
Mau Nara buat tokohnya mati sekalipun.. itu hak Nara. Kalau tidak suka dengan alur ceritanya.. harap skip dan tidak perlu komentar yang membuat mood hilang. Seperti pembaca yang tidak ingin di komentari tentang hal yang tidak penting.. Nara pun juga begitu. Terima kasih..!!
🌹🌹🌹
"Asya jangan sampai tau Bang" kata Bang Rico di tengah kesadarannya yang kacau.
"Jangan tau bagaimana maksudmu. Asya pingsan saat lihat kamu tidak sadar" jawab Bang Winata.
"Tolong hubungi Asya Bang. Bilang saya nggak apa-apa" pinta Bang Rico.
"Abang lupa nggak bawa ponsel Ric. Sabar sebentar lah kalau kamu baik-baik saja.. kita pasti langsung pulang" bujuk Bang Winata.
...
Setelah kurang satu setengah jam berada di rumah sakit serta mendapatkan penanganan.. hasil laboratorium Bang Rico keluar.
"Kamu minum obat penambah stamina di tambah obat paru-paru yang Abang resepkan ya?" tanya senior Bang Rico.
"Siap.. tidak Bang"
"Kamu jangan bohong Rico.. kamu mau membodohi doktermu?????" tegur keras senior Bang Rico di rumah sakit.
"Siap..!!"
"Kamu jangan sembarangan konsumsi obat Ric. Ada indikasi paru-paru mu terluka, iga mu ada retakan.. itu bukan hal main-main" kata dokter lagi.
"Siap salah"
"Kamu nggak bilang apa-apa sama Abang Ric???" Bang Winata ikut menegur keras adiknya karena sudah menyembunyikan masalah besar.
"Maaf Bang, aku kira nggak akan begini hasilnya"
"Selain luka itu, kenapa kamu konsumsi obat berbahaya tanpa berpikir.. pikiranmu dimana Ric????? Asya syok sekali lihat keadaanmu" Bang Winata jadi emosi karena Asya tadi sangat kaget sampai sulit untuk di sadarkan.
"Tolong mengerti sedikit Bang. Aku juga ngeman-eman Asya. Kehilangan anak sampai membuat Asya kehilangan sebelah rahim.. kelahiran Gazha yang sungguh luar biasa membuat ketakutan dan tekanan kuat dalam batinku Bang." jawab Bang Rico.
"Benar-benar kamu bikin heboh Batalyon Ric"
"Oya Ric.. kamu butuh tau sesuatu" kata dokter.
__ADS_1
...
"Ya Allah Sya... kamu benar-benar buat kami cemas" kata Mbak Netta.
"Bang Rico bagaimana Mbak?" tanya Asya.
"Sudah baikan.. Bang Yudha baru hubungi Mbak" jawab Mbak Netta.
"Kata dokter.. Abang kenapa Mbak?" Asya masih saja mencemaskan Bang Rico.
"Ehm.. Bang Rico baik-baik saja. Tadi hanya salah minum obat. Ada obat yang tidak boleh saling bercampur" kata Mbak Netta.
"Obat apa ya Mbak? Abang nggak pernah minum sembarang obat" Asya bertanya-tanya karena memang tidak pernah melihat Bang Rico mengkonsumsi obat tertentu.
"Sudah nggak usah di pikirkan, yang penting semua sehat.. itu sudah lebih dari cukup"
Asya baru bisa tersenyum mendengar kata-kata Mbak Netta.
-_-_-_-_-
Asya pergi ke rumah sakit di temani Mama Dinda dan Papa Wira. Kedua orang tuanya baru bisa datang karena kesibukan yang padat.
"Abang bilang khan nggak usah datang. Besok pagi Abang sudah pulang. Sudah sehat" kata Bang Rico yang memang terlihat sudah jauh lebih baik.
"Obat yang dulu itu dek. Mungkin sudah kadaluarsa." jawab Bang Rico beralasan.
Asya menarik nafas. Ia tak habis pikir mengapa Bang Rico bisa seceroboh itu tanpa melihat tanggal kadaluarsa.
"Lain kali di baca dulu Ric. Kamu ini buat panik semua orang" kata Papa Wira.
Bang Rico hanya mengembangkan senyumnya.
"Iya Pa, lain kali saya pasti lebih hati-hati"
~"~"~
"Kamu masak apa?" tanya Bang Pandu masih belum bisa menghilangkan rasa gemasnya saat berdekatan dengan Fasya.
"Semur ayam Bang. Ini juga Adek nyontek" jawab Fasya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu mau belajar. Abang nggak pernah maksa istri untuk bisa masak. Kalau nggak bisa ya biar Abang saja yang masak" Bang Pandu mencium pipi Fasya. Sungguh ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu.
:
"Belum baikan tapi Rico pura-pura sehat karena mencemaskan Asya. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu seperti mencemaskan Rico??" tanya Bang Pandu.
"Nggak apa-apa Bang, hanya tanya aja. Bang Rico khan juga abangnya Adek" jawab Fasya.
Bang Pandu memeluk Fasya. Ada yang terasa janggal dalam hatinya tapi ia tidak bisa menebak apa yang ia rasakan saat ini.
"Oke.. maaf Abang terlalu berpikir yang tidak-tidak"
***
Bang Rico duduk bersandar di sofa rumahnya. Papa Wira pun menghampiri menantunya yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Ada apa Wir? Kamu terlihat berbeda sejak keluar dari rumah sakit" tanya Papa Wira.
"Nggak ada apa-apa Pa"
"Kamu harus bisa jujur Wira. Papa juga laki-laki.. paham bagaimana saat kita menyembunyikan masalah dari pasangan kita" kata Papa Wira.
Bang Rico menghela nafas panjang.
"Tubuh saya tidak seperti dulu pa. Saya ini suami yang rapuh" jawab Bang Rico dengan senyumnya yang terlihat begitu getir.
"Ada apa Ric?? Kamu jangan sampai terpuruk seperti ini. Ayo bangkit le..!!" bujuk Papa Wira.
"Saya hanya merasa tidak berguna Pa." Bang Rico memberikan surat keterangan dokter dan surat dari kantor pada Papa Wira dan Papa mertuanya itu membaca dengan teliti.
"Jangan patah arang.. Papa pasti bantu..!! Ayo semangat Ric" Papa Wira berusaha membangkitkan semangat menantunya.
"Yang kamu alami bukan penyakit. Jadi masih bisa di usahakan untuk kesembuhannya. Asalkan kamu optimis.. semua pasti akan baik-baik saja"
"Iya Pa"
.
.
__ADS_1
.
.