Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
112. SP 2. 15. Cemburu lagi.


__ADS_3

Rutinitas sudah teratur terjadi selama beberapa waktu. Segala apapun sudah Jihan tangani karena tiga minggu ini Bang Rico terlalu sibuk dengan kegiatan kantor bahkan sampai pulang malam.


Jihan menyuapi Gazha dan Bang Rico sekaligus karena Bang Rico tidak akan pernah makan jika tidak di suapi Jihan. Awalnya Jihan malu-malu tapi karena Bang Rico terlihat santai saja.. maka semua itu sudah menjadi kebiasaan di setiap harinya kecuali weekend.


"Lama sekali Bang, kapan hari Abang bilang seminggu. Usahakan lagi Bang" protes Bang Rico.


"Iya.. maaf, semua jajaran sedang sibuk-sibuknya kegiatan" jawab Bang Pandu.


Jihan tak bertanya apapun karena takut salah salam urusan kantor Bang Rico.


"Abang berangkat sekarang dek. Mau ada acara terjun bulan depan" kata Bang Rico usai menyelesaikan percakapannya dengan Bang Pandu.


"Iya Bang" jawab Jihan lirih yang kemudian duduk sambil meremas perutnya.


Bang Rico menoleh.


"Kenapa kamu?"


"Sepertinya mau haid Bang. Tapi nggak lancar" jawab Jihan.


Melihat Jihan seperti nya sangat kesakitan,. Bang Rico menuju dapur lalu membuatkan Jihan rebusan air jahe, kunyit, asam dan gula merah karena hanya ada itu bahan yang tersedia di dapur padahal saat itu Bang Rico sudah terlambat di jam apel.


~


"Abang berangkat saja. Jihan nggak apa-apa" kata Jihan kemudian semakin bersandar di sofa.


"Abang antar ke rumah sakit ya?" tanya Bang Rico karena dirinya tidak pernah melihat Jihan lemas seperti ini.


"Nggak usah Bang, Jihan nggak apa-apa"


jawab Jihan.


...


Di sekolah.. Gazha bernyanyi gembira di kelas, ia juga sudah bisa menghafal do'a pendek yang ia ajarkan.


Para guru pun memuji kepintaran Gazha dan itu juga membuat Jihan bangga.


...


Pukul sepuluh pagi waktu nya murid paud pulang. Jihan mengantar jemput putranya itu dengan berjalan kaki karena rumah mereka dengan paud tidak begitu jauh.


"Mama capek ya?" tanya Gazha karena melihat Jihan lemas.


"Iya sayang. Maaf ya.. kita duduk dulu di sini" Jihan mengajak Gazha duduk di bangku taman perbatasan kompi dan batalyon.


"Iya ma" Gazha memijat kaki Jihan dengan lembut agar mamanya tidak capek lagi.


Tak lama terlihat Bang Vian melintas dengan motor.


"Jihan.. habis jemput Gazha ya? Ayo Abang antar..!!" kata Bang Vian menawari tumpangan.


"Terima kasih Bang, sudah dekat rumah nih" tolak Jihan karena paham Bang Rico tidak terlalu menyukai Bang Vian di luar urusan pekerjaan.

__ADS_1


"Kamu pasti kuat, tapi kasihan Gazha.. sudah terik nih matahari nya" jawab Bang Vian.


Karena memikirkan Gazha akhirnya Jihan mau menumpang satu motor bersama Bang Vian.


:


Saat melewati gerbang kompi, tanpa sengaja Bang Rico yang sedang rapat bersama beberapa para senior melihat Jihan pulang bersama Bang Vian padahal ia meminta Bang Vian untuk menghandle lapangan karena dirinya sedang sibuk.


Seketika darah Bang Rico mendidih tapi ia masih berusaha keras menahannya karena dirinya sedang dalam situasi kerja.


...


"Apa nggak kuat jalan kaki yang jaraknya nggak ada satu kilometer? Kalau capek Abang belikan motor" bentak Bang Rico karena benar-benar tidak suka Jihan berdekatan dengan Bang Vian.


"Kuat Bang, hanya saja tadi Gazha kepanasan" jawab Jihan.


"Sudah lah, Jihan mau jemput Gazha ngaji" kata Jihan sore itu.


"Nggak usah alasan.. Gazha baru saja berangkat. Buat apa kamu menunggu dua jam di masjid? Mau ketemu Vian karena dekat mess bujangan??" ucap ketus Bang Rico.


"Iyaa.. memang kenapa? Abang cemburu?" jawab Jihan karena benar-benar kesal.


