Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
71. Jika cinta tidak sederhana.


__ADS_3

Bang Rico menggendong baby Gazha dalam kegiatan olahraga. Ia terus memperhatikan Asya yang sedang beraerobic ria di lapangan. Kini usia Gazha sudah hampir lima bulan. Selama itu juga Bang Rico sama sekali belum menyentuh Asya.


"Gendong kok melamun? Gazha nangis tuh Ric" tegur Bang Pandu.


Bang Rico baru tersadar saat Bang Pandu menegurnya.


"Uusshh.. ini kenapa sih anak ayah.. kangen Mama ya?" kata Bang Rico sambil menenangkan Gazha.


"Woalah.. yang kangen Ayahnya ituu.." ledek Bang Pandu.


Bang Rico hanya menyunggingkan senyum berharap dirinya sedikit terhibur karena memang dirinya teramat sangat merindukan Asya. Ia meninggalkan Asya saat usia kandungan Asya dua bulan, dan kini Gazha sudah terlahir hingga usia lima bulan. Tepat tiga belas bulan dirinya 'menganggur' dan itu bukan perkara yang mudah untuk di lalui. Jangankan untuk mencuri waktu, berdekatan dengan Asya atau meminta 'jatah' saja dirinya tidak berani. Ingatan saat Asya sangat kesakitan membuatnya mengurungkan niatnya untuk memulai lagi.


"Si Abang kenapa Yah?" tanya Asya.


"Cari bunda nih. Haus..!!" jawab Bang Rico kurang bersemangat.


Asya menyadari mungkin saja Bang Rico sedang banyak pikiran. Wajah suaminya itu terlihat kusut dan tidak bertenaga.


"Bunda bawa Abang ke ruangan Ayah ya?" tanya Asya.


"Iya.. tutup rapat pintunya kalau mau kasih ASI" pesan Bang Rico.


~"~"~


"Apaa?? Kamu mau melamar Fasya?? Anaknya Om Wira???" tanya Ayah Bayu tidak percaya pendengarannya.


"Iya yah"


"Bagaimana cara pikirmu itu Pan?? Fasya masih sekolah, tahun ini saja baru lulus sekolah, itu juga karena prestasinya yang bagus dia bisa dua tahun lulus sekolah" kata Ayah Bayu.


"Kalau Ayah nggak mau lamarkan ya nggak apa-apa. Saya bawa Fasya kawin lari.. hamil.. selesai urusan" jawab Bang Bayu setengah mengancam.


"Selesai gundhulmu iku..!!" kepala Ayah Bayu rasanya mau pecah memikirkan permintaan sang putra.


"Aku sudah kebelet yah?"


"Kebelet apa????? Aduuuhh.. otakmu itu harus di kucek.. kebayakan main perempuan jadi sableng begini kamu Pandu" Ayah Bayu sampai mencak-mencak tak karuan mendengar permintaan putranya.


"Masa harus di jelaskan Yah, ayolah.. sebelum anak buah bertingkah..!!" Bang Pandu menunjukan kode nakal khas pria di depan Papanya.

__ADS_1


"Ngawur kamu Pandu..!!!!!! Ya Allah.. kepalaku mau pecah" Ayah Bayu sudah pusing dengan tingkah Bang Pandu.


"Cepat kamu siapkan buat temu orang tua dulu. Kalau Om Wira siap.. baru Ayah lamarkan Fasya buat kamu..!!"


-_-_-_-_-


Papa Wira mondar-mandir di ruang tamunya, sedangkan Mama Dinda asyik menggendong Gazha dan terlihat lebih tenang.


"Apa maksud Bang Bayu pertemuan antar orang tua untuk Pandu dan Fasya?? Apa ini artinya Bang Bayu mau 'meminta' Fasya??" gumam Papa Wira.


"Saya rasa begitu Pa"


"Apa selama ini Pandu dan Fasya ada hubungan? Setau Papa.. mereka biasa saja" tanya Papa Wira.


"Ini usaha ta'aruf Bang Pandu untuk menikahi Fasya Pa" jawab jujur Bang Rico.


"Menikah??????????" Papa Wira sampai melotot saking kagetnya.


"Apa si Pandu itu nggak waras??? Umur berapa putriku sampai dia berani melamarnya?"


Baru selesai bicara, Papa Wira melihat Fasya menunduk tanpa bicara. Tangannya saling berkait, tapi kemudian terlihat setitik air mata membasahi tangan Fasya. Papa Wira memijat pangkal hidungnya kemudian duduk di hadapan Fasya.


Fasya masih tetap menunduk.


"Lihat mata Papa Fasya..!!!!!" perintah Papa Wira lagi.


"Kamu suka Bang Pandu?" tanya Papa Wira.


Tangis Fasya semakin terisak sampai akhirnya mobil Bang Pandu tiba.


"Assalamualaikum..!!" sapa Ayah Bayu.


"Wa'alaikumsalam.." Papa Wira berdiri dan menyambut tamunya.


~


Setelah berbasa-basi mengenang masa lalu, Ayah Bayu mengutarakan maksud hatinya.


"Sebenarnya kedatangan kami kesini adalah untuk........."

__ADS_1


"Menikah dengan Fasya" sambar Bang Pandu tak sabar lagi.


Ayah Bayu menyenggol kaki Bang Pandu.


"Diam kamu Pandu..!!!!" bisik Ayah Bayu penuh penekanan.


"Benarkah itu Bang.. apakah secepat itu?" tanya Papa Wira cemas dan memastikan kembali.


"Saya serius Dan. Ingin menikahi Fasya. Kalau boleh sekarang.. pasti saya lakukan. Saya tidak main-main" jawab Bang Pandu.


"Allahu Akbar.. Panduuu..!!!!! Kamu urus sendiri saja lah kalau terburu begini." Ayah Bayu jadi geram melihat kelakuan putranya yang terkadang memang nyeleneh.


Mau tidak mau akhirnya Bang Pandu bungkam dan kembali dengan sikap wibawanya.


"Saya tidak bisa menjawabnya Bang, karena yang akan menikah bukan saya." jawab Papa Wira kemudian menoleh dan kembali menatap sang putri.


"Jika memang Pandu bisa membuat putri saya bahagia dan tidak menangis lagi. Saya ikhlas melepaskan putri saya apapun resikonya. Tidak ada seorang ayah yang ingin melihat putrinya menangis."


Seketika Fasya memeluk Papa Wira dengan erat. Tangisnya pecah dalam pelukan sang Papa.


"Putri-putri Papa semuanya berharga. Asya dan Fasya.. semua kesayangan Papa."


Akhirnya Asya tak kuat, ia pun ikut memeluk Papa Wira.


"Kalian berdua memang beda ibu, tapi kalian berdua adalah darah Papa.. dan Papa sangat menyayangi kalian tanpa beda." ucap Papa Wira kemudian mengecup kening Asya dan Fasya secara bergantian.


"Papa mengenal Rico.. juga mengenal siapa Pandu. Papa berani melepaskan Asya karena percaya Rico mampu membimbing Asya. Sekarang.. Jika Fasya merasa bahagia bersama Pandu.. Papa bisa apa? Di akhir usia Papa tentu Papa ingin melihat senyum semua putra putri Papa."


Ayah Bayu terdiam sejenak melihat kesedihan di mata Papa Wira.


"Jadi bagaimana..??"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2