Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
95. Kota M 1996.


__ADS_3

Bang Rico begitu memanjakan Asya dan menuruti keinginan sang istri. Tapi Asya mulai lelah dan tidak lagi sanggup berjalan.


"Sudah ya, besok jalan-jalan lagi. Kamu sudah capek sekali dek" Bang Rico mendekap Asya, istrinya itu sudah mulai terhuyung. Badan Asya semakin kurus, mungkin selama ini banyak beban pikiran yang Asya rasakan.


"Asya nggak mau pulang. Nggak mau lihat Asrama" tolak Asya.


Kini Bang Rico tau, Asya sangat trauma dengan perlakuan para tetangga yang kurang manusiawi, satu cerita bisa di tambahi dan bumbui hingga jadi berita viral di kalangan ibu-ibu. Memang harus di sadari hidup di lingkungan Asrama tidaklah mudah.


"Sayang.. mau tidur di hotel sekalipun kalau kamu masih berpikir yang tidak-tidak, hatimu tetap tidak akan nyaman. Kamu nggak akan bisa hidup normal kalau hatimu tidak tenang" Bang Rico sebisa mungkin membuat pikiran Asya teralihkan tapi ia menyadari sifat wanita tidak mudah untuk menerima segala hal begitu saja karena sifat wanita memang sangat perasa.


"Asya nggak mau pulang" tiba-tiba suara itu menjadi tangisan dan Bang Rico sungguh tidak tega mendengarnya.


"Kita pulang dulu. Besok Abang selesaikan masalah ini. Abang janji tidak akan ada suara sumbang lagi yang sampai ke telinga mu" janji Bang Rico.


***


Sore hari ini ada pertemuan gabungan. Bahkan Fasya sudah ikut di hadirkan karena Danyon sudah mengijinkan dan Bang Pandu sudah memiliki bukti pernikahan mereka.


Masih banyak ibu-ibu yang berbisik dan bersimpati dengan istri Om Sobri. Banyak dukungan yang di dapatkan karena wajah putra Om Sobri sangat mirip dengan Lettu Rico.


Asya menguatkan dirinya meskipun hati sudah tidak sanggup merasakan apapun lagi. Hanya sakit tak tertahan ia rasakan.


"Bang.. Asya nggak kuat berhadapan dengan mereka" kata Asya, wajahnya sudah pucat dan sendu membawa perut sudah berusia empat bulan.

__ADS_1


"Kamu harus kuat dan jangan menyerah. Kalau kamu tidak mau hadir berarti kamu membenarkan tuduhan mereka. Kamu mau bukti apa dari Abang?? Test DNA atau apa? Abang juga ingin masalah ini cepat selesai. Kasihan juga anak Abang di perutmu" jawab Bang Rico hampir terbawa emosi karena Asya mulai melemah.


"Abang sudah ingatkan kamu berkali-kali. Sesuatu yang menjadi milikmu, harus kamu pertahankan."


...


Asya tersenyum di hadapan semua orang. Disana banyak yang mencibir juga banyak yang membela. Cibiran lebih tertuju pada Bang Rico yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas anak hubungan mereka dahulu sampai Om Sobri harus menanggung segala masalah yang terjadi. Mereka juga mengira Asya adalah wanita yang tamak dan egois karena tidak membiarkan putra Ratri mendapat pengakuan dan biaya hidup.


Seorang teman dekat Ratri di asrama bahkan berani terang-terangan menyindir Asya dan tak memandang status Asya sebagai istri Lettu Rico karena usia Asya masih begitu muda.


"Maklum lah Bu Sobri.. repot juga kita bicara sama anak kecil. Apalagi kalau urusannya sama uang. Lagipula suaminya pun pasti bertekuk lutut, daun muda memang menggoda"


Astagfirullah hal adzim istriku. Mudah-mudahan kamu kuat dek, pantas kamu sampai seperti ini. Tekanan dalam dirimu sungguh berat. Maafkan Abang karena baru menyadari masalah ini sekarang. Kamu hebat sayang, kamu benar-benar kuat.


Kemudian mata Bang Rico menyisir satu persatu wajah seluruh warga asrama yang sedang berada disana. Wajah Bang Rico sudah menunjukan kalau ia tidak bisa menerima semua ini. Ia menatap Danyon dan pimpinan nya itu memberinya ijin.


Bang Rico berjalan mengambil microphone yang berada tak jauh darinya.


"Selamat sore. Mohon ijin Danyon, Wadanyon, senior, dan rekan-rekan yang saya hormati.. saya meminta waktunya sebentar." kata Bang Rico membuka suara sembari mendekap Asya yang sepertinya sudah tidak kuat lagi.


"Saya disini.. ingin meluruskan berita simpang siur yang terjadi di antara keluarga saya dan keluarga Sertu Sobri."


Wajah Ratri mendadak memucat, ia sama sekali tidak mengira Bang Rico akan mengangkat masalah ini di hadapan para anggota lain, begitu pun Om Sobri yang malu setengah mati karena ulah sang istri.

__ADS_1


"Sebenarnya saya tidak mau ada akhir seperti ini. Saat ini saya berdiri tidak membawa pangkat, harkat dan derajat" Bang Rico melepas seragam luarnya.


"Saya menegur Pak Sobri dan ibu Ratri sebagai seorang suami, juga bagi yang sudah menyebar fitnah tanpa tau yang terjadi di antara kami. Saya tegaskan.. tidak ada suami yang rela istrinya di perlakukan buruk."


Para istri yang terlibat dalam kekacauan seketika terdiam tanpa kata. Suami mereka pun juga sudah menatapnya penuh kecewa.


"Saya akui.. sebelum menikah dengan istri saya ini, saya pernah mengenal Bu Sobri tapi kami sudah tidak melakukan kontak lagi dan baru bertemu kembali saat Bu Sobri mencari saya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Pak Sobri dan asal ibu-ibu semua ketahui.. Ibu Sobri sudah mengandung saat bertemu saya" ucap Bang Rico dengan jelas dan lantang.


"Maaf Pak Sobri, saya sudah mencoba menyimpan aib ini dengan rapat. Tapi saya juga punya tanggung jawab untuk melindungi keluarga saya juga perasaan istri saya. Saya meminta anda mengklarifikasi agar tidak ada lagi berita tidak baik yang istri saya terima. Semuda apapun istri saya.. beliau tetap istri Lettu Enrico Jordan Bana. Tolong jaga tutur kata dan sikap..!!"


"Anda gila pangkat Pak Rico?" tanya Ratri sudah emosi.


"Apa anda sebegitu inginnya menyandang status sebagai Nyonya Rico sampai anda harus merangkai cerita indah? Dalam struktur bermasyarakat.. saya dan anda sama-sama warga biasa, tapi dalam kedinasan.. saya tetap atasan suami anda Bu Ratri. Apa anda bisa memahami hal itu?" bentak Bang Rico sudah emosi.


Air mata Ratri meleleh, ia menatap mata Bang Rico kemudian beralih menatap Asya dengan tatapan mata penuh amarah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2