
Saat akan keluar dari kedai warkop, ada seorang pria yang menarik tangan Asya.
"Asya.. Sama siapa kamu dek?" sapa seorang pria yang ternyata adalah kakak kelas Asya di SMA kedisplinan dulu.
"Oohh.. Asya datang sama dia Mas" jawab Asya sekenanya.
Bang Rico yang melihat Asya mengobrol dengan seorang pria, seketika memasang wajah sangar apalagi saat pria itu tak kunjung melepas genggaman tangannya.
Pria itu pun melepas genggaman tangannya tapi wajahnya pun juga terlihat memasang tampang garang.
"Ayo dek..!!" ajak Bang Rico malas.
"Disini dulu lah sya. Punya pacar kok nggak asyik, biarkan dia pergi.. kamu sama aku disini" ledek pria tersebut dan Bang Rico masih tetap diam, tangannya semakin erat menggenggam tangan Asya.
Tapi.. saat pria itu mencoba menyentuh perut Asya.. hal itu langsung menimbulkan reaksi Bang Rico. Secepatnya Bang Rico menepis tangan itu kemudian menghantam wajah pria tersebut sampai mie instan keluar dari lambung pria tersebut. Asya kaget, ia pun mundur dan memilih duduk menutup wajahnya karena sangat takut.
"Beraninya kamu mengganggu istri orang, saya sudah mencoba untuk diam.. tapi kelakuanmu ini amat sangat kurang ajar sekali" Bang Rico kembali menghantam pria itu lebih keras lagi.
Ada seorang pria lain di barisan para tentara, ia melihat kalung yang sedang di pakai Bang Rico, pria itu segera mendekap dan menenangkan Bang Rico.
"Cukup.. jangan berurusan dengan warga sipil..!!!"
Bang Rico masih tetap memberontak marah.
"Saya Abangmu..!!!" kata pria tersebut.
"Siap Abang..!!" barulah saat itu Bang Rico bisa di tenangkan.
Pria itu sekilas menatap wajah Asya kemudian menunduk mengalihkan pandangan.
:
"Siapa Bang?" tanya Asya.
"Bang Pandu. Senior Abang. Sudah Kapten pangkatnya" jawab Bang Rico datar.
Asya mengangguk seakan tak peduli tapi tak tau kenapa tiba-tiba hati Bang Rico terasa sakit sekali, padahal ia tau betul Bang Pandu mengalihkan pandangan dan tidak menatap istrinya lagi.
"Bang Pandu ganteng nggak?" tanya Bang Rico tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa Abang tanya begitu?"
"Abang hanya ingin tau penilaian wanita, terlebih pandangannya terhadap laki-laki bujangan" kata Bang Rico.
"Biasa saja. Begitulah tampang produk kualitas standart" Jawab Asya.
"Jadi menurutmu Abang nggak ganteng?? Atau jangan-jangan Bang Pandu yang lebih ganteng???" tanya Bang Rico kesal.
"Bang Pandu sedikit lebih ganteng" jawab Asya ringan. Bang Rico sudah mulai panas mendengarnya.
"Sisanya yang lebih banyak itu.. ada di Abang"
Bang Rico duduk merenggangkan ototnya.. agaknya sekarang hatinya jauh lebih tenang. Ia mengulum senyumnya karena terlanjur malu sudah terus naik darah sejak tadi.
"Pulang atau belok? di depan ada penginapan" kata Bang Rico memonyongkan bibirnya menunjuk papan nama hotel di depannya.
"Belok..!!"
"Haaahh..???"
"Belok.. atau Asya berubah pikiran" jawab Asya memalingkan wajahnya yang kian memerah.
***
Bang Rico mempersiapkan parasut untuk acara terjun payungnya yang kurang beberapa hari lagi. Acara ini pun sudah di undur satu minggu lamanya karena faktor cuaca.
"Sobri.. tolong ambilkan saya air minum. Mulut saya kok pahit sekali ya" kegiatan Bang Rico sedikit terganggu.
"Siap Dan." Om Sobri pun mengambilkan Bang Rico air mineral.
"Ayo latihan dulu Ric..!!" ajak Bang Yudha mengajak Bang Rico pemanasan untuk acara terjun kelas PLT esok hari.
Bang Rico mengacungkan jempolnya sambil meneguk air minum pemberian Om Sobri.
...
Latihan bersama anggota sudah di laksanakan. Kini sore sudah tiba, Bang Rico bersama rekan melipat parasut untuk kegiatan esok hari. Dari lapangan terlihat Asya sedang berolahraga bersama ibu-ibu yang lain. Bang Rico tersenyum karena Asya mulai akrab dengan ibu-ibu yang lain.
Tak lama Asya berhenti dan memilih duduk di pinggir lapangan. Ia memaklumi rasa lelah Asya karena beberapa waktu ini dirinya sudah berusaha keras 'menggempur' Asya, berharap ada keajaiban dari Tuhan. Obat yang ia beli dari luar negeri memang cukup mahal, tapi semua tak menjadi masalah asalkan benar dirinya bisa membuat Asya hamil lagi.
__ADS_1
~
"Bu Rico nggak enak badan?" tanya Bu Dion melihat Asya sedikit lemas.
"Nggak Bu, beberapa hari ini badan saya sering capek. Ini saja saya sudah nggak kuat gerak" jawab Asya.
"Ibu mau saya ambilkan minum?" tanya Bu Dion lagi.
Asya belum menjawab dan malah celingukan mencari Bang Rico kemudian menunduk. Wajahnya pun tiba-tiba pias.
"Abang Rico mana ya Bu?" tanya Asya.
"Kenapa cari Abang?" suara itu mengagetkan Asya. Entah sejak kapan Bang Rico duduk di belakang Bang Rico.
"Bang.. Asya pengen tempe mendoan sama bothok tawon" pinta Asya.
"Laahh.. kok ada bothok tawon segala. Kalau tempe mendoan sih ada di depan pasar, kalau bothok tawon mau cari dimana dek?" tanya Bang Rico. Hari ini pun dirinya lumayan lelah karena semalam baru mengaduk mochi bersama Asya.
Asya menunduk kemudian menangis sesenggukan membuat Bang Rico kelabakan.
"Eehh.. kok nangis. Kenapa dek? Ada yang sakit?" tanya Bang Rico bingung.
"Ya sudah ayo cari mendoan dulu.. tawonnya Abang cari dulu..!!" tiba-tiba saja Bang Rico panik melihat tangis Asya. Bu Dion pun ikut bingung di buatnya.
Tangis Asya kembali terdengar, malah terasa pilu.. wajahnya seakan Bang Rico baru saja melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
"Lahdalah.. nangis maneh. Ngopo to dek??"
Bang Rico mengambil ponsel dalam sakunya.
"Sob.. tolong donk..!!"
.
.
.
.
__ADS_1