Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
69. Latar belakang keluarga.


__ADS_3

Fasya tertawa terkikik melihat Bang Pandu naik di atas pohon mengusir kambing yang terus menyerangnya dengan tanduk.


"Malu sama 'laki' nya Bang." ucap Fasya tak hentinya tertawa.


Ya Allah.. ademnya hati Abang lihat senyum mu itu Neng. Kalau memang harus begini caranya biar kamu bisa tertawa.. Abang rela dah di tanduk lima kambing juga.


"Bahagia sekali ya???" kata Bang Pandu.


"Bilang sama ibu donk, minta kandangin kambingnya..!! Abang geli sama bulunya" kata Bang Pandu beralasan.


Fasya pun menyingkirkan kambing itu tanpa bantuan ibu dan Bang Pandu bisa turun dengan sempurna.


"Hwaaaa..." tanpa sengaja kaki Bang Pandu salah menginjak dahan hingga merosot jatuh menimpa Fasya.


"Abaaaaang..!!!!"


buuugghhh...


Bang Pandu jatuh tepat menimpa tubuh Fasya. Bibir Bang Pandu tak sengaja mengecup bibir manis Fasya. Karena tempat itu berbukit, Bang Pandu dan Fasya terperosok menggelinding jatuh ke bawah.


Bang Pandu yang sadar mereka sedang dalam bahaya segera mengapit Fasya dan melindungi kepala gadis itu dari banyaknya ranting, batang pohon dan kayu di sana hingga mereka berhenti dan tersangkut di batang pohon nangka.


"Allahu Akbar.. patah juga ini punggung" Bang Pandu memercing merasakan sakit tapi dirinya masih mendekap erat Fasya.


"Bang.. sudah..!!" kata Fasya yang tidak kuat mendorong tubuh Bang Pandu. Dirinya terasa hilang dalam pelukan Bang Pandu.


"Iya.. Sabar..!!" Bang Pandu mencoba bangkit tapi ia merasa tidak sanggup mengangkat tubuhnya.


"Sabar sebentar ya dek. Punggung Abang sakit sekali. Kamu jangan bergerak sedikitpun. Tetap diam begitu..!!" ucapnya.


"Abang mau curi kesempatan ya??" tanya Fasya karena posisi Bang Pandu saat begitu tidak tepat.


"Makanya kamu jangan gerak. Kelinci kecil di sarang harimau.. meskipun harimau itu patah tulang, dia tetap bisa menerkam tubuhmu. Jangan membuat Abang tidak baik-baik saja. Kamu paham khan?" jawab Bang Pandu.


Fasya memilih diam dan tidak bergerak tapi tiba-tiba ada bunglon melompat di bahu Bang Pandu. Fasya sangat takut tapi ia mencoba untuk diam. Lama kelamaan bunglon itu menatap matanya dan Fasya sedikit menggeliat takut.


"Jangan gerak..!!" peringatan pertama dari Bang Pandu.


"Jangan gerak lagi dek..!!" peringatan kedua dari Bang Pandu, isi kepalanya sudah berkelana karena Fasya tidak bisa diam.


"Ada bunglon Bang..!!" bisik Fasya takut.


"Tutup mata dan diamlah. Yang menindihmu ini buaya..!!!!" ucap gemas Bang Pandu. Sebelah tangannya meraih sesuatu, sedang tangan yang satu lagi menghalangi sesuatu.


"Fasya takuut.." ucapnya semakin membuat bulu kuduk Bang Pandu meremang. Nalurinya terangkat tinggi.


"Kamu ini perkara berat dek..!!" nafas Bang Pandu kian berat, suara d*****n kecil terlepas dari bibirnya yang tergigit kecil.


Ya Allah.. tolonglah aku bagaimanapun caranya. Aku tidak tega, tapi juga tak sanggup mengendalikan rasa dan isi hatiku. Selamatkan gadis ini dari pikiran jahatku.


Bang Pandu menyerusuk sela leher Fasya. Ia melempar jauh ular cobra yang sempat melintas di atas kepala Fasya.

__ADS_1


"Abaang.. jangan..!!" pinta Fasya lirih.


Tak berapa lama, sebuah nangka berukuran sedang.. jatuh menimpa kepala Bang Pandu.


buugghhh..


Seketika itu juga Bang Pandu tak sadarkan diri.


"Fasyaaaa..!!!!!!" terdengar suara Bang Rico mencari Fasya.


"Abang.. Fasya di bawah sini..!!" teriak Fasya disana.


:


Bang Rico sudah berkacak pinggang. Sebenarnya ia sudah ingin marah besar karena Bang Pandu membawa Fasya pergi sejauh ini. Tapi kali ini situasi nya tidak tepat. Ada ibu Bang Acep disana dan Bang Pandu juga sedang terluka.


