
Bang Pandu melepas jaketnya kemudian berbalik kembali dan menutup matanya. Ia memakaikan jaket itu untuk Fasya.
"Abang rela memohon maaf di pusara suamimu karena sudah lancang menyentuh istrinya. Abang juga minta maaf, Abang tidak berhati-hati"
Fasya menunduk.
"Kali ini Fasya maafkan Abang, tapi tidak jika terulang lagi"
"Abang janji"
***
Siang hari, Fasya sudah berada di Taman Makan Pahlawan karena ia ingin melepaskan sang suami untuk yang terakhir kalinya. Disana sesuai permintaan Bang Acep.. tidak ada sosok keluarga maupun ibunya mengingat ibu Bang Acep sudah sangat renta.
Fasya berusaha menahan air matanya. Tapi sesak tak bisa ia tepiskan begitu saja. Malam terakhir itu adalah kedekatan dirinya dengan Bang Acep untuk pertama kalinya, dan ciuman hangat itu masih begitu terasa dalam bayangnya.
Kaki Fasya gemetar dan ambruk di atas gundukan makam Bang Acep, ia memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Bang Pandu yang cemas, dengan sigap berdiri di samping Fasya dan siaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Abang yang tenang di sana ya. Fasya janji akan baik-baik saja disini" ucapnya sembari terisak sesak.
"Fasya kuat, Fasya pasti bisa dan akan menyelesaikan sekolah Fasya dengan baik. Fasya janji. Fasya sayang sama Abang" isakan tangis itu membuat Fasya sesak, ia tak sadarkan diri dan akhirnya Bang Pandu membawanya ke ambulans.
"Tolong donk, bagian kesehatan..!!" pinta Bang Pandu.
"Aceep.. Maafin Abang Cep..!!!" Bang Rico meremas dadanya dengan kuat, tak jauh di sana Bang Rico pun ikut tumbang di area pemakaman. Beratnya tekanan beban mental, kurang istirahat dan keadaan yang belum stabil membuat suami Asya itu drop.
"Halaah Ric, piye to.. di bilang jangan ikut ke makam" Bang Yudha dan Bang Winata pun mengangkat tubuh Bang Rico bersama beberapa anggota yang lain.
~
"Istrinya Acep gimana le?" tanya Dan Bayu.
"Belum sadar juga Yah" jawab Bang Pandu.
"Kasihan benar to kamu Ndhuk.." istri Dan Bayu menemani Fasya di dalam ambulans.
"Yah, apa Fasya akan baik-baik saja. Kenapa belum sadar juga?" tanya Bang Pandu terlihat cemas.
Dan Bayu melihat gelagat berbeda dari putranya, tak biasanya ia mencemaskan seseorang sampai wajahnya pucat pasi tapi Dan Bayu menepis perasaannya itu.
"Biasa lah, namanya syok baru kehilangan pasangan hidup. Pasti berat.. nanti waktu yang akan menyembuhkan semua."
Bang Pandu mengangguk.
__ADS_1
"Kasihan sekali kamu dek" ucap Bang Pandu.
Seketika Dan Bayu sebagai ayah dari Bang Pandu langsung melihat raut wajah sang putra. Ada gurat berbeda dari ucapnya walau yang tercetus dari bibir hanya ada kata kasihan. Dan Bayu menepuk bahu putranya.
"Hati-hati dengan rasa kasihan mu itu" kemudian Dan Bayu melangkah meninggalkan Bang Pandu yang masih terpaku di depan ambulans.
:
"Jaga emosimu Ric, kalau memang hatimu sudah tidak kuat.. buang semua, jangan di pendam. Kami semua ini Abangmu..!!" kata Bang Yudha.
Tak lama Bang Rico benar-benar menangis dan berteriak sekuatnya. Sungguh rasa bersalah itu begitu menyiksanya.
"Apa aku pantas bahagia di atas tangis Fasya? Aku berhutang nyawa dan saat ini aku masih bisa melihat Gazha.. sedangkan Fasya..!! Dia menangis sampai seperti itu.. aku tidak tega"
"Lalu apa kamu ingin melihat Asya yang menangis?? Apa kamu menjamin saat mendengar dirimu pulang nama.. Asya dan bayimu akan tetap hidup sampai saat ini?? Semua memang sedih Rico, tak ada yang ingin menghadapi rasanya kehilangan. Tapi jika tidak ada yang berkorban.. maka kita akan kehilangan dua." kata Bang Yudha.