"Kamu ini memang betul-betul harus Abang hamili biar nggak bisa bertingkah..!!!!" Bang Rico menarik tangan Jihan masuk ke dalam kamar.


"Nggak mau.. Abang mau apa?? Kalau Abang macam-macam, Abang bayar denda..!!!"


Bang Rico seakan tuli, ia mendorong Jihan di atas ranjang lalu mengunci pintu kamar dengan rapat.


"Jihan nggak mau, Jihan takut Bang, tolong jangan" Jihan menjerit menangis histeris, ia takut melihat Bang Rico dengan tampilan yang berbeda, gahar.. maskulin dan begitu gagah. Tapi saat ia menangis, Bang Rico sudah mengobrak abrik dan menghujamkan diri tanpa ampun.


:


Nafas panjang penuh kelegaan terdengar terlepas bebas dari Bang Rico. Ia mengecup bibir Jihan sekilas. Nyawanya pun masih berkumpul untuk bersatu.


"Kenapa kamu harus buat Abang seperti ini. Abang benar-benar ingin menjagamu, tapi setiap kali kamu selalu menguji kesabaran Abang"


Jihan masih menggeliat merasakan bingung dan takut tapi Bang Rico tau pasti Jihan sangat menikmati kebersamaan mereka itu.


Bang Rico menarik diri tapi Jihan merasa sangat kesakitan dan memeluknya erat. Melihat reaksi Jihan.. Bang Rico pun kembali tergoda, bagai singa lapar, dan kembali menunggangi Jihan.


...


Jihan menangis sesenggukan merasakan bagian bawahnya tak karuan dan itu membuat Bang Rico panik. Bang Rico pun memeluk Jihan.


"Abang Jihan nggak kuat sakitnya." Jihan sampai merasa mual.


Bang Rico menyadari dirinya begitu kalap menyelesaikan Jihan.


"Maaf.. maaf.. Abang nggak sengaja"


:


Bang Rico memijat tengkuk Jihan, usai dari kamar mandi tadi.. Jihan langsung mual hebat.

__ADS_1


"Ya Allah Gustii.. iki piye to dek?" Bang Rico cemas sekali melihat Jihan sampai jam menjemput Gazha mengaji jadi terlewat.


"Mamaaaa.. Ayaaaaaaah" teriak Gazha saat pulang ke rumah.


"Salam dulu nak, kata Jihan masih sempat mengingatkan putranya."


"Assalamualaikum.. Mama kenapa? Sakit?" tanya Gazha tak ada rasa kecewa meskipun mamanya lupa menjemputnya.


"Wa'alaikumsalam"


"Iya, mama nggak enak badan. Masuk angin Bang." jawab Bang Rico.


Wajah Gazha berubah mendung.


"Mama jangan ke langit juga ya. Gazha masih pengen sama Mama" kata Gazha.


"Mama baru saja melayang sampai langit, ini baru kembali" jawab Bang Rico yang langsung mendapat tepukan pelan dari Jihan. Tak lama Jihan kembali mual.


:


Karena Jihan tak sanggup berjalan. Bang Rico mengangkat Jihan sampai ke kamar.


Jihan masih memercing kesakitan. Ia masih saja menangis.


"Bang.. tolong ambilkan obat nyeri di tas Jihan" pinta Jihan masih takut berdekatan dengan Bang Rico.


Bang Rico segera mengambilkan obat untuk Jihan. Bang Rico melihat baik-baik obat apa yang sedang di konsumsi Jihan.


"Obat keras. Jihan minum obat keras menjelang haid??" gumam Bang Rico kemudian segera menanyakan pada Jihan.


"Kamu biasa minum obat seperti ini kalau mau haid?" tanya Bang Rico sebelum menyerahkan obat itu di tangan Jihan.


"Iya Bang"


"Kamu di larang minum obat ini lagi. Bukankah ini harus dengan resep dokter. Kenapa kamu bisa punya obat ini?" Bang Rico mulai waspada dengan keadaan Jihan.


"Sejak kuliah dan tau apa fungsinya.. Jihan bisa beli obat itu" jawab Jihan pelan.


"Apa beberapa hari ini kamu minum obat ini?" Bang Rico memastikan.


"Iya Bang"


"Stop.. jangan minum ini lagi. Besok kita konsultasi biar dapat obat yang aman" kata Bang Rico.


Astagfirullah hal adzim.. untung saja masih haid. Coba kalau Jihan hamil.. mati aku.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2