
Komandan meninggalkan tempat dengan wajah penuh amarah. Ia merasa terhina dengan ucapan Aira yang mengatai dirinya botak meskipun semua itu adalah kenyataan.
"Kenapa kamu bicara begitu dek?"
"Memangnya kenapa? Sembarangan aja mau jodohin suami orang" jawab Aira ketus.
"Tapi komandan nggak tau kalau Abang sudah menikah" kata Bang Vian.
"Abang bela dia? Abang senang kalau di kira belum menikah? Lihat ini.. Abang sudah buat Aira hamil.. terus nggak mau bilang kalau Abang sudah menikah. Abang mau lari dari tanggung jawab?" tanya Aira.
"Astagfirullah hal adzim.. nyebut Abang dek..!! Pikiranmu itu lho kenapa ngelantur kemana-mana" Bang Vian tak habis pikir dengan kemarahan Aira.
"Yang mau lari dari tanggung jawab itu siapa? Buktinya kita sudah menikah"
Aira membuang muka, jelas sekali ia masih sangat kesal dengan om botak.
"Jangan marah disini. Nggak enak sama Abang, Mbak Jihan juga lagi nggak enak badan dek" bujuk Bang Vian. Akhirnya Aira pun ikut tenang.
***
Lewat tengah malam Jihan mengigau dalam tidurnya. Ia sudah mulai tenang tapi terkadang pikirannya masih sering terbayang kotak pemberian 'orang asing' itu.
Keringat dingin mengucur dari dahi Jihan. Genggaman tangannya semakin erat menggenggam tangan Bang Rico.
Merasa ada reaksi dari sang istri, Bang Rico pun terbangun. Nafas Jihan terdengar sesak.
"Astagfirullah dek.. Bangun sayang.. Istighfar..!!!!" Bang Rico menepuk pipi Jihan sampai istrinya itu bisa tersadar.
"Ada.. yang berniat jahat sama kita Bang" ucapnya pelan ketakutan.
"Nggak ada, kalau ada yang jahat sama keluarga kita.. Abang sendiri yang akan menanganinya" jawab Bang Rico.
"Jihan takut Bang" ucapnya jujur.
"Ada Abang dek.. nggak akan ada apa-apa" Bang Rico cemas sekali karena Jihan sampai gemetar.
"Badan Jihan sakit semua Bang, perut Jihan kaku, Jihan susah nafas" kata Jihan. Ia terbatuk melegakan jalan nafasnya.
"Makanya kamu jangan pikir macam-macam. Nggak ada apa-apa dek. Itu hanya keisengan orang saja" Bang Rico mengusap punggung Jihan setengah memeluknya.
Papa Garin pun ikut terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ada apa Ric?" tanya Papa Garin.
"Jihan masih teringat kejadian itu Pa" jawab Bang Rico.
Papa Garin duduk di ranjang Jihan dan mengusap kaki putrinya.
"Kamu ini kenapa Cemen sekali. Setelah di selidiki ternyata itu hanya ulah para bujangan yang kurang kerjaan. Namanya laki-laki pasti mainnya ekstrim" kata Papa Garin mencoba tenang.
"Nggak mungkin Pa, ada bau darah dan setengah busuk. Aku yakin itu ulah orang jahat"
"Sejak kapan sih Papa bohong. Ya kalau tentara yang berulah pasti mainnya nggak biasa lah ndhuk. Tanya suamimu itu"
Bang Rico terpaksa mengangguk mengiyakan agar Jihan bisa sedikit lebih tenang.
"Ngomong-ngomong.. Papa ketiduran. Papa pulang dulu ya. Kasihan Gazha sama Mama sendirian di rumah" pamit Papa Garin.
"Papa pulang sama siapa? Saya antar ya" kata Bang Rico.
"Kamu temani Jihan saja. Papa pulang sama dua ajudan. Aman kok" jawab Papa Garin yang sebenarnya akan pergi menemui seseorang.
-_-_-_-_-
"Lho.. bukannya Papa sudah kembali pulang tengah malam?" Bang Rico balik bertanya pada Mama Esa.
"Nggak tuh.. jam berapa?"
Bang Rico yang awalnya sedang merokok di toilet langsung menyudahi acaranya. Ia bergegas keluar mencari informasi, tapi saat dirinya berjalan di sekitar lorong.. ada dua sosok pria bersimbah darah. Dia adalah Papa Garin dan Papa Subrata yang tak lain dan tak bukan adalah Papa kandungnya.
"Papaa.. Ya Allah Pa.. kenapa bisa jadi begini??" pekik Bang Rico mengikuti kedua brankar itu.
"Perang pun nggak pernah kena tembak. Kalau begini khan Papa jadi bangga. Melindungi putri cantik kesayangan Papa. Dia cantik khan Ric?" tanya Papa Garin terbata.
"Iya Pa, putri Papa cantik sekali. Saya sangat terpesona" jawab Bang Rico memaksakan senyumnya. Ia tak ingin peduli dengan sang Papa, tapi Papa Subrata menyentuh lengannya.
"Apa papa akan punya cucu dari Jihan?"
"Iya, dan sudahi segala pertikaian ini Pa. Aku lelah, aku tidak ingin anak istriku merasakan imbas dari ricuhnya rumah tangga Papa" jawab Bang Rico.
"Tapi salah satu anakmu harus mewarisi 'darah' Papa" kata Pak Subrata.
"Tidak.. dia anak ku. Aku yang akan menentukan kemana arah hidup mereka...!!" Bang Rico berjalan meninggalkan Papa Subrata.
__ADS_1
...
Mama Esa histeris melihat Papa Garin berada di dalam ruang perawatan. Disana Mama Fia berusaha keras untuk membuat sahabatnya sejak dulu itu tenang.
"Maa.. tolong fotoin Papa donk" pinta Papa Garin dari dalam ruang ICU padahal dirinya sama sekali tidak harus masuk ruang ICU.
"Papaaaa.. Papa baik-baik saja khan?" tanya Mama Esa.
"Ini Papa sehat ma, cuma dada sedikit tersentil batu" alasan Papa Garin sampai akhirnya Papa Sanca tak tahan lagi. Beliau menerobos masuk ke ruang ICU.
"Hwaduuuuuuh.. sakit San" protes Papa Garin memercing sakit.
"Cepat keluar. Ruangan ini hanya untuk orang yang membutuhkan. Kalau kau disini.. kau akan menumbuhkan jutaan kuman untuk para pasien" tegur Papa Sanca.
"Aahh kau ini, tidak bisa di ajak senang"
"Dan kau jangan mengajak bercanda malaikat..!! Anak cucumu bisa stress lihat tingkahmu ini" ucap Papa Sanca melotot.
~
Dari balik jendela, Bang Rico memantau keadaan Papa Garin yang tengah ribut dengan Papa Sanca.
Tak lama ada seorang pria menyapa Bang Rico.
"Ijin Dan..!!"
Bang Rico pun menoleh.
"Iya.. ada apa?"
"Ibu............."
"Kenapa istri saya???" tanpa menunggu jawaban Bang Rico segera berlari menuju kamar rawat Jihan.
.
.
.
.
__ADS_1