya M. Dimana rumah kedua orang tua Papi Gilang berada.
Sedang kedua orang tuanya itu sudah berpulang ke pangkuan Allah saat bang Rayyan melahirkan anaknya bersama Kak Cinta yang kini menetap di Bandung.
Mobil yang ditumpangi Bella terus melaju menuju kediaman keluarga Alamsyah. Karena suara adzan subuh sudah berkumandang, mereka semua berhenti untuk melaksanakan sholat subuh terlerbih dahulu.
__ADS_1
Cukup dua puluh menit saja mereka kini kembali ke mobil dan akan melanjutkan perjalanan lagi menuju kerumah Kenan dan zidan.
Sepanjang perjalanan hanya di isi dengan keheningan. Hanya suara alunan merdu dari sebuah radio yang mengalun lembut suara lantunan ayat suci Al qur'anulkarim hingga membuat Bella yang tadinya sangat gelisah, kini sudah terlelap dengan kepala menyender ke dinding pintu mobil milik Zidan.
Kenan hanya bisa menatapnya tidak berani menyentuhnya lagi seperti di kosan tadi. Zidan tersenyum tipis melihat itu.
Perjalanan yang cukup melelahkan untuk mereka semua. Mereka tiba di rumah Papa Reza dan Mama Rani sudah pagi.
Pukul tujuh lebih lima belas menit. Dan Zidan pun sudah mendapatkan kabar kalau Papa Reza dan Mama Rani ternyata tidak bisa berangkat tadi malam.
Mereka menunda kepulangan hingga nanti malam setelah pertemuan keluarga Dimas untuk membicarakan masalah Kezia.
Zidan pun mengiyakan. Dengan sangat terpaksa Bella harus menginap disana dua malam, dan akan pulang keesokan paginya diantar oleh Kenan sendiri.
Malam harinya.
Mama Rani dan Papa Reza baru saja tiba pukul dua belas malam yang langsung di jemput Zidan dan Kenan ke Bandara.
Mereka berdua meninggalkan Bella sendiri dirumah itu hanya di temani pembantu dirumah itu.
Karena besok pagi Bella harus pulang, terpaksa tengah malam itu juga permasalahan Kenan akan dibahas.
Sebelumnya Papa Reza bertanya kepada Bella siapa orang tuanya, tinggal dimana dan sejak kapan bertemu dengan Kenan.
Bella seperti duduk di kursi pesakitan saat ini. Ia merasa dirinya sebagai terdakwa saat ini. Wajah itu begitu datar. Papa Reza sangat sulit menebak seperti apa wajah Bella yang sebenarnya saat ia ditanya-tanya seperti itu.
__ADS_1
Bella hanya bisa pasrah dengan setiap pertanyaan dari Papa Reza padanya tentang Kenan, putranya.
Ada hal yang sangat mengejutkan keduanya, ternyata setiap jawaban keduanya itu sama. Sangat kompak. Sampai-sampai Papa Reza tertawa melihat kekompakan mereka berdua.