
Pagi ini anggota kedatangan anggota baru. Kapten Pandu sudah hadir dan pindah ke Batalyon.
Bang Rico sedikit ketar-ketir pasalnya beberapa waktu yang lalu.. seniornya itu memalingkan wajah tak ingin menatap wajah Asya.
"Kenapa skep nya turun disini? Apa tidak ada Batalyon lain? Lalu apa maksudnya menundukkan wajah di depan Asya?? Dia ada rasa sama istriku????" gerutunya sambil menendang batu hingga tak sengaja malah menghantam kepala seseorang.
"Aaawwhh.. siapa nih?" Bang Pandu memercing memegang kepalanya yang sedikit berdarah.
Bang Rico pun kaget setengah mati sudah mencelakai seniornya.
"Ricoo.. kamu lagi..!! Kenapa kelakuanmu seperti anak playgroup? Gabut lu?? Main lempar batu segala. Ada dendam apa kamu sama Abang?" tegur Bang Pandu.
"Siap salah Abang..!! Saya.. hanya singkirkan batu di jalan" jawab Bang Rico.
"Push up kamu..!!!!! Apa ini?? Sambutan untuk Abangmu sungguh luar biasa" Bang Pandu mengusap keningnya yang masih mengeluarkan darah.
"Gara-gara ulahmu ini Abang bisa bodoh permanen"
"Siap Bang..!!" Bang Rico akhirnya menyelesaikan push up dari hukumannya karena sudah melempar batu ke kepala senior nya.
:
Bang Rico duduk bersebelahan dengan Bang Pandu saat ada briefing taktik. Sudah terdengar gaung bahwa ada kerusuhan di wilayah bagian timur negara.
"Untuk saat ini, kita semua standby.. jika sewaktu-waktu negara memanggil, mau tidak mau.. siap atau tidak siap, kita harus berangkat demi negara ini" kata Danyon.
"Siap..!!" jawab seluruh anggota.
"Kamu Pandu.. langsung ikut dalam jajaran" kata Danyon lagi.
"Siap menyesuaikan perintah..!!" jawab Bang Pandu.
Ya ampun.. aku lihat wajah Bang Pandu rasanya kesal sekali. Dasar bujang tidak laku, ingin kuhajar kenapa ada pria sok gagah seperti ini.
Entah apa yang terjadi pada Bang Rico. Ia benar-benar jengkel melihat wajah Bang Pandu, padahal seniornya itu juga gagah penuh wibawa.
...
"Istri Rico sedang hamil muda Bang. Mungkin bawaan bayi saja Rico kesal lihat Abang" kata Bang Yudha.
"Oyaa.. pantas saja kelakuan aneh. Lihat aku seperti lihat musuh saja. Eehh.. tapi khan yang hamil itu Asya.. kenapa yang kesal justru Rico?" tanya Bang Pandu.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Bang, bawaan bayi itu macam-macam Bang" jawab Bang Yudha pada pria yang baru saja menjadi Kapten itu.
__ADS_1
"Gitu ya.. kalau sudah begini rasanya Abang pengen cepat nikah. Sayang.. mana ada wanita yang mau sama Abang" gumamnya kehilangan semangat.
"Hmm.. Abang cuma mau tanya, apa benar Asya itu putrinya Om Wira. Maksud Abang.. putri Dan Wira?"
"Siap.. benar Bang" jawab Bang Winata.
Mata Bang Pandu berkaca-kaca mengingat teman kecilnya dulu, yang ia tau.. jarak usianya dengan Nala kurang lebih enam atau tujuh tahun.
"Abang kenal?" tanya Bang Yudha.
"Iya.. Abang sangat mengenalnya.. seluruh putri Om Wira.. kecuali putrinya yang paling kecil."
"Nafa sudah menikah dengan Prada Acep Bang"
"Kok bisa? Bukannya Prada di pasukan masih ada ikatan dinas?" Bang Pandu bertanya heran.
"Panjang kalau di ceritakan Bang. Kami ini juga menikah dengan gadis-gadis dengan berbagai masalah dan cerita. Jangan jadi beban pikiran.. nanti kalau sudah ada jodohnya.. pasti akan segera di dekatkan Tuhan Bang" kata Bang Yudha.
Entah mengapa dalam hati Bang Pandu hanya terbayang wajah Asya.. tau tau juga apa yang sedang ia rasakan saat ini.
~
Bang Acep berdiri di samping Bang Rico, ia mencoba menelusuri kemana arah mata Abang iparnya.
"Lailaha Illallah.. Aceep..!!!!!! apa sih kamu.. buat kaget aja?" Bang Rico sampai melotot karena suami Nafa itu tiba-tiba menegurnya.
"Kenapa nggak gabung saja Bang, biar tau mereka ngomong apa. Daripada Abang kepo karena mereka membicarakan Asya" kata Bang Acep.
"Kamu dengar juga??" tanya Bang Rico.
Bang Acep hanya mengendikan bahu menimbulkan tanda tanya di hati Bang Rico.
"Ehmm.. menurut mu, Apa Asya bisa saja jatuh cinta sama Bang Pandu?" seketika saja Bang Rico kehilangan rasa percaya diri.
"Kenapa Abang jadi lemah? Nggak biasanya Abang seperti ini. Lagipula nih Bang.. pernikahan itu salah satu syarat kokohnya adalah kepercayaan" kata Bang Acep dengan bijak.
"Abang tau Cep.. tapi ada perasaan yang tidak bisa di tahan. Abang benar-benar kesal lihat wajah Bang Pandu.. ingin sekali rasanya mengajaknya baku hantam" jawab Bang Rico.
"Hahaha.. anak Abang pendekar tuh. Nggak puas kalau nggak ajak papanya gelud"
"Yang penting harus seperti Mamanya.. jangan seperti ayahnya yang begajulan" kata Bang Rico. Asya bisa hamil saja sudah menjadi sujud syukur baginya. Laki-laki atau perempuan tidak lah menjadi masalah berarti.
***
__ADS_1
Hari-hari telah berlalu.. ada kabar dari pusat bahwasanya keadaan di wilayah timur semakin genting dan pihak pusat meminta beberapa perwira dan sebagian besar Batalyon untuk memberangkatkan anggotanya ke medan tugas.
"Dua hari lagi Abang berangkat dinas dek. Kamu baik-baik ya di sini. Jaga anak kita..!!" pesan Bang Rico.
"Berapa lama Abang disana?" tanya Asya.
Bang Rico tersenyum getir mendengar pertanyaan Asya.
"Jika tugas sudah selesai.. Abang pasti pulang. Banyaklah berdo'a agar hatimu tenang..!!" kata Bang Rico kemudian berjongkok mencium perut datar Asya.
"Tidak ada hal di dunia ini yang tidak mengandung resiko, termasuk menjadi istri seorang prajurit. Kamu harus kuat.. Abang titip anak kita dalam penjagaan mu..!!"
Asya mengangguk. Bang Rico berdiri dan memeluk Asya.
"Abang inginkan dua hari ini, kita habiskan bersama..!!" Bang Rico mengecup bibir Asya kemudian melanjutkan aktivitas suami istri bersama istri tercinta.
...
Setelah mendapat ijin dari Dan Wira yang notabene Papa mertua dari Bang Acep.. pria itu meminta waktu dua hari untuk tinggal bersama Nafa.
"Abang hanya ingin menghabiskan waktu satu ranjang dengan istri sendiri. Apa kamu keberatan?" tanya Bang Acep.
"Nggak Bang" jawab Nafa.
"Abang tidak akan pernah memaksa jika kamu memang tidak mau. Abang ingin kamu ikhlas melakukannya karena memang sadar itu adalah kewajiban sebagai seorang istri" kata Bang Acep.
"Maaf ya Bang.. Nafa belum berani" ucap Nafa merasa sangat bersalah.
Bang Acep mengembangkan senyumnya.
"Nggak apa-apa. Abang hanya ingin dua hari ini kita saling mengenal. Semoga setelah ini ada sedikit hati untuk Abang"
Nafa tertunduk malu. Sebenarnya ia bimbang dengan perasaannya sendiri. Tapi sungguh ia belum berani berbagi rasa dengan seorang pria, semua terasa begitu cepat.
Bang Acep mendekatkan wajahnya ke bibir Nafa.
"Tapi kalau Abang minta bibir ini, boleh khan? Abang nggak minta penawar rindu yang lain"
.
.
.
__ADS_1
.