Terlintas dalam ingatan Bang Rico saat Asya begitu syok melihat peti jenazah hingga putranya harus terlahir prematur. Batinnya kembali terguncang, ia pun ketakutan membayangkan terjadi sesuatu pada Asya.
"Jangan.. Aku harus cepat kembali Bang, Asya pasti cemas karena aku terlalu lama disini" Bang Rico pun bangkit tapi tubuhnya yang masih belum sehat kembali membuatnya lemas.
"Sabar Ric.. Asya sedang tidur sekarang. Kamu tidur saja dulu, paling tidak selama setengah jam" kata Bang Winata.
Tak ada yang bisa di lakukan Bang Rico selain menurut daripada ia harus kembali pingsan karena lemas.
-_-_-_-
"Ganteng khan sayang?? Mahakarya Abang yang luar biasa" kata Bang Rico saat menunjukan wajah baby Gazha dengan jelas pada Asya.
"Mirip Abang, hidungnya mancung" Asya melongok memperhatikan lagi wajah Gazha dengan seksama.
"Rambutnya juga kaku seperti Abang"
"Baguslah, biar nggak banyak habiskan pomade untuk buat jambul kesukaanmu" jawab Bang Rico sekenanya.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak pernah cerita sama Abang kalau anak kita laki-laki?"
"Biar jadi kejutan untuk Abang. Memangnya Abang nggak senang?" tanya Asya.
"Senang lah, senang banget malah.. Abang bangga donk bisa buat anak laki-laki" jawab Bang Rico. Terlihat sekali rona wajah bahagia Bang Rico.
"Sesenang itu kah Abang?" tanya Asya.
"Iya donk. Hidup Abang sudah lengkap dan bahagia dengan adanya kalian berdua"
__ADS_1
***
Bang Rico berjemur berdua bersama jagoan kecilnya usai satu minggu berada di rumah sakit. Ia masih mendapatkan cuti pemulihan.
"Fasya berangkat ya Bang" pamit Asya kemudian berpamitan pada Abang iparnya.
"Hati-hati kamu. Kalau masih nggak enak badan cepat hubungi Abang biar ajudan yang jemput..!!"
"Iya Bang" jawab Fasya tenang dan sekarang dirinya sudah bisa menjaga jarak, tingkah dan pandangannya.
"Ric.. Fasya biar berangkat sama Abang saja" entah sejak kapan Bang Pandu ada di sekitar rumahnya.
"Abang mau kemana?" tanya Bang Rico.
"Ini.. mau tambal ban mobil yang kempes di dekat sekolah Fasya" jawab Bang Pandu.
"Ban kempes Bang??" Bang Rico berjalan memutari mobil Bang Pandu. Tidak ada tanda satupun ban yang kempes, bahkan mobil itu bisa sampai ke depan rumahnya dengan baik.
"Ada yang mau Abang tambal. Di ijinkan nggak nih???" tanya Bang Pandu penuh penekanan. Ia memasang kacamata kemudian membenahi jambulnya. Aroma parfum maskulin Bang Pandu juga kental terasa hingga radius sepuluh meter ke dalam rumahnya.
"Ehmmmm... ampun dah garangan. Kalem Bang. Kalau soal begini Abang kudu les privat dulu sama saya" bisik Bang Rico yang mulai paham maksud Bang Pandu yang tidak ingin tertinggal kereta.
"Memangnya boleh Bang?" tanya Fasya pada Bang Rico.
"Dek.. tolong ambilkan kertas kerja, stempel sama bolpoint Abang..!!" teriak Bang Rico sambil menatap wajah Bang Pandu
Asya pun membawa barang yang di minta Bang Rico meskipun dengan jalan yang masih tertatih.
Disana Bang Rico menuliskan bahwa per tanggal tersebut.. Bang Pandu akan mengawal Fasya lengkap dengan stempel keluar masuk kesatrian.
"Demi keamanan bersama.. surat ini saya keluarkan. Di kantor saya memang junior Abang. Tapi disini saya tetap Abangnya Fasya. Jadi ada hal apapun.. Abang harus tetap ijin sama saya atau Abang akan berhadapan dengan saya" kata Bang Rico juga memberikan ketegasan penekanan.
"Siap..!!" jawab Bang Pandu.
"Telat pulang tanpa konfirmasi yang jelas.. Abang saya sidang tanpa ampun.." ancam Bang Rico lagi.
"Astaga.. iya Ric"
Asya pun hanya tersenyum geli kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
.
.
__ADS_1
.
.