
Kenta masuk ke kamar sebelah kamar tamu dengan bersungut-sungut. "Darimana sih, Kakak ipar tau. Kalau aku sedang mendekati janda muda?? Ishh.. bisa-bisa ketahian misi ku ini. Kalau bukan karena Papa yang menyuruh, aku mah nggak mau kali! Ck. Dasar Papa! Apa sih yang Bang Kenan sembunyikan? Dan lagi, dari gelagat Kakak ipar sangat jelas terlihat kalau ia sedang menyembunyikan sesuatu. Baik. Selama aku disini. Akulah yang menjadi mata-mata untuk kalian berdua. Hah. Sebenarnya ada apa dengan pernikahan kalian ini? Kenapa aku merasa pernikahan ini hanya sandiwara?"
"Dihadapan kami semua kalian bersikap baik-baik saja dan sangat terlihat seperti pasangan romantis. Tetapi jauh dari kami, kalian sampai pisah kamar seperti ini. Ada apa ini Bang Kenan? Kenapa kamu menyembunyikan rahasiamu dari kami?" Lirih Kenta menahan sesak didada mengingat ada satu rahasia yang Kenan sembunyikan begitu rapat hingga keluarga pun tidak tau.
Jika bukan karena seseorang yang mengabarkannya, pastilah sampai kapanpun tidak akan ada yang tau.
Sementara di luar.
Bella dengan segera masuk ke kamar tamu dan mengambul semua barang-barangnya yang sudah ia susun rapi di dalam lemari kini ia masukkan kembali ke dalam koper dengan cepat.
Setelah selesai, Bella segera mengganti bad cover yang ia gunakan saat ini. Ia menggantinya dengan seprei dan bad cover baru.
Ia menghela nafas lega setelah pelerjaanya selesai. Kemudian ia keluar dan naik ke kamar atas untuk meletakkan kopernya di kamar atas. Bella terpaksa kembali ke kamar atas agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi adik iparnya.
Saking paniknya Bella, ia sampai tidak sadar jika Kenan sudah berdiri menatapnya dengan raut wajah terkejut. Ia tidak berbicara sepatah katapun.
Sementara Bella segera mendekati lemari dan menyusun kembali pakaiannya disana dan segera turun untuk menyiapkan makan malam yang sangat terlewat.
Kenan masih tertegun melihat Bella. Tapi tak lama setelahnya ia tertawa senang. Ternyata kehadiran dua adiknya sangat menguntungkan dirinya.
Kenta yang sedang berdiri dan mengintip tingkah Kenan pun tersenyum tipis. "Baru ku tau. Ternyata benar dugaan Papa. Kalian sedang memainkan peran sandiwara. Akan aku lihat. Sampai kapan kalian sanggup bertahan dengan sandiwara ini?" gumamnya sambil berlalu dan menampilkan senyum smirk di bibir tipisnya.
__ADS_1
Ia pun turun untuk menemui Kezia yang saat ini masih terlelepa duruang tivi karena kelelahan dan tidak tidur dari semalam.
Kenta menggelengkan kepalanya melihat sang adik yang begitu nyaman tidur dilantai walau hanya berlapiskan ambal beludru milik Bella yang sengaja Kenan beli untuknya.
Di meja makan.
Pukul delapan lebih lima menit barulah mereka makan malam bersama.
Seperti biasa, Bella tetap melayani Kenan walau dengan wajah datarnya. Kezia berdecak sebal melihat hubungan kedua orang itu.
Benar kata Kenta tadi. Hubungan mereka berdua tidaklah sebaik dan seharmonis yang terlihat. Ternyata di dalam rumah ini begitu dingin dan kaku.
Ck. Ck. Ck.
Kezia berdecak dalam hati. Kenta melirik ke Kezia dan mengangguk. Keduanya pun pura-pura tidak tau seperti apa keadaan rumah tangga keduanya.
Tak ada yang bersuara ketika makan. Hanya terdengar suara dentingan sendok saja saat mereka ingin tambah lagi.
Mereka semua makan menggunakan tangan. Tak ada yang menggunakan sendok. Semuanya makan dengan lahap.
Apalagi makanan Bella sangat enak dan pas di lidah mereka semua. Kenan sampai tiga kali tambah porsi makan.
__ADS_1
Yang membuat kedua saudara itu saling pandang kemudian terkikik geli. "Ehem, Kakak ipar sangat jago masak ya?" ucap Kenta di tengah kesunyian melanda ke empat orang itu.
"Hooh, Abang benar! Lihat saja Bang Kenan! Sampai tambah tiga kali kayak begitu. Apa nggak meletus itu perut? Setau Adek, ya. Abang itu sangat sedikit makannya! Ia akan makan banyak kalau Mami Alisa dan Mama Rani yang memasak! Tetapi ini? Kakak ipar kan ya Bang yang masak? Kok Abang bisa nambah gitu ya makannya? Apakah Abang sudah terpikat dengan masakan Kakak ipar??"
"Hooh, seperti kata pepatah. Lelaki itu cukup tiga hal yang harus di penuhi. Pertama matanya, kedua perutnya, ketiga perut bagian bawahnya yang selalu harus tidak boleh tidak!"
"Perut bagian bawah? Yang mana Bang?"
"Itu yang menggantung kayak belalai gajah tetapi kalau sudah tegak berdiri bisa jadi kayak pohon kelapa ataupun kayu laut!"
"Heh? Apaan tuh? Jangan berbelit ih. Yang jelas Bang Kenta....."
"Pusaka keramat kami. Ada sama Abang dan juga Bang Kenan! Termasuk calon suami kamu! Pedang rusia yang akan menghasilkan seorang anak untuk penerus kami. Sudah paham?"
Kezia mengangguk-ngangguk setuju. "Hoo.. pisang boma toh.. Bilangin ih! Jangan berbelit-belit! Apa Bang Kenan sudah melakukannya? Apakah Kakak sudah isi? Atau? Bagaimana rasanya? Sakitkah? Punya Bang Kenan besar nggak?"
"Besar! Bahkan sangat besar! Kayak rudal Amerika!"
Byuuurrrr!!
Ha.. Loh.. Apaan tuh yang menyembur? 🤣🤣🤣
__ADS_1