"Bagaimana anak saya ini Pak?" tanya Ibu pada Bang Rico.


Bang Rico menurunkan tangannya.


"Nggak apa-apa Bu. Tenang saja..!!"


"Maaf.. anak saya si Acep ini memang suka merepotkan.. tapi dia anak yang baik. Sekarang ada yang mau jadi istrinya. Saya bangga sekali pak" kata ibu Bang Acep.


"Sungkem Cep sama ibumu..!!" kata Bang Rico.


Bang Pandu yang baru saja sadar seketika itu langsung melotot karena Bang Rico yang notabene adalah juniornya sudah berani mengerjainya. Mau tidak mau Bang Pandu langsung bangun dan sungkem pada 'sang Ibu'.


Setelah menyelesaikan masalah 'Acep', Bang Rico dan beberapa anggota lain kembali. Mereka sudah menyelesaikan surat kematian Bang Acep dan melaporkan ke pihak terkait.. tapi demi keamanan.. Bang Rico pun mengurus segalanya agar ibu Acep nyaman berada di kampung halaman.


"Nanti biar Abang saja yang lanjutkan soal ibunya Acep..!!" kata Bang Pandu sambil meringis merasakan sakit. Tertimpa nangka bukan hal sepele juga.


"Ibu Acep khan mertuanya Fasya.. jadi beliau keluarga saya Bang."


"Abang tau.. tau beliau selalu menyebut Abang itu Acep, Abang jadi nggak tega. Biar Abang bantu ibu juga. Sayang juga tidak harus berkeluarga" kata Bang Pandu.


"Seluruh uang Bang Acep sudah Fasya serahkan sama ibu. Sementara.. urusan belanja ibu sudah aman" Fasya menunduk mengingat sang ibu mertua yang begitu sayang padanya.


-_-_-_-


"Mana Rico?" tanya seorang ibu membawa seorang gadis muda di belakangnya.


"Mohon maaf, ini dengan ibu siapa ya? Abang masih ada urusan." jawab Asya.


Wanita itu tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah dan menabrak lengan Asya.


"Istri macam apa kamu tidak tau siapa ibu dari suaminya" kata Ibu Diana yang langsung duduk di sofa.


"Ambil minum untuk saya dan Selena..!!" perintah Bu Diana.


Asya menurut karena tidak ingin ribut dengan ibu mertua nya.

__ADS_1


~


"Ciiihh.. asam sekali..!!"


Selena pun ikut meludah di lantai.


"Iya Ma.. asam sekali"


"Saya capek.. pijat kaki saya..!!!!!!" kata Bu Diana.


Asya berjongkok perlahan. Dua minggu pasca persalinan memang luka itu sudah kering. Tapi persalinan Asya yang tidak mudah.. membuatnya belum pulih begitu saja.


Tiba-tiba ada tangan yang menarik Asya.


"Ini Abang belikan lontong sayur, cepat makan di belakang..!!" Bang Rico menyerahkan kantong plastik berisi lontong sayur kemudian mengecup kening Asya.


"Kamu hanya perlu dengarkan kata Abang. Tidak perlu dengarkan kata yang lain..!!" Bang Rico sedikit mengacak rambut Asya kemudian mengarahkan agar segera ke belakang.


"Rico.. langsung saja. Mama ingin kamu menikahi Selena juga"


Bang Rico mengambil beberapa lembar tissue kemudian menjatuhkan di lantai lalu membersihkan dengan kaki kekacauan yang Mama Diana dan Selena buat.


"Kamu dengar nggak Rico????"


"Apa aku harus menuruti ide tidak waras seperti itu?" jawab Bang Rico.


"Apa salahnya. Istri Papamu saja ada empat. Yang penting kamu kasih istrimu uang belanja. Laki-laki tidak perlu main hati." kata Mama Diana.


"Kamu lihat ini..!! Selena ini cantik dan sexy.. apa tidak sesuai seleramu?? Daripada kamu lihat wanita berdaster di rumah. Apa kamu tidak pusing lihat wanita tidak bisa merawat diri"


Bang Rico tersenyum sinis.


"Sudah selesai promosinya??" tanya Bang Rico.


"Disana pintu keluarnya..!!!"


"Ricooo..!!!!!!!!!!!!!!" bentak Mama Diana.


Terdengar suara tangis bayi Bang Rico menangis. Bang Rico pun segera masuk ke dalam kamar untuk menggendong putranya.


"Uusshh.. kaget ya nak. Maaf ya nak..!! Sini Ayah gendong"


"Kamu nggak usah munafik Rico"


"Mata saya memang senang melihat yang indah. Saya pria yang normal.. tapi maaf.. istri saya sudah punya semuanya. Lebih baik Mama tawarkan dia di club malam. Karena saya nggak selera" jawab Bang Rico kemudian menunjuk pintu dengan bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2