
doooooorr..
"J****k.." Bang Rico terjungkal saat memakai sepatunya usai sholat dhuhur di masjid Batalyon.
"Siapa main senapan di jam istirahat begini??" umpat geram Bang Rico kemudian memakai sepatunya dengan cepat.
...
"Kamu???????" mata Bang Rico sudah melotot saat melihat putri Dan Garin sedang memegang pistol di tangan.
"Siapa yang sudah memberimu ijin berada di lokasi ini????" bentak Bang Rico.
"Papa yang ijinkan Ric. Kamu ajari lah Jihan untuk pegang senapan dan pistol yang benar." kata Papa Wira.
"Ijin Dan.. bagi warga sipil yang tidak memiliki surat untuk kegiatan ini.. tidak di perkenankan menyentuh dan menggunakan senjata api" tolak Bang Rico.
"Itu khan peluru hampa. Hanya untuk pertahanan diri. Aman lah" bujuk Papa Wira.
"Siap.. tidak bisa" Bang Rico melangkah meninggalkan semua yang ada di lapangan.
Papa Wira paham sikap menantunya yang kaku dan dingin apalagi sejak sepeninggal Asya.. sifatnya itu semakin menjadi-jadi.
"Nggak usah di paksa Om Wir.. biar saja..!! Yang sombong begitu biasanya tidak ada ilmu." jawab Jihan.
Seketika itu juga Bang Rico menoleh.
"Kamu butuh saya buktikan apa?" Bang Rico mencabut pistol di pinggang nya lalu membidik papan target dua puluh meter di depan matanya.
doooooorr..
Tepat sasaran.
"Ilmu apa yang kamu pertanyakan? Kamu mau saya melepaskan peluru ini di tubuhmu?? Jangan macam-macam..!!" ancam Bang Rico.
"Astaga Rico. Jangan begitu sama perempuan. Sana makan siang dulu..!!" Papa Wira mendorong lengan Bang Rico agar menjauh dari lokasi lapangan tembak.
:
"Sulit Bang, Rico kaku sekali"
"Santai saja. Namanya juga baru di awal." jawab Papa Garin.
Papa Wira mengangguk lalu meneguk es teh di plastik karena Papa Garin meminta menenteng es teh di tangan supaya lebih praktis.
doooooorr..
Tak lama terdengar suara letusan dan umpatan bersamaan dengan tawa membahana.
"Uhuuukk.." Papa Wira sampai tersedak kaget.
"Apa ya Bang?"
~
__ADS_1
Para anggota segera membantu Bang Rico yang terjungkal saat sedang makan siang. Bang Yudha juga segera mengangsurkan minum karena wajah Bang Rico memerah karena tersedak.
"Hahaha... tau rasa.. makanya jangan sok jadi orang" Jihan tertawa tanpa rasa bersalah. Ia menggantung petasan di kolong ikat pinggang Bang Rico dan meletuskannya.
"Ric, itu Jihan putrinya Dan Garin khan?" bisik Bang Yudha.
"Hmm.. biar saja Bang, nanti biar kuman kecil itu saya yang tangani" jawab Bang Rico kemudian melanjutkan makannya dengan tenang meskipun hatinya kesal.
"Hmm.. hati-hati kamu. Anak pejabat tuh. Salah-salah bisa di gulung kamu Ric"
"Aman Bang, kutil kecil itu nggak ada apa-apa nya" bisik Bang Rico.
Kening Jihan berkerut karena Bang Rico tak bereaksi apapun padahal ia mengharapkan bisa ribut dengan 'Praka' menyebalkan itu.
"Kok Om itu diam saja ya, apa perlu aku kerjai lagi.?" gumamnya pelan.
Karena Bang Rico tak kunjung bereaksi.. Jihan mengambil sekantong petasan lagi dari sakunya lalu menyulutnya. Tak tanggung-tanggung dua puluh lima petasan ia gandeng menjadi satu menggunakan tali kemudian ia menggantung di belakang lehernya bagai peluru.
"Nah.. kalau sebanyak ini, kau tidak bisa lolos Om.. dan pastinya kaget setengah mati" gumamnya dengan senyum licik penuh kebanggaan.
jdaaaaarrr..
Satu petasan sudah meletus dan Jihan kaget sendiri.
"Jihaaaaann..!!!!!" Papa Garin yang terkejut menjadi panik tak terkecuali Bang Rico yang baru saja membayar total makan siangnya, ia menoleh dan melihat Jihan terbelit petasan di tubuhnya dan petasan tersebut sudah meledak-ledak tak karuan.
