
"Nanti kalau Abang urut.. kamu bilang Abang kurang ajar.. salah lagi dah Abang" ucap Bang Rico padahal dirinya juga sedang berusaha keras mengindari hal yang tak di inginkan.
"Abang panggilkan tukang urut aja ya?"
Jihan mengangguk, ia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.
:
Tukang urut yang sudah tua itu mengurut Jihan. Terdengar suara Jihan merintih kesakitan. Bang Rico tak tau harus bagaimana. Jihan sakit karena menuruti keinginan putranya untuk membuat kolam renang.
"Lain kali nggak boleh begitu ya Bang. Kasihan Mama. Gara-gara Abang minta kolam renang.. Mama jadi sakit begitu" kata Bang Rico.
"Iya yah."
Tak lama tukang urut keluar dari kamar.
"Sudah Pak, otot perutnya tegang sekali." Ibu tukang urut membersihkan tangannya menggunakan lap.
"Mamanya di temani ya Abang ganteng..!!" ucapnya lagi sambil mengusap pipi Gazha.
...
Akibat kejadian itu, Bang Rico meminta anak buahnya untuk membuat kolam renang di belakang rumah.
"Pakai terpal saja yang penting bisa diisi air" kata Bang Rico.
"Ijin Dan.. di sini sulit air." kata Om Dion.
"Kalau begitu alirkan saja air dari sungai, ada mesinnya khan?"
"Siap.. ada Dan"
:
Para anggota pun segera melaksanakan perintah Danki yang super ribet dan sibuk.
"Itu yang sama Danki.. adik atau istri Danki?" tanya seorang anggota.
"Adik kali.. panggilnya dek terus"
"Kalau adik.. kenapa Gazha panggil Mama?" jawab seorang anggota lain.
"Jangan ribet sama urusan Danki. Kalian tau tidak.. Danton saja sampai berkelahi sama Danki karena perkara Mbak Jihan ini" kata Om Dion.
"Abang khan juga kemarin kepo sama Mbak Jihan"
"Iya, sekarang nggak lagi. Saya merasa.. kok aneh ya kalau Abang membela adiknya.. kenapa Danki seperti laki-laki yang sedang cemburu berat" Jawab Om Dion.
"Saya nggak mau kena masalah gara-gara amukan Danki"
__ADS_1
...
Sore itu kolam renang buatan anggota kompi sudah jadi. Jihan tersenyum cantik dan merasa puas, meskipun sederhana tapi bentuknya pun tak kalah bagusnya dengan kolam mewah apalagi Bang Rico sendiri yang menghiasinya. Ada banyak bunga, lampu warna warni dan batu alam di sekeliling kolam berukuran tiga kali dua setengah meter itu, tak lupa bilik bambu yang menutup sekeliling kolam buatan itu terlihat semakin estetik.
"Kurang apa non?" tanya Bang Rico.
"Nggak ada, ini bagus sekali Bang" jawab Jihan.
"Iya yah, bagus sekali. Gazha juga suka. Kita mandi bertiga yuk..!! Ajak Gazha"
Seketika Bang Rico dan Jihan saling bertatapan tapi kemudian keduanya saling membuang muka.
"Gazha sama Ayah"
"Gazha sama Mama" jawab Bang Rico. Keduanya menjawab berbarengan hingga semakin salah tingkah.
"Kita berempat..!!" kata Gazha memutuskan. Memang Gazha masih suka salah dalam menyebut angka.
...
Gazha kecil hilir mudik kesana kemari mengitari kolam kecil itu. Memang Bang Rico sudah mengajari Gazha sampai sekecil itu Gazha sudah pandai berenang.
"Sayang.. sudah yuk.. ini malam lho, sudah selesai isya lho" bujuk Jihan yang sedari tadi hanya duduk di pinggir kolam dan Bang Rico duduk tak jauh dari Jihan. Mendengar suara mamanya, Gazha pun menurut.
"Anak pintar, sini Mama bilas..!!"
Dengan cekatan Jihan mengurus Gazha. "Setelah ini Abang langsung tidur ya.. sudah kenyang khan perut gendut ini?" Jihan menggelitik perut gembul Gazha karena Jihan sudah menyuapi putranya itu.
Bang Rico hanya diam merokok seolah tak mendengar percakapan ibu anak itu padahal dirinya begitu menghindari memandang Jihan.
"Okee sudah, jalan cepat dan pergi tidur. Mama mau bereskan pakaian Abang Gazha" kata Jihan. Gazha pun berlari masuk ke kamar.
