Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
24. Sayang kamu.


__ADS_3

"Abaang.. Asya nggak lumpuh Abang" pekik Asya karena Bang Rico tak membiarkan Asya berjalan.


"Licin dek.. Nanti kamu terpeleset, bahaya..!!" nada suara Bang Rico sedikit keras.


Asya langsung terdiam. Wajahnya pun mendung. Bang Rico melirik dan merasa sangat bersalah. Baru siang ini ia merasakan Asya tak segalak dan sebar-bar biasanya. Istrinya itu jauh lebih kalem.


"Maaf, Abang hanya nggak mau kamu sama dedek ada apa-apa. Perut belum besar saja hati Abang sudah ngeri begini"


Asya memalingkan wajahnya merasa sangat kecewa.


"Asya minta apa dek? Abang minta maaf"


"Adek.. ayah nakal marahi mama..!!" ucap Asya mengadu sambil mengusap perutnya.


"Laahh.. belum apa-apa Mama sudah curhat. Nanti anak kita baperan gimana?" tegur Bang Rico sambil merebahkan Asya di tempat tidur.


"Mamanya kalem, cengeng begini. Anak ayah pasti perempuan" tebak Bang Rico.


Asya langsung memiringkan badan, agaknya ia masih kesal karena Bang Rico bernada keras padanya.


"Jangan menebaknya sembarangan. Ini anak Asya"


"Anak Abang juga donk..!!" protes Bang Rico.


"Ini anak kandung Asya" jawab Asya.


"Kamu pikir dia itu ada dari siapa??" tanya Bang Rico.


"Dari Tuhan lah"


"Eh..iya.. Benar juga." Bang Rico menggaruk kepalanya merasa kalah.


"Tapi tetap Abang cipratin dikit-dikit lah Neng. Kita patungan buatnya"


"Ini anak Asya"


"Yawes terserah mu lah" gumam Bang Rico menghindari perdebatan dengan Asya.


"Mungkin anakmu itu ajak main sulap."


...


"Asya sakit lagi Ric?" tanya Bang Winata usai


"Lagi isi Bang" jawab Bang Rico sumringah.


"Waahh.. Ono-ono wae. Ternyata si kecil nge prank Papanya" kata Bang Winata.


"Akhirnya goal juga Ric. Selamat ya..!!" Bang Yudha menepuk pundak Bang Rico.

__ADS_1


"Terima kasih Bang. Minta do'anya mudah-mudahan kehamilan Asya lancar sampai waktunya melahirkan nanti" jawab Bang Rico.


"Aamiin.." jawab Bang Yudha dan Bang Winata bersamaan.


"Setelah kelulusan ini, Asya sudah bisa berkumpul sama istri anggota lain khan? Bukannya kamu sudah naikan status Asya kemarin" tanya Bang Winata.


"Iya Bang, Danyon juga mintanya Asya segera perkenalan anggota baru sambil menunggu ijazah keluar." kata Bang Rico.


"Usia Asya kamu naikan jadi sembilan belas tahun Ric?"


"Mau bagaimana lagi Bang. Itu saja untung-untungan surat nikahku jadi. Kalau nggak, aku juga bisa kena tindak karena menikahi anak di bawah umur. Lagipula besok usianya sudah tidak tujuh belas lagi Bang" jawab Bang Rico.


"Tapi Dan Wira mengijinkan putrinya, berarti Dan Wira juga bisa kena pasal" Bang Winata ikut cemas.


"Saat itu terus terang sudah ada pembicaraan tentang hal ini Bang"


flashback on..


"Saya menyadari keegoisan saya, saya juga paham akibat dari tindakan ini." kata Dan Wira.


"Siap Dan"


"Saat kamu menikah dengan Asya, kamu boleh melakukan apapun pada istrimu sesuai dengan kepercayaan kita. Saya percaya kamu bisa mengarahkan rumah tanggamu dengan baik" ucap Dan Wira terdengar pasrah.


