Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Sandiwara Cinta


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Kenan tadi, Bella memutuskan untuk turun ke dapur dan meletakakn piring itu di westafel dapur. Ia pun mencucinya.


Masih terdengar jelas perbincangan Kenan dan orang tuanya. Bella menahan sesak didada saat Kenan mengatakan walau Papa Reza memaksa Kenan untuk berpisah dengan gadis itu maka ia tidak akan mau.


Dengan dada yang sesak, Bella menyelesaikan pekerjaan nya yang terkesan lambat dan juga seperti menguping pembicaraan mereka semua


Setelah selesai, Bella segera berlalu. Ia segera menuju ke taman belakang untuk dan duduk dihadapan kolam ikan koi milik Kenan.


Ia termenung disana. Memikirkan nasib pernikahan nya yang seperti permainan. Tidak. Bukan salah Kenan dalam hal ini.


Ia pun salah karena menyetujui sandiwara pernikahan ini demi menyelamatkan hidup Kenan yang karena alasan yang belum sepenuhnya Bella ketahui.


Masih banyak rahasia yang Bella tidak tau tentang Kenan. Memikirkan Kenan, lagi hati itu terluka setelah kemarin pagi saat Katrina datang bersamaan dengan dirinya yang baru tiba dari Medan.


"Abang.. Kakak.. Adek harus apa sekarang? Apakah adek harus bertahan dalam pernikahan yang penuh dengan sandiwara ini? Adek pikir, Bang Kenan bisa adek bujuk untuk melanjutkan pernikahan ini seperti rumah tangga yang lainnya? Tetapi apa? Ia tetap membuat pernikahan ini penuh dengan sandiawa. Tetapi kenapa hati ini begitu menginginkan nya? Kenapa hatiku harus terpikat padanya? Sementara dirinya menganggap pernikahan ini sebagai sandiwara??"


"Andai aku punya pilihan lain, pastilah aku memilih pilihan kedua. Tetapi tidak. Seakan pilihan ini hanya satu-satunya untukku. Dan aku mau tidak mau harus menerima pilihan ini. Tetapi apakah aku sanggup hidup seatap dengan seorang pemuda yang telah mencuri hatiku sejak pertama kali bertemu? Aku menginginkan pernikahan ini seperti pernikahan yang lainnya. Tetapi tidak. Aku tetap harus bersandiwara di hadapan seluruh keluarga kami jika pernikhan ini baik-baik saja."

__ADS_1


"Sulit, sangat sulit untuk ku jalani. Diluar terlihat harmonis seperti pernikahan pada umumnya. Tetapi di dalam nya? Plasu. Semuanya sandiwara saja. Hah. Aku harus menguatkan hatiku untuk menerima kenyataan pahit ini. Inilah diriku yang sebenarnya. Nyata tetapi seperti tak terlihat. Suci tetapi ternoda. tulus tetapi di bohongi. Ya allah.. Salahku juga sih menerima tawaran pemuda berandalan ini. Hem.. Ck!" batin Bela menggerutu kesal karena memikirkan Kenan.


Mata menatap ke arah kolam tetapi pikiran melalang buana entah kemana. Bella masih termenung seorang diri saat seseorang datang untuk menghampiri dirinya.


Ia segera bergabung bersama Bella dengan cara duduk di belakang Bella. Kakinya ia turunkan sama seperti Bella yang kini menjuntai ke dalam kolam ikan koi.


Ia menelusupkan tangannya kesisi kiri dan kanan tangan Bella membuat gadis ayu itu sontak saja terkejut.


Dengan cepat Kenan membelitkan kedua tangannya di perut Bella dan wajahnya ia letakkan di di sisi kanan pipi Bella.


Deg, deg, deg...


Sedangkan Kenan memejamkan kedua matanya saat rasa nyaman dan aman itu menelusup ke dalam hatinya.


Begitupun dengan Bella. Ia pun merasakan hal yang sama. Entah kenapa tubuh kedua nya begitu saling membutuhkan.


Hal yang sulit untuk di jabarkan. Untuk sesaat keduanya terlena dengan hal itu.

__ADS_1


Dua paruh baya di lantai atas sana melihat Kenan dan Bella dengan tatapan yang entah seperti apa. Jika mama Rani menebaknya karena saling mencintai.


Berbeda dengan Papa Reza. Beliau menganggap jika itu hanya sandiwara Kenan saja karena mereka saat ini sedang ada disana.


Tetapi lihatlah nanti setelah mereka berdua pulang ke Medan, pastilah kedua orang itu seperti tikus dan kucing.


Beliau terkekeh memikirkan hal itu. "Kenapa aku merasa apa yang terjadi kepada kami dulu kini terulang kembali kepada mereka berdua??" Batin Papa Reza dengan mata terus menatap sepasang anak manusia itu yang kini sedang berpelukan di kolam ikan mereka di taman belakang.


Sementara Bella dan Kenan saat ini sudah kembali membuka mata mereka. Tak ada yang berbicara. Tatapan kosong begitu terlihat di wajah Bella.


Tanpa di duga buliran bening mengalir di pipi mulus itu jatuh menimpa tangan Kenan yang kini sedang memeluk erat dirinya.


Kenan tau. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya di perut Bella. Ia pun ikut merasakan apa yang Bella rasakan saat ini.


"Andai ini nyata.. Pastilah aku sangat bahagia di peluk olehmu seperti ini. Sangat nyaman dan menenangkan hingga ke hati. Tetapi.. Semua ini merupakan sandiwara untuk kita berdua. Sandiwara Cinta yang sengaja kamu buat untukku demi melindungi satu rahasia yang tidak ku tau. Kamu sengaja membuat pernikahan sandiwara ini agar kamu bisa mengikatku dengan Cinta mu yang palsu ini."


"Maafkan Abang, sayang.. Maafkan jika pernikahan sandiwara ini begitu membuatmu terluka. Maafkan Abang, Bella.."

__ADS_1


Batin keduanya saling merasa tidak nyaman dengan Sandiwara Cinta yang saat ini mereka mainkan.


__ADS_2