"Allahu Akbar.. Jihan lagi..!!!!" Bang Rico sigap keluar dan berusaha membantu Jihan yang sudah berputar-putar panik.
~
"Jangan pegang Jihan. Om Pasti punya niat buruk..!!!" ucap Jihan padahal dirinya sedang dalam bahaya.
Saking paniknya Papa Garin lari membawa teko air dari dalam kantin.
"Kenapa Abang bawa teko??? Selang Bang.. selaaaang..!!!!!!" kata Papa Wira ikut panik.
"Diam Jihan..!!!!!!!" secepatnya Bang Rico memeluk Jihan yang terus bergerak panik. Tangan itu dengan cekatan melepas petasan kemudian melemparkannya jauh. Keduanya sampai terjungkal, jatuh berguling masuk di kebun jagung Batalyon.
jdaaaaarrr..
"Takuut.. Jihan takut" ucapnya kemudian terisak pelan di pelukan Bang Rico. Tangan Bang Rico sampai lecet tergores batu karena melindungi kepala Jihan.
"Kalau penakut itu jangan berulah. Benar-benar otak kura-kura" bentak Bang Rico dengan kuat.
"Jihaaan..!!!!" Dan Garin berlari menghampiri putrinya masih lengkap dengan plastik es teh di tangannya.
Disana Jihan meronta ingin lepas dari Bang Rico.
"Jangan bentak-bentak, atau kupastikan Papa akan memecat om"
"Berani sekali kamu mengancam setelah saya selamatkan, tau begitu saya lempar kamu ke kandang bebek..!!" bentak Bang Rico lagi.
"Benar-benar dungu, tolol..!! Dimana isi kepalamu sampai main petasan seperti anak TK???????? Itu bahaya Jihan..!!!!"
__ADS_1
Papa Wira dan Papa Garin sampai ternganga melihat posisi Bang Rico berada tepat di atas tubuh Jihan.
"Lahdalah.. cepat bangun Ric..!! Nanti malah anak buahmu yang sigap" kata Papa Garin panik melihat posisi yang berbahaya itu.
"Aarrhh.." Bang Rico berusaha bangkit tapi malah semakin ambruk di atas tubuh Jihan.
"Papaaa.. Jihan nggak bisa nafas..!!" teriak Jihan.
"Jangan teriak Jihan..!!" pinta Bang Rico melemah di samping telinga Jihan.
"Tolong Dan.. saya nggak kuat bangun"
:
Dan Garin mengurut sendiri punggung Bang Rico yang memar membiru karena terhantam batu karena ulah putrinya.
plaaaaakkk..
"Diam Rico..!!" Dan Garin memukul paha Bang Rico yang hanya tinggal menyisakan celana pendek di tubuh.
"Saya nggak apa-apa Daaan" Bang Rico terus meronta karena dirinya tidak suka di urut tapi bingung bagaimana caranya menolak pejabat tinggi seperti Dan Garin.
"Saya ini ahli dalam mengurut, meluruskan otot-otot yang susah lurus" kata Dan Garin dengan percaya diri.
"Balik badanmu, pahamu juga memar tuh"
Daripada semakin lama, Bang Rico berbalik badan kemudian Dan Garin mulai kembali mengurut paha Bang Rico.
"Aaarrghhh.. sakiit Dan" Bang Rico menutupi wajahnya yang terus memercing kesakitan.
"Pa.. ini minyak urutnya" tiba-tiba saja Jihan masuk membawa mangkok berisi minyak urut.
Bang Rico terperanjat dan meraba mencari pakaiannya, ia menutupi tubuhnya tak enak hati hanya memakai celana pendek di hadapan seorang gadis tapi seketika itu juga bagian tubuhnya menegang hebat.
Tak tau kenapa, Jihan pun juga salah tingkah dan secepatnya berlari keluar ruang kesehatan.
Dan Garin melihat minyak urut yang ada di tangannya. Keningnya mengeryit tapi ia segera menepisnya.
~
Bang Rico tak tahan lagi, tangannya mengepal.
"Tangan saya kok panas ya. Ini minyak apa sih?" gumam Dan Garin kemudian menghirup aromanya.
"Laaahh.. iki bocah piye to. Ini sih spirtus. Bukan minyak urut" kata Dan Garin.
"Ijin Dan.. saya sudah nggak kuat" Bang Rico pun berlari menuju barak bujangan dan segera mengguyur tubuhnya dengan air, tak tahan dengan rasa spirtus yang menempel di badan membuat kulitnya panas terbakar.
.
.
.
__ADS_1
.