
"Jihan mana pa?" tanya Bang Rico panik luar biasa.
"Lagi makan. Kamu kemana saja? Istrimu sampai kelaparan" jawab Papa Garin sambil mengusap wajahnya.
"Lapar? Jadi Jihan cuma lapar? Katanya perutnya sakit Pa??" tanya Bang Rico lagi.
"Iya sakit perut, tapi karena dia lapar. Bukan karena sakit. Dulu mamanya juga sering begitu" Papa Garin pun meninggalkan Bang Rico yang masih ternganga di depan pintu.
"Astagfirullah hal adzim.. ada-ada saja sih kamu dek" Bang Rico mengusap wajahnya untuk menenangkan diri.
"Apa bukan Jihan namanya kalau nggak bikin onar" gerutu Bang Rico.
Bang Rico melangkah menuju ruang makan, disana sudah ada Mama Esa, Papa Garin dan si kecil Gazha.
"Kenapa calon bidan bisa salah analisa. Bahaya kamu ini dek" tegur Bang Rico.
"Namanya juga manusia Bang, tempat salah dan khilaf. Memangnya Abang nggak pernah salah?" Jihan balik bertanya.
"Sering.. dan Abang selalu salah. Hanya kamu yang nggak pernah salah" jawab Bang Rico daripada perdebatan ini semakin sengit.
Jihan mengangguk mantap dan puas menyetujui ucapan Bang Rico.
//
"Allahu Akbar.. sakitnya nggak kira-kira dek" Bang Vian sampai keringat dingin merasakan bekas sayatan operasi yang nyerinya belum juga mereda.
"Kalau nggak kuat bangun, jangan bangun dulu Bang" kata Aira sekarang mulai cemas.
"Ya harus bangun. Biar ototnya kembali seperti semula. Kalau di biarkan saja ya semakin sakit dek" jawab Bang Vian.
"Hmm Bang.. itu.. selangnya mau di lepas dulu. Sudah waktunya di lepas" ucap Aira berwajah memerah malu-malu.
"Oohh.. begitu. Ya sudah.. lepas saja" Bang Vian tersenyum penuh kelicikan.
"Hari ini ada perawat laki-laki Bang" jawab Aira.
__ADS_1
Mendengar itu kini raut wajah Bang Vian yang berubah.
"Kamu saja yang melepasnya. Abang malas disentuh orang lain" Bang Vian terang-terangan menolak ucapan Aira.
"Kemarin khan situasinya beda Bang. Aira hanya anak magang. Kalau Aira salah.. Aira bisa buat Abang sakit karena salah prosedur" tolak Aira.
"Abang rela dan ikhlas lahir batin kamu sakiti. Abang nggak apa-apa dek. Cuma cabut aja kok, nggak usah secemas itu, ini khan nggak tusuk Abang lagi" jawab Bang Vian.
"Cepat tutup pintunya.. tarik gordennya..!!" pinta Bang Vian.
Bagai terhipnotis, Aira menuruti kata-kata Bang Vian. Ia segera mengunci pintu dan menarik gordennya.
Sebenarnya Bang Vian juga takut merasakan sakit, pasalnya saat memasang selang di tubuhnya memang terasa sangat sakit. Secepatnya Bang Vian menarik Aira ke dalam pelukannya.
"Lakukan sekarang..!! Satu kali cabut dan jangan di ulang" mata Bang Vian melihat wajah Aira yang kini amat sangat begitu dekat dengannya. Saking dekatnya.. jika wajah itu sedikit saja bangkit, pasti wajah itu sudah menyentuh wajah Aira.
Tangan Aira menuju bawah dan sedikit mengangkat sarung Bang Vian. Dengan satu kali gerak.. selang itu pun tercabut meskipun harus ia harus mendengar suara rintihan pelan.
"Nggak sakit khan Abang?" tanya Aira.
Perlahan tapi pasti, Aira mencoba mengecup bibir Bang Vian dan tentu saja pria itu langsung menyambutnya dengan senang hati.
"Naik sini..!!" Bang Vian menarik tangan Aira.
Aira yang polos pun hanya bisa menurut tanpa melawan.
Meskipun harus memercing kesakitan, Bang Vian mencoba sedikit memaksa badannya untuk melawan rasa sakitnya.
//
Baru saja Bang Rico mau menyuap makanan ke dalam mulutnya.. tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada panggilan telepon dari seseorang anggotanya.
"Ada apa?" tanya Bang Rico.
"Selamat malam.. ijin mengganggu waktunya. Ijin melapor Dan..!! Danton tidak sadarkan diri di kamar rawat. Kondisinya drop, jahitan terbuka, demam tinggi...dan........., ijin.. sampai sekarang belum sadar juga"
__ADS_1
"Lho.. kenapa bisa begitu? Ada yang jaga khan disana?? Siapa yang jaga?" tanya Bang Rico panik dan langsung berdiri mengambil kunci motor.
"Siap.. Ibu Aira"
"Halaaahh.. jaga apa patroli kowe Vian?? Gawe perkoro wae lah" gerutu lirih Bang Rico lalu mematikan sambungan teleponnya.
...
Bang Rico sedang berkonsultasi dengan dokter dan dokter menebar senyum geli.
"Pak Vian hanya sedikit memaksa untuk belajar bergerak. Mungkin maksudnya pengen cepat sembuh. Tapi malah tambah parah"
"Ada-ada saja. Apa tidak bisa menunggu paling tidak sebulan. Itu khan juga tidak lama" gumam Papa Sanca gemas.
"Kau sendiri apa bisa tahan San? Satu minggu saja rasanya kau sudah uring-uringan mau mati. Ini lagi harus tunggu satu bulan. Waras kau?" ledek Papa Garin.
"Ya tapi ini situasi nya beda. Vian khan sakit" jawab Papa Sanca.
"Jangan lupa.. kita ini sama saja kalau urusan yang satu itu. Betul nggak Ric??" tiba-tiba saja Papa Garin menanyai Bang Rico yang masih terpaku.
"Benar pa. Kalau sudah nggak tahan ya selesai semua. Hilang akal nggak bisa mikir jelas" jawab Bang Rico membuat Papa Sanca menarik nafas panjang.
Dokter pun pamit pergi dan meninggalkan semua pria disana.
Tak lama Aira keluar dari dalam kamar rawat Bang Vian dengan menunduk dan merasa sangat bersalah. Melihat itu, Papa Garin segera merangkulnya.
"Gadis Papa Garin yang pintar. Kamu hebat.. sudah melakukan tugasmu sebagai seorang istri dengan baik. Kamu nggak salah, yang salah Vian" ucapnya kemudian mendapat tatapan mata melotot dari Papa Sanca, bahkan Bang Rico sampai salah tingkah mendengar ucap Papa Garin yang terkesan ngawur dan tidak ada malunya sama sekali. Hanya Aira saja yang berwajah biasa saja dengan polosnya menganggap semua ini baik-baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1