"Dia putri saya yang paling banyak menanggung penderitaan yang tidak sengaja saya bebankan"


"Saya akan berusaha menjadi sandaran bagi Asya bagaimana pun keadaannya" janji Bang Rico saat itu"


"Kamu siap?"


"Insya Allah saya siap lahir batin" jawab Bang Rico.


"Ya sudah, sekarang saja..!! Sementara Asya tau ini pertunangan, tapi dia juga tidak menolak jika saya menjodohkan dan menikahkan dengan pilihan saya" kata Dan Wira.


flashback off...


"Saya dan Papa mertua sudah tau resikonya dan kami sudah berusaha mencari titik tengah." jawab Bang Rico.


Tak lama ponsel Bang Rico berdering, ada panggilan telepon masuk dari '❤️Sayangnya Abang Rico❤️'.


"Kenapa dek?" Bang Rico langsung menanggapi Asya.


"Abang.. badan Asya sakit"


"Iyaa.. ini Abang jalan pulang ya..!!" rasanya sekarang Bang Rico tidak sanggup menolak apa yang Asya minta.


...


Bang Rico tak hentinya memperhatikan Asya. Tak tega rasanya melihat Asya terus lemas tanpa tenaga apalagi besok masih ada ujian akhir.

__ADS_1


"Besok Abang ijin untuk temani kamu di sekolah ya"


"Nggak usah Bang. Ujian hanya sebentar. Besok Asya langsung pulang."


"Kamu lemas sekali dek. Abang takut kamu pingsan lagi." kata Bang Rico sambil terus memijati badan Asya.


"Bang.. apa Abang nggak malu punya anak dari Asya? Anak sekolah yang nggak punya title apa-apa sedangkan Abang adalah pria berpangkat" tanya Asya.


"Kenapa harus malu? Di mata Allah semua manusia sama. Apalah gunanya pangkat dan derajat. Abang hanya ingin hidup tenang dengan wanita pilihan Abang, ibunya anak-anak Abang" jawab Bang Rico.


"Kelak Abang akan menyesal. Asya belum dewasa, masih suka terbawa arus pergaulan dan...."


"Abang sudah tau. Nggak apa-apa" Bang Rico masih melanjutkan memijati Asya.


"Aa_bang tau Asya pakai obat itu?" tanya Asya takut, ia benar-benar memperjelas telinganya karena selama ini tidak percaya Bang Rico sudah mengetahui semuanya.


"Iya, mulai sekarang.. hentikan semua..!! Kasihan anak kita" pinta Bang Rico dengan tidak tega.


"Tapi.. tanpa obat itu Asya nggak kuat Bang. Sulit lepas dari obat itu"


"Ada Abang dek.. Abang nggak akan pernah tinggalin kamu. Ada istri yang harus Abang selamatkan, ada anak yang harus pertahankan" jawab Bang Rico.


"Lepaskan kebiasaan itu, demi anak kita. Abang mohon dek..!!"


***


Tidak sedikit pun Bang Rico meninggalkan Asya. Ia menunggu Asya di sekolah dengan alasan rindu dengan para guru yang ada disana.


"Sebenarnya Pak Rico Rindu dengan siapa?" sapa Bu Ani kemudian duduk di samping Bang Rico.


"Rindu dengan dia yang tercantik di mata saya dan menjadi segalanya dalam hati saya" jawab Bang Rico sambil terus memperhatikan Asya yang sedang mengerjakan ujiannya.


Bu Ani tersipu malu mendengar ucapan Bang Rico.


"Sejak kapan bapak menaruh hati pada saya?" tanya Bu Ani.


Bang Rico tersentak kaget mendengar pertanyaan Bu Ani.


"Maksud ibu?"


"Bukannya selama ini bapak suka sama saya?"


Bang Rico tercengang bingung.


Mati aku. Aku bisa di hajar Asya kalau begini caranya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2