Jihan menjemur handuk dan merendam pakaian Gazha dengan sabun cuci. Tak ada pembicaraan penting di antara Bang Rico dan Jihan.
Apaan nih, satu rumah tapi nggak ada suara. Ini rumah atau kuburan.
Jihan masih mondar-mandir, Bang Rico mengambil sabun mandi dan melemparnya sedikit ke tengah, benar saja.. tak lama Jihan lewat dan menginjak sabun mandi.
"Aaaaaaaaa"
byuuuurrr...
Jihan tercebur ke dalam kolam.
"hhppp.. Abaang tolong..!! Jihan nggak bisa renang" kata Jihan.
"Berdiri aja.. pendek kok" jawab Bang Rico santai.
Jihan masih saja bergelung di kolam yang amat sangat pendek itu. Tapi lama-kelamaan reaksi Jihan terlihat aneh. Ia tak bisa naik juga tidak bisa turun.
__ADS_1
"Laahh.. ngopo dek??" Bang Rico segera menarik Jihan ke dalam dekapannya.
"Kaki Jihan sakiit.. sampai punggung" ucap Jihan menangis sembari mengomel saat Bang Rico membantunya. Kini keduanya pun basah kuyup dan saling menatap.
"Mana yang sakit?" tanya Bang Rico lembut.
"Kaki" Jawab Jihan akhirnya berhenti mengomel. Tatapan mata Bang Rico membuatnya kehilangan suara.
Badan Bang Rico rasanya tak karuan melihat Jihan yang basah, kulit Jihan begitu halus mulus begitu pun lekuk tubuhnya begitu seksi. Baju basah itu sampai memperlihatkan apa yang ada di dalam sana.. warna hitam berenda dengan kancing depan. Ingin rasanya mengumpat karena badannya tidak mau di ajak bekerja sama.
Entah setan mana yang mendorong Bang Rico mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir manis Jihan, tapi.. saat itu Jihan tak menolak dan sedang ternganga melihat tetesan air dari jambulnya.
"Apa kamu bisa lupakan pria itu?" tanya Bang Rico.
"Nggak bisa.. karena Jihan, mulai sayang sama dia" jawab Jihan kemudian berdiri dan meninggalkan Bang Rico tapi kemudian Bang Rico menarik tangan Jihan hingga 'Mama Gazha' itu tercebur kembali.
"Abang buat kamu lupa sama dia" Bang Rico memeluk Jihan erat, bahkan sangat erat seakan tak ada celah yang memisahkan mereka kecuali pakaian yang melekat di badan. Bang Rico mengecup bibir Jihan, tangan itu sudah tidak bisa di cegah untuk patroli malam sampai Jihan pun tak bisa berontak.
Bang Rico mulai kalap, nafasnya berat memburu. Pengait Jihan sudah terlepas.. pakaian bawah Bang Rico pun sudah tak tentu arah bentuknya. Tangannya mematikan lampu utama dan hanya tersisa lampu warna warni yang berkelap kelip.
Kali ini Bang Rico sama sekali sudah tak mengingat sosok Asya, kemarin.. saat ia mencoba mendekati Jihan.. ada rasa yang membuatnya begitu takut mengkhianati Asya, tapi kini dirinya sudah menyadari dan rasa takut itu lebih pada tidak ingin kehilangan Jihan.
Bang Rico sudah frustasi dan melepas paguttan nya.
"Apa Abang harus buat adiknya Gazha dulu biar kamu nggak seperti ini terus?" tanya Bang Rico.
Sekuatnya Jihan mendorong Bang Rico.
"Jangan begini Bang. Papa bisa marah"
"Abang yang tanggung jawab Jihan" ucap Bang Rico.
"Nggak.. jangan di buka lagi" Jihan menjauhkan tangan nakal Bang Rico.
"Kita nikah.. Ayo kita nikah" Bang Rico sudah tidak sanggup menahan diri.
"Dasar buayaaa..!!!!!" Jihan menendang Bang Rico hingga masuk ke dalam air, ia membenahi pakaiannya kemudian berlari.
~
Jihan menangis di kamar Bang Rico. Tidak mungkin dirinya menangis di kamar Gazha dan membuat bocah itu terbangun.
"Jihan bilang Papa nggak ya, kalau berteman sama laki-laki yang kurang ajar sampai pegang-pegang.. kata Papa harus bilang." gumam Jihan melepas ingusnya.
"Tapi kata Mama.. perempuan harus punya keputusan sendiri. Terus Jihan harus bagaimana?"
.
.
__ADS_